Takut Dianggap Tidak Kompeten di Tempat Kerja? Kenali Impostor Syndrome dan Cara Mengatasinya

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:43 WIB
Ilustrasi Stres DI tempat kerja (AI/FARHAN REZA/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Stres DI tempat kerja (AI/FARHAN REZA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah merasa keberhasilan yang diraih sebenarnya hanya keberuntungan? Atau merasa tidak cukup pintar untuk berada di posisi pekerjaan saat ini meski sudah mendapatkan kepercayaan dari atasan?

Perasaan seperti ini bisa berkaitan dengan impostor syndrome atau sindrom impostor. Kondisi ini membuat seseorang terus meragukan kemampuan dirinya dan merasa pencapaian yang diperoleh tidak benar-benar layak didapatkan.

Di lingkungan kerja, perasaan tersebut dapat muncul ketika mendapat tanggung jawab baru, promosi jabatan, menghadapi rekan kerja yang dianggap lebih hebat, atau ketika melakukan kesalahan.

Meski begitu, impostor syndrome bukan berarti seseorang benar-benar tidak kompeten. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengelola perasaan tersebut.

Baca Juga: Sering Doomscrolling Saat Kerja? Kebiasaan Ini Bisa Bikin Pikiran Makin Sulit Beristirahat

1. Kenali Pikiran Negatif yang Muncul

Langkah pertama adalah menyadari ketika muncul pikiran seperti, "Saya sebenarnya tidak sehebat itu" atau "Saya berhasil hanya karena beruntung."

Cobalah melihat kembali fakta yang ada. Jika berhasil menyelesaikan pekerjaan, mendapatkan kepercayaan atasan, atau mencapai target, pencapaian tersebut tetap merupakan bagian dari kemampuan dan usaha yang telah dilakukan.

2. Catat Pencapaian

Jangan hanya mengingat kesalahan. Buat catatan sederhana mengenai pekerjaan yang berhasil diselesaikan, target yang tercapai, pujian dari rekan kerja, atau keterampilan baru yang berhasil dikuasai.

Catatan tersebut dapat menjadi pengingat ketika rasa tidak percaya diri kembali muncul.

3. Jangan Membandingkan Diri Secara Berlebihan

Melihat keberhasilan rekan kerja dapat menjadi motivasi, tetapi terlalu sering membandingkan diri justru dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki pengalaman, kemampuan, kesempatan dan proses belajar yang berbeda.

Daripada bertanya, "Mengapa saya tidak sehebat dia?", lebih baik bertanya, "Apa yang bisa saya pelajari dari dirinya?"

4. Berani Mengakui Jika Belum Tahu

Salah satu penyebab seseorang merasa menjadi "penipu" di tempat kerja adalah keinginan untuk selalu terlihat tahu semuanya.

Padahal, tidak mengetahui sesuatu merupakan hal yang wajar. Bertanya kepada rekan kerja atau atasan justru dapat membantu seseorang belajar dan menghindari kesalahan yang lebih besar.

5. Ubah Cara Melihat Kesalahan

Kesalahan tidak selalu menjadi bukti bahwa seseorang tidak kompeten.

Dalam dunia kerja, kesalahan dapat menjadi bagian dari proses belajar. Yang lebih penting adalah memahami penyebabnya, memperbaiki dampaknya, dan mencari cara agar kesalahan serupa tidak terulang.

Baca Juga: Orang yang Menata Meja Kerjanya Berantakan Punya Rahasia Kepribadian Menurut Psikologi

Dengan cara ini, kegagalan tidak lagi dipandang sebagai bukti ketidakmampuan diri.

6. Bicarakan dengan Orang yang Dipercaya

Jika rasa tidak percaya diri terus muncul, cobalah membicarakannya dengan teman, rekan kerja yang dipercaya, mentor, atau orang terdekat.

Terkadang, seseorang terlalu fokus pada kekurangannya sendiri sehingga tidak mampu melihat pencapaiannya secara objektif. Perspektif dari orang lain dapat membantu melihat situasi dengan lebih realistis.

Jangan Biarkan Keraguan Menghapus Pencapaian

Meragukan kemampuan diri sesekali merupakan hal yang bisa dialami banyak orang. Namun, jangan sampai perasaan tersebut membuat seseorang mengabaikan kemampuan dan usaha yang sudah dilakukan. Belajar menerima bahwa kita tidak harus selalu sempurna dapat menjadi langkah penting untuk membangun kepercayaan diri di tempat kerja.

Jika rasa cemas, tidak berharga, atau takut gagal sudah sangat mengganggu aktivitas dan keseharian, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan yang tepat. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Impostor Syndrome sindrom impostor tempat kerja kerja