RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perkembangan media sosial tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga melahirkan berbagai istilah dan bahasa gaul baru. Di kalangan Generasi Z atau Gen Z, penggunaan istilah singkat dan unik semakin sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari, terutama di TikTok, Instagram, X, hingga berbagai platform digital lainnya.
Bahasa gaul tersebut biasanya digunakan untuk membuat komunikasi terasa lebih santai, akrab, dan mengikuti tren yang sedang berkembang. Tak jarang, istilah-istilah ini membuat pengguna media sosial yang belum familiar menjadi bingung.
Berikut 7 bahasa gaul yang sering digunakan Gen Z di media sosial beserta artinya:
1. Slay
Istilah "slay" sering digunakan untuk memberikan pujian kepada seseorang yang dianggap tampil sangat keren, percaya diri, atau berhasil melakukan sesuatu dengan baik.
Contohnya, ketika seseorang mengunggah foto dengan penampilan menarik, pengguna lain bisa berkomentar, "You slay!"
Dalam konteks tersebut, "slay" memiliki makna kurang lebih keren banget, berhasil, atau tampil luar biasa.
Baca Juga: 6 Fakta Menarik Naykilla, Musisi Asal Surabaya yang Jadi Idola Generasi Z
2. Rizz
"Rizz" menjadi salah satu istilah yang cukup populer di kalangan anak muda. Kata ini biasanya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menarik perhatian atau membuat orang lain tertarik, terutama dalam konteks percintaan.
Seseorang yang dianggap memiliki "rizz" biasanya dinilai pandai berbicara, percaya diri, dan mampu membuat orang lain terpesona.
Contohnya, "Dia punya rizz tinggi, baru kenal sudah bisa bikin orang nyaman."
3. Delulu
Istilah "delulu" merupakan bentuk slang dari kata delusional. Di media sosial, istilah ini sering digunakan secara bercanda untuk menggambarkan seseorang yang terlalu berkhayal atau memiliki harapan yang dianggap tidak realistis.
Misalnya, seseorang menyukai artis dan berharap bisa menikah dengannya. Temannya kemudian bercanda, "Delulu banget!"
Meski terdengar seperti kritik, penggunaan "delulu" di media sosial umumnya bersifat ringan dan humoris.
4. FOMO
FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out. Istilah ini menggambarkan perasaan takut tertinggal dari tren, kegiatan, informasi, atau pengalaman yang sedang dilakukan orang lain.
Contohnya, seseorang ikut membeli barang yang sedang viral karena takut dianggap ketinggalan tren.
Ungkapan "Aku FOMO banget sama tren ini" berarti seseorang merasa tidak ingin melewatkan sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.
5. POV
POV adalah singkatan dari Point of View atau sudut pandang. Istilah ini sangat sering ditemukan dalam video pendek di media sosial.
Biasanya, kata "POV" digunakan untuk mengajak pengguna membayangkan dirinya berada dalam situasi tertentu.
Contohnya, "POV: kamu datang terlambat ke sekolah dan semua orang sudah masuk kelas."
Format tersebut kemudian menjadi salah satu gaya populer dalam membuat konten media sosial.
6. Sus
Istilah "sus" merupakan kependekan dari suspicious yang berarti mencurigakan. Kata ini biasanya digunakan ketika seseorang atau sesuatu dianggap memiliki perilaku yang aneh atau tidak meyakinkan.
Misalnya, ketika seorang teman memberikan alasan yang dianggap tidak masuk akal, seseorang dapat berkata, "Sus banget alasanmu."
Istilah ini juga semakin dikenal luas setelah populer dalam percakapan internet dan budaya gim.
7. No Debat
"No debat" digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang sangat yakin terhadap pendapat atau pernyataan yang disampaikan.
Istilah ini biasanya muncul dalam konteks santai, terutama ketika seseorang ingin menegaskan bahwa pilihannya adalah yang terbaik.
Contohnya, "Nasi goreng adalah makanan terenak, no debat!"
Dalam penggunaan sehari-hari, istilah tersebut tidak selalu berarti benar-benar menolak diskusi. Sering kali, "no debat" hanya digunakan sebagai gaya bahasa untuk menekankan keyakinan.
Bahasa Gaul Terus Berkembang
Munculnya berbagai bahasa gaul di media sosial menunjukkan bahwa bahasa terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Gen Z menjadi salah satu kelompok yang aktif menciptakan, mengadaptasi, dan menyebarkan istilah baru melalui komunikasi digital.
Namun, penggunaan bahasa gaul tetap perlu disesuaikan dengan situasi. Istilah seperti "slay", "rizz", atau "delulu" mungkin cocok digunakan dalam percakapan dengan teman, tetapi belum tentu tepat untuk komunikasi formal, seperti urusan pekerjaan, pendidikan, maupun surat resmi.
Dengan memahami arti berbagai istilah tersebut, pengguna media sosial dapat lebih mudah mengikuti percakapan digital sekaligus memahami konteks ketika bahasa gaul tersebut muncul di berbagai platform. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko