Jangan Cepat Memarahi Anak yang Sering Lupa, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:16 WIB
Ilustrasi anak. (MAGNIFIC)
Ilustrasi anak. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Anak yang sering lupa membawa barang, mengerjakan tugas, atau menjalankan pesan orang tua tidak selalu sedang malas maupun sengaja mengabaikan.

Kemampuan anak dalam mempertahankan perhatian dan mengingat informasi masih berkembang, sehingga beberapa faktor dapat membuat mereka lebih mudah lupa.

Salah satunya berkaitan dengan memori kerja, yaitu kemampuan untuk menyimpan dan menggunakan informasi dalam waktu singkat. Kemampuan tersebut dibutuhkan ketika anak harus mengingat instruksi, mengikuti beberapa tahapan pekerjaan, atau menyelesaikan tugas.

Baca Juga: Anak Usia Sekolah Punya Perilaku Ini? Bisa Jadi Ada Pola Asuh Lama yang Tanpa Sadar Masih Diteruskan

Karena itu, kebiasaan memarahi anak setiap kali lupa belum tentu menyelesaikan masalah. Orang tua justru perlu melihat kondisi yang melatarbelakangi perilaku tersebut.

Terlalu Banyak Instruksi Bisa Membuat Anak Lupa

Salah satu situasi yang sering terjadi adalah ketika anak menerima banyak instruksi sekaligus.

Misalnya, orang tua meminta anak mandi, merapikan kamar, memasukkan buku ke dalam tas, kemudian bersiap berangkat sekolah. Rangkaian perintah tersebut mungkin terasa sederhana bagi orang dewasa, tetapi anak dapat mengalami kesulitan mempertahankan seluruh informasi dalam ingatannya.

Memberikan instruksi secara bertahap dapat membantu anak memahami apa yang harus dilakukan. Orang tua juga dapat meminta anak mengulangi kembali instruksi untuk memastikan informasi telah diterima dengan baik.

Baca Juga: 7 Pentingnya Waktu Bermain bagi Tumbuh Kembang Anak

Kurang Tidur Dapat Mengganggu Konsentrasi

Pola tidur juga perlu diperhatikan ketika anak terlihat lebih sering lupa.

Kurang tidur atau jadwal tidur yang tidak teratur dapat membuat anak lebih sulit mempertahankan perhatian. Kondisi tersebut kemudian dapat terlihat seperti anak tidak mendengarkan atau mudah melupakan sesuatu.

Orang tua dapat mengevaluasi rutinitas harian anak, termasuk waktu tidur, aktivitas sekolah, bermain, serta penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur.

Lingkungan yang Ramai Bisa Mengalihkan Perhatian

Kemampuan mengingat juga berkaitan dengan perhatian. Anak yang sedang bermain, menonton televisi, atau menggunakan perangkat elektronik mungkin tidak sepenuhnya memproses instruksi yang diberikan kepadanya.

Akibatnya, anak bisa saja mendengar perkataan orang tua tetapi tidak menyimpan informasi tersebut dengan baik.

Untuk mengurangi gangguan, orang tua dapat memanggil anak terlebih dahulu, memastikan perhatiannya tertuju pada pembicaraan, lalu menyampaikan instruksi secara singkat.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Pola Asuh Anak yang Bisa Merusak Kepercayaan Diri, Orang Tua Perlu Waspada

Lupa Sesekali Belum Tentu Menjadi Masalah

Anak lupa membawa pensil, meninggalkan botol minum, atau lupa melakukan salah satu tugas tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan tertentu.

Lupa sesekali dapat terjadi dalam aktivitas sehari-hari. Yang perlu diperhatikan adalah pola dan dampaknya. Jika kesulitan memperhatikan atau mengingat berlangsung terus-menerus, muncul dalam berbagai situasi, dan mulai mengganggu aktivitas sekolah maupun kehidupan sehari-hari, orang tua dapat mendiskusikannya dengan guru atau tenaga profesional.

Jangan Memberi Label pada Anak

Respons orang tua juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kebiasaan lupa.

Menyebut anak sebagai “pelupa”, “malas”, atau “tidak pernah mendengarkan” dapat membuat pembicaraan berhenti pada label, bukan mencari penyebab dan solusi.

Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan yang membuatnya lebih mudah mengingat. Misalnya, membuat daftar perlengkapan sekolah, menggunakan pengingat visual, atau membiasakan anak memeriksa kembali barang sebelum meninggalkan rumah.

Baca Juga: Anak Sering Bertanya Banyak Hal, Apakah Itu Tanda Jenius? Begini Jawaban Psikologi

Dengan cara tersebut, anak tidak hanya dituntut untuk selalu ingat, tetapi juga belajar menemukan strategi untuk mengatasi kelupaannya.

Pada akhirnya, menghadapi anak yang sering lupa membutuhkan lebih dari sekadar teguran. Orang tua perlu melihat apakah anak memang belum mampu mengelola banyak informasi, sedang kehilangan fokus, kurang beristirahat, atau menghadapi terlalu banyak gangguan.

Pendekatan tersebut membuat kebiasaan lupa tidak berhenti sebagai alasan untuk memarahi anak, tetapi menjadi kesempatan untuk melatih perhatian, tanggung jawab, dan kemandirian. (kam/bgs(

Editor : Hakam Alghivari
lupa anak Sering