RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Generasi Z atau Gen Z kembali menjadi kelompok yang banyak diperbincangkan dalam perkembangan tren sepanjang 2026. Tidak hanya soal gaya berpakaian dan media sosial, tren yang berkembang tahun ini juga berkaitan dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI), gaya hidup, kesehatan, hingga cara anak muda membangun hubungan sosial.
Menariknya, sejumlah tren yang muncul justru menunjukkan adanya perubahan sikap Gen Z terhadap dunia digital. Di tengah semakin canggihnya teknologi, sebagian anak muda mulai mencari sesuatu yang lebih autentik, personal, dan tidak terlalu bergantung pada algoritma.
Lantas, apa saja tren yang mulai banyak diperbincangkan Gen Z pada 2026?
1. Kembali ke Era 2016
Salah satu tren yang cukup mencuri perhatian pada 2026 adalah nostalgia terhadap budaya internet sekitar 2016. Fenomena yang dikenal dengan istilah “2026 is the new 2016” membuat pengguna media sosial kembali membagikan foto, musik, gaya berpakaian, hingga budaya internet dari era tersebut.
Tren ini dianggap menarik karena 2016 merupakan periode yang masih dekat dengan masa remaja bagi sebagian Gen Z. Gaya foto dengan kualitas kamera yang lebih sederhana, filter lawas, hingga estetika media sosial era awal menjadi bagian dari tren nostalgia tersebut.
Fenomena ini juga dapat dilihat sebagai bentuk kejenuhan terhadap konten digital yang terlalu rapi dan dipoles.
Baca Juga: AI dalam Kehidupan Sehari-hari: Peluang atau Ancaman bagi Gen Z?
2. Konten yang Lebih Natural dan Autentik
Tren berikutnya adalah meningkatnya ketertarikan terhadap konten yang terlihat lebih natural. Foto atau video yang tidak terlalu sempurna justru dianggap memiliki daya tarik tersendiri.
Sejumlah pembahasan mengenai budaya digital 2026 menunjukkan adanya pergeseran dari media sosial yang sangat terkurasi menuju ruang digital yang lebih kecil dan terasa personal. Platform berbasis komunitas serta forum percakapan juga kembali mendapatkan perhatian.
Bagi Gen Z, keaslian dianggap semakin penting. Konten yang terlalu dibuat-buat atau terlihat seperti iklan dapat lebih mudah menimbulkan rasa tidak percaya.
3. Semakin Selektif Menggunakan AI
AI masih menjadi bagian penting dari kehidupan digital pada 2026. Mulai dari membuat tulisan, mencari informasi, menghasilkan gambar, hingga membantu pekerjaan sehari-hari.
Namun, Gen Z tidak selalu menerima semua penggunaan AI begitu saja. Sejumlah laporan menunjukkan adanya peningkatan perhatian terhadap transparansi konten yang dibuat menggunakan AI serta kekhawatiran mengenai keaslian informasi dan konten digital.
Artinya, tren yang berkembang bukan sekadar “menggunakan AI sebanyak mungkin”, melainkan menggunakan AI secara lebih selektif sambil tetap mempertahankan sentuhan manusia.
Baca Juga: 6 Fakta Menarik Naykilla, Musisi Asal Surabaya yang Jadi Idola Generasi Z
4. Digital Detox dan Kembali ke Aktivitas Offline
Di tengah penggunaan media sosial yang semakin intensif, aktivitas offline justru mulai mendapatkan perhatian lebih besar.
Sebagian Gen Z mulai mencari keseimbangan dengan mengurangi waktu menggunakan media sosial, melakukan aktivitas bersama teman secara langsung, atau sekadar mengambil jeda dari layar.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya keinginan untuk mendapatkan pengalaman sosial yang lebih nyata. Beberapa laporan tren 2026 bahkan mencatat adanya kecenderungan anak muda untuk lebih menghargai pengalaman langsung dibandingkan interaksi digital yang sepenuhnya bergantung pada teknologi.
5. Wellness dan Gaya Hidup Sehat Semakin Populer
Tren kesehatan dan wellness juga semakin ramai diperbincangkan. Gen Z mulai menunjukkan ketertarikan terhadap olahraga, makanan tinggi protein, kebugaran, serta berbagai rutinitas yang dianggap dapat mendukung kesehatan fisik dan mental.
Pada 2026, tren wellness bahkan berkembang menjadi berbagai bentuk, mulai dari olahraga intensitas tinggi hingga makanan fungsional. Namun, tidak semua tren kesehatan yang viral di media sosial memiliki dasar ilmiah yang kuat. Karena itu, informasi kesehatan yang berasal dari media sosial tetap perlu disaring dengan hati-hati.
6. Belanja Berdasarkan Pengalaman, Bukan Sekadar Produk
Gen Z juga semakin tertarik pada pengalaman yang menyertai sebuah produk atau layanan. Mereka tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga bagaimana sebuah produk sesuai dengan gaya hidup, identitas, dan nilai yang mereka pegang.
Perubahan perilaku konsumen ini menjadi bagian dari pergeseran yang lebih luas pada 2026, ketika pengalaman, teknologi, kesehatan, dan nilai personal semakin memengaruhi keputusan konsumen.
7. Komunitas Kecil Mulai Lebih Berarti
Jika sebelumnya memiliki banyak pengikut menjadi salah satu ukuran popularitas di media sosial, kini komunitas kecil dengan hubungan yang lebih dekat mulai dianggap menarik.
Gen Z semakin terbiasa menggunakan fitur seperti grup percakapan, akun privat, komunitas khusus, hingga ruang digital berdasarkan minat tertentu. Pergeseran ini membuat interaksi terasa lebih personal dan tidak selalu ditujukan untuk konsumsi publik.
Fenomena tersebut juga sejalan dengan meningkatnya ketertarikan terhadap platform dan ruang digital yang mengutamakan komunitas dibandingkan sekadar mengejar jangkauan algoritma.
Tren Gen Z 2026: Antara Teknologi dan Keaslian
Berbagai tren tersebut memperlihatkan sebuah paradoks menarik. Gen Z merupakan generasi yang sangat dekat dengan teknologi, tetapi pada saat yang sama mulai mencari pengalaman yang terasa lebih manusiawi.
AI, media sosial, dan berbagai platform digital tetap menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaannya mulai disertai sikap yang lebih kritis. Keaslian, privasi, kesehatan, komunitas, dan pengalaman langsung menjadi sejumlah nilai yang semakin diperhatikan.
Dengan demikian, tren Gen Z pada 2026 tidak hanya berbicara mengenai sesuatu yang viral di media sosial. Lebih dari itu, tren tersebut menggambarkan perubahan cara anak muda dalam menentukan apa yang layak mendapat perhatian, dipercaya, dan menjadi bagian dari kehidupan mereka. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko