RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Chatbot berbasis kecerdasan buatan kini tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau menyelesaikan pekerjaan.
Sebagian orang mulai menggunakannya untuk bercerita tentang masalah pribadi, meminta pendapat ketika sedang bingung, hingga mencari dukungan ketika menghadapi hari yang buruk.
Kebiasaan tersebut ternyata dapat membentuk hubungan psikologis tertentu antara pengguna dan chatbot. Penelitian menunjukkan, interaksi yang terasa hangat dan suportif dapat membuat seseorang merasakan kedekatan dengan AI sekaligus meningkatkan ketertarikan untuk terus menggunakannya.
Baca Juga: Sering Doomscrolling Saat Kerja? Kebiasaan Ini Bisa Bikin Pikiran Makin Sulit Beristirahat
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam BMC Psychology pada 2025 melibatkan 1.553 responden. Peneliti melihat bagaimana daya tarik chatbot, persepsi terhadap kehangatan dan kemampuan AI, interaksi parasosial, serta dukungan emosional berkaitan dengan keinginan menggunakan chatbot dan ketergantungan terhadapnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa karakteristik sosial chatbot dapat membantu pengguna membangun parasocial interaction, yakni perasaan memiliki hubungan dengan sosok yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sosial timbal balik seperti manusia.
Kenapa AI terasa enak diajak cerita?
Ada satu hal yang membuat chatbot berbeda dari manusia ketika seseorang sedang ingin bercerita.
AI tersedia hampir setiap saat. Tidak perlu membuat janji, mencari waktu yang tepat, atau khawatir orang lain sedang sibuk.
Pengguna juga dapat menuliskan persoalan dengan panjang tanpa harus merasa sedang mengganggu lawan bicara.
Baca Juga: 7 Bahasa Gaul Versi Gen Z yang Sering Muncul di Media Sosial, Apa Artinya?
Ketika respons yang diterima terasa memahami dan tidak menghakimi, interaksi tersebut dapat memberikan pengalaman emosional yang positif.
Penelitian Zhang dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa persepsi terhadap kehangatan dan kemampuan chatbot berkaitan dengan terbentuknya interaksi parasosial dan dukungan emosional. Kedua hal tersebut kemudian berhubungan dengan niat menggunakan chatbot dan ketergantungan terhadap media tersebut.
Dengan kata lain, seseorang tidak harus sejak awal berniat mencari teman AI.
Hubungan tersebut bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana: bertanya, bercerita, mendapatkan respons yang terasa membantu, lalu kembali lagi ketika menghadapi persoalan berikutnya.
Dari bertanya menjadi tempat bercerita
Perubahan ini menarik karena fungsi AI dapat bergeser tanpa disadari.
Awalnya seseorang mungkin menggunakan chatbot untuk membuat email atau mencari ide pekerjaan. Pada kesempatan lain, ia mulai bertanya terkait personal dirinya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi SD Swasta Terbaik di Bojonegoro, Bisa Jadi Pilihan untuk Pendidikan Anak
Jika respons yang diterima dirasakan membantu, AI kemudian bisa menjadi salah satu tempat pertama yang didatangi ketika muncul persoalan.
Penelitian longitudinal selama lima minggu terhadap 149 peserta juga menemukan adanya peningkatan persepsi keterikatan terhadap AI pada kelompok yang didorong menggunakannya untuk interaksi sosial dan emosional. Kelompok tersebut juga melaporkan kenyamanan yang lebih tinggi dalam menggunakan AI untuk mencari bantuan pribadi, mengelola stres, dan mendapatkan dukungan sosial.
Tetapi AI tidak sama dengan manusia
Di sinilah batas pentingnya.
Chatbot dapat memberikan respons yang terdengar empatik, tetapi interaksi tersebut tetap berbeda dari hubungan dengan manusia.
AI tidak memiliki pengalaman hidup, hubungan emosional, atau kepentingan pribadi seperti seorang teman, pasangan, atau anggota keluarga.
Karena itu, merasa nyaman berbicara dengan AI tidak otomatis berarti seseorang mengalami masalah. AI dapat menjadi alat untuk membantu menyusun pikiran, mencari perspektif, atau sekadar menemani percakapan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika AI mulai menjadi satu-satunya tempat seseorang mencari dukungan.
Penelitian eksperimental lain yang melibatkan 981 peserta selama empat minggu menemukan bahwa penggunaan chatbot harian yang lebih tinggi berkorelasi dengan meningkatnya kesepian, ketergantungan emosional, dan penggunaan bermasalah, serta lebih rendahnya interaksi sosial dengan manusia. Para peneliti juga menekankan bahwa hasil tersebut menunjukkan hubungan yang kompleks dan masih membutuhkan penelitian lanjutan.
Baca Juga: Bursa Transfer Memanas! Inilah Rumor 5 Pemain Bintang yang Jadi Rebutan Klub Top Eropa
Bukan soal berhenti curhat ke AI
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah seseorang boleh bercerita kepada AI atau tidak.
Yang lebih penting adalah apakah AI menjadi tambahan dalam kehidupan sosial atau perlahan menggantikan hubungan yang sebelumnya dibangun dengan manusia.
Jika seseorang menggunakan AI untuk membantu memahami masalah, kemudian tetap berbicara dengan orang yang dipercaya, fungsi AI masih berada sebagai alat bantu.
Sebaliknya, jika setiap masalah selalu dibawa ke chatbot dan hubungan dengan manusia justru semakin dihindari, pola tersebut layak diperhatikan.
Sebab, teknologi mungkin bisa membuat seseorang merasa didengarkan dalam hitungan detik. Tetapi kebutuhan manusia untuk memiliki hubungan yang nyata tidak serta-merta ikut berubah. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari