Kamar Sering Berbau Apek? Cek 5 Sumber Bau yang Sering Tidak Disadari

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:19 WIB
Ilustrasi Kamar
Ilustrasi Kamar

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kamar tidur yang sudah dibersihkan belum tentu terbebas dari bau apek. Aroma lembap yang muncul berulang kali justru bisa menjadi tanda adanya sumber kelembapan, kain yang menyimpan bau, hingga pertumbuhan jamur di tempat yang tidak terlihat.

Bau apek juga tidak selalu berasal dari lantai atau tempat sampah. Sejumlah bagian kamar seperti kasur, karpet, lemari, dinding hingga sistem pendingin udara dapat menjadi tempat berkumpulnya kelembapan dan kontaminan.

Menurut Environmental Protection Agency (EPA), aroma apek atau musty smell dapat menjadi petunjuk adanya pertumbuhan jamur dan sebaiknya ditelusuri sumbernya. Jamur tumbuh ketika spora menemukan permukaan yang lembap, sehingga pengendalian kelembapan menjadi bagian penting untuk mencegah masalah tersebut.

Lantas, apa saja sumber bau apek yang sering tidak disadari?

1. Kasur dan Bantal yang Menyimpan Kelembapan

Kasur dan bantal digunakan selama berjam-jam setiap hari. Keringat, kelembapan tubuh, serta sisa-sisa kulit dapat membuat material tempat tidur menjadi tempat yang mudah menyimpan kelembapan jika tidak dirawat dengan baik.

Baca Juga: Kebiasaan Langsung Masuk Kamar Setelah Pulang ke Rumah Ternyata Bisa Mengungkap Kepribadian Seseorang Menurut Psikologi

EPA juga memasukkan bantal, selimut, kasur dan berbagai kain di kamar tidur sebagai bagian yang perlu diperhatikan karena dapat mengumpulkan debu dan kontaminan biologis.

Karena itu, jangan hanya mengganti seprai ketika kamar mulai berbau. Periksa juga kondisi kasur dan bantal, terutama jika aroma apek tetap muncul setelah seprai dicuci.

2. Karpet dan Bagian Bawahnya

Karpet dapat menjadi sumber bau yang sulit ditemukan karena bagian yang bermasalah tidak selalu terlihat dari permukaannya.

Karpet yang pernah terkena tumpahan air atau berada di ruangan dengan kelembapan tinggi dapat menyimpan air lebih lama. Bahkan, bagian bawah karpet dan bantalan karpet juga perlu diperiksa karena jamur dapat tumbuh pada area tersebut.

Jika bau terasa lebih kuat ketika mendekati lantai atau sudut karpet, bagian bawahnya patut diperiksa.

3. Lemari dan Pakaian yang Jarang Dipakai

Lemari yang terlalu penuh dapat membuat sirkulasi udara menjadi kurang baik. Pakaian yang disimpan dalam kondisi belum benar-benar kering juga dapat mempertahankan kelembapan dan menimbulkan aroma tidak sedap.

Perhatikan terutama bagian belakang lemari yang menempel pada dinding. Jika terdapat kondensasi, noda, cat mengelupas atau permukaan terasa lembap, sumber masalah bisa berasal dari kelembapan pada dinding.

EPA menyebut area tersembunyi seperti bagian belakang dinding, wallpaper, panel, serta bagian bawah karpet sebagai lokasi yang perlu diperiksa ketika terdapat indikasi kelembapan atau bau apek.

Baca Juga: 7 Warna Kamar Tidur yang Dipercaya Bisa Membuat Tidur Lebih Cepat, Menurut Psikologi Warna

4. Dinding atau Sudut Kamar yang Lembap

Bau apek yang terus kembali meskipun kamar sudah dibersihkan patut dicurigai berasal dari masalah kelembapan.

Kebocoran, rembesan air, kondensasi atau kelembapan ruangan yang terlalu tinggi dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan jamur. EPA merekomendasikan kelembapan relatif dalam ruangan dijaga di bawah 60 persen, dengan kisaran ideal sekitar 30 hingga 50 persen.

Cek sudut dinding, area dekat jendela, belakang furnitur dan bagian yang jarang terkena aliran udara.

5. AC, Filter, atau Saluran Udara

Sumber bau juga bisa berasal dari sistem pendingin udara. Filter yang kotor atau bagian sistem AC yang mengalami masalah kelembapan dapat menjadi tempat berkumpulnya kontaminan.

EPA menyebut sistem HVAC perlu diperiksa secara berkala karena pertumbuhan jamur pada sistem ventilasi dapat menyebarkan spora ke area lain. Bak penampung kondensasi dan filter juga perlu mendapatkan perhatian.

Jika bau apek semakin terasa ketika AC dinyalakan, bagian ini sebaiknya tidak diabaikan.

Jangan Sekadar Menutupi Bau dengan Pengharum

Menggunakan pengharum ruangan mungkin membuat kamar terasa lebih wangi untuk sementara. Namun, langkah tersebut tidak menyelesaikan sumber masalah jika penyebabnya adalah kelembapan atau jamur.

EPA menekankan bahwa kunci pengendalian pertumbuhan jamur adalah mengatasi sumber air dan kelembapan. Material yang basah sebaiknya dikeringkan sesegera mungkin, idealnya dalam 24 hingga 48 jam untuk membantu mencegah pertumbuhan jamur.

Jika terdapat bau apek yang menetap, periksa sumber kelembapan terlebih dahulu. Buka ventilasi kamar secara berkala, pastikan pakaian dan kain benar-benar kering sebelum disimpan, bersihkan area yang mudah menampung debu, serta periksa kemungkinan kebocoran atau kondensasi.

Bau apek yang terus muncul bukan sekadar persoalan kamar kurang wangi. Aroma tersebut bisa menjadi petunjuk bahwa ada bagian ruangan yang terlalu lembap dan perlu segera ditemukan sumbernya. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
lembab apek kamar dinding ruangan