Masih Menyimpan Barang dari Masa Lalu? Bisa Jadi Ada Sisi Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:10 WIB
Ilustrasi tumpukan barang lama yang sayang dibuang pemiliknya. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi tumpukan barang lama yang sayang dibuang pemiliknya. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Baju yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai, tiket perjalanan yang terselip di laci, hadiah dari seseorang yang sudah lama tidak ditemui, hingga benda kecil dari masa sekolah sering kali memiliki satu kesamaan, yakni sulit dibuang meski sebenarnya sudah tidak berguna.

Bagi sebagian orang, membuang benda-benda tersebut terasa seperti membuang kenangan. Bahkan, semakin kuat hubungan emosional dengan sebuah barang, semakin sulit pula seseorang mengambil keputusan untuk melepaskannya.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa keterikatan terhadap benda memang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mempertahankan atau membuang barang.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Inilah 5 Fakta Seputar Perempuan Tomboi

Lalu, apakah kebiasaan menyimpan barang lama bisa memberi gambaran tentang kepribadian seseorang?

Bukan Sekadar Sayang Barang

Secara psikologis, sebuah benda bisa memiliki makna yang jauh lebih besar daripada fungsi atau harganya.

Sebuah kaus lama, misalnya, mungkin mengingatkan seseorang pada masa sekolah. Foto yang dicetak bertahun-tahun lalu bisa mengingatkan pada orang yang sudah tidak lagi hadir dalam kehidupan. Sementara hadiah dari seseorang dapat menjadi simbol hubungan yang pernah dianggap penting.

Penelitian mengenai hubungan benda dan memori menemukan bahwa barang tertentu dapat berfungsi untuk menyimpan, mewujudkan, dan memicu kembali kenangan pribadi.

Baca Juga: Psikologi Ungkap Alasan Banyak Pria Lebih Memprioritaskan Sifat daripada Kecantikan Fisik

Itulah sebabnya seseorang terkadang merasa berat membuang barang yang secara objektif sudah tidak berguna.

Yang hendak dipertahankan sebenarnya bukan barangnya, melainkan makna di balik barang tersebut.

Bisa Jadi Cenderung Sulit Melepaskan Masa Lalu

Di sinilah kebiasaan menyimpan barang mulai menarik jika dilihat dari sisi kepribadian.

Orang yang sangat terikat dengan benda sentimental dapat memiliki kecenderungan untuk mempertahankan hubungan emosional dengan pengalaman tertentu. Benda tersebut menjadi semacam penghubung antara dirinya sekarang dengan masa lalu.

Penelitian tentang object attachment menunjukkan bahwa benda yang berkaitan erat dengan identitas, hubungan penting, dan kenangan pribadi dapat menjadi lebih sulit untuk dilepaskan.

Misalnya, seseorang masih menyimpan tiket bioskop dari kencan pertama, surat lama, atau hadiah dari mantan pasangan.

Baca Juga: Dari Jabat Tangan Saja, Orang Sudah Mulai Menilai Menurut Psikologi

Bukan berarti otomatis masih ingin kembali. Namun, benda tersebut mungkin masih memiliki nilai emosional karena mewakili bagian tertentu dari perjalanan hidupnya.

Dengan kata lain, orang seperti ini bisa memiliki kecenderungan lebih sulit benar-benar melepaskan makna dari masa lalu.

Cenderung Nostalgis

Kebiasaan menyimpan benda lama juga bisa menunjukkan seseorang yang cukup kuat menghargai kenangan.

Nostalgia sendiri bukan selalu sesuatu yang buruk. Dalam psikologi, nostalgia dapat membantu seseorang merasakan kesinambungan antara dirinya di masa lalu dengan dirinya saat ini.

Benda lama dapat menjadi pemicu untuk kembali mengingat pengalaman tertentu sekaligus menghubungkan pengalaman tersebut dengan identitas sekarang. Penelitian mengenai benda dan identitas menemukan bahwa kepemilikan benda dapat memperkuat hubungan antara objek dengan konsep diri seseorang.

Itu sebabnya ada orang yang tidak tega membuang seragam sekolah, kamera lama, koleksi masa remaja, atau benda pemberian orang tua.

Barang tersebut menjadi semacam penanda perjalanan hidup.

Nanti Kalau Dibutuhkan Bagaimana?

Namun, tidak semua orang menyimpan barang karena kenangan.

Ada pula orang yang sulit membuang sesuatu karena selalu membayangkan kemungkinan akan membutuhkannya di masa depan.

"Siapa tahu nanti berguna."

"Sayang kalau dibuang."

"Kalau suatu saat membutuhkan, harus beli lagi."

Pola seperti ini berbeda dari keterikatan sentimental. Keputusan mempertahankan barang dapat dipengaruhi oleh keengganan menghadapi kemungkinan kehilangan atau penyesalan.

Penelitian mengenai proses membuang barang menunjukkan bahwa keterikatan terhadap benda memengaruhi keputusan sejak seseorang berhenti menggunakan barang, memutuskan untuk membuangnya, hingga menentukan bagaimana barang tersebut akan dilepaskan.

Dengan demikian, orang yang sulit membuang barang juga bisa memiliki kecenderungan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang terasa final.

Baca Juga: Kebiasaan Menyalahkan Orang Lain Saat Ada Masalah, Pola Kepribadian yang Bisa Terlihat Menurut Psikologi

Barang Bisa Menjadi Bagian dari Identitas

Ada alasan lain yang lebih dalam.

Beberapa barang tidak hanya mengingatkan seseorang pada masa lalu, tetapi juga menggambarkan siapa dirinya.

Seorang mantan atlet mungkin masih menyimpan jersey pertandingan. Seorang musisi menyimpan gitar pertamanya. Seseorang yang pernah bekerja di tempat tertentu masih menyimpan kartu identitas atau seragam lamanya.

Penelitian menunjukkan bahwa benda yang dimiliki dapat membawa makna personal dan sosial. Hubungan dengan benda tersebut bahkan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Karena itu, membuang benda tertentu terkadang terasa seperti membuang bagian dari identitas.

Tapi Bukan Berarti Sulit Membuang = Sulit Move On

Meski demikian, kebiasaan menyimpan barang lama tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang sulit move on.

Baca Juga: Stres Kerja Bisa Bikin Orang Lebih Impulsif Berbelanja, Ini Penjelasan Psikologinya

Seseorang bisa menyimpan barang karena nostalgia, identitas, nilai sentimental, kebiasaan mengoleksi, atau sekadar merasa barang tersebut masih mungkin berguna.

Penelitian juga membedakan keterikatan terhadap benda yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan keterikatan berlebihan yang dapat muncul pada hoarding disorder. Keterikatan terhadap benda sendiri bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan gangguan psikologis.

Jadi, kalau seseorang masih menyimpan tiket perjalanan sepuluh tahun lalu, jangan buru-buru menyimpulkan dia belum bisa move on.

Namun, kebiasaan tersebut bisa memberi petunjuk kecil tentang bagaimana ia memperlakukan masa lalu: apakah kenangan dianggap penting, apakah benda menjadi bagian dari identitas, atau apakah keputusan untuk melepaskan sesuatu terasa terlalu berat.

Pada akhirnya, barang lama mungkin tidak lagi berguna bagi tangan, tetapi masih memiliki fungsi bagi ingatan. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
move on psikologi menyimpan barang masa lalu