Kenapa Pekerja Kantoran Sering Checkout Saat Jam Kerja? Ini yang Ditemukan Peneliti

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 22:30 WIB
Ilustrasi pekerja kantoran. (MAGNIFIC)
Ilustrasi pekerja kantoran. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Membuka marketplace atau media sosial di sela pekerjaan ternyata tidak selalu berhenti pada aktivitas melihat-lihat.

Penelitian terhadap pekerja kerah putih menemukan bahwa kebiasaan menggunakan internet untuk kepentingan pribadi saat jam kerja berkaitan dengan kecenderungan melakukan pembelian impulsif secara online.

Fenomena menggunakan internet saat jam kerja untuk aktivitas yang tidak berkaitan dengan pekerjaan dikenal sebagai cyberloafing. Bentuknya beragam, mulai dari membuka media sosial, membaca berita, menonton konten hingga menjelajahi toko daring.

Baca Juga: Stres Kerja Bisa Bikin Orang Lebih Impulsif Berbelanja, Ini Penjelasan Psikologinya

Penelitian yang dilakukan Yonca Bakır, Erkan Nur, dan Baran Arslan pada 2026 secara khusus melihat hubungan antara cyberloafing dan perilaku pembelian online yang irasional pada pekerja kerah putih.

Studi tersebut melibatkan 239 pekerja kerah putih di sektor publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cyberloafing secara positif dan signifikan memprediksi online impulse buying.

Artinya, pada kelompok yang diteliti, semakin kuat kecenderungan melakukan aktivitas internet pribadi selama jam kerja, semakin tinggi pula kecenderungan melakukan pembelian impulsif secara online.

Berawal dari sekadar melihat-lihat

Belanja online tidak selalu diawali dengan niat membeli.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Kecil yang Bikin Pengeluaran Bulanan Membengkak, Sering Tak Disadari

Seorang pekerja bisa saja membuka marketplace ketika memiliki jeda di antara pekerjaan atau sedang merasa bosan. Awalnya hanya ingin melihat harga, mencari informasi produk, atau sekadar mengisi waktu.

Namun, selama berada di dalam aplikasi, berbagai produk, rekomendasi, diskon, dan penawaran khusus terus muncul.

Situasi tersebut membuat aktivitas melihat-lihat dapat berubah menjadi dorongan untuk membeli.

Barang yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar kebutuhan tiba-tiba terlihat menarik. Karena transaksi online hanya membutuhkan beberapa langkah, keputusan membeli pun dapat terjadi dengan cepat.

Apa yang dimaksud cyberloafing?

Cyberloafing tidak berarti seseorang selalu berbelanja ketika bekerja.

Istilah ini mencakup penggunaan internet untuk kepentingan pribadi selama jam kerja. Belanja online hanya salah satu aktivitas yang mungkin dilakukan.

Karena itu, penelitian tersebut menjadi menarik ketika cyberloafing kemudian dikaitkan dengan online impulse buying, yaitu pembelian yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.

Perbedaannya penting. Membeli barang saat jam kerja tidak otomatis berarti impulsif.

Seseorang bisa saja memang sudah merencanakan membeli suatu barang dan baru melakukan transaksi ketika sedang berada di kantor. Dalam kondisi tersebut, waktu pembelian tidak serta-merta menunjukkan adanya perilaku impulsif.

Baca Juga: 9 Strategi Mengelola Keuangan untuk Pasangan yang Baru Menikah, Agar Rumah Tangga Lebih Stabil

Mengapa marketplace mudah memicu keputusan spontan?

Salah satu karakter belanja online adalah pendeknya jarak antara melihat produk dan melakukan transaksi.

Di toko fisik, seseorang perlu mengambil barang, membawanya ke kasir, dan membayar. Di marketplace, proses tersebut dapat dilakukan melalui beberapa ketukan pada layar.

Ditambah dengan promosi berbatas waktu, rekomendasi produk, notifikasi, dan potongan harga, perhatian seseorang dapat dengan mudah berpindah dari pekerjaan menuju aktivitas belanja.

Ketika dilakukan berulang kali selama jam kerja, aktivitas yang awalnya hanya untuk mengisi waktu dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi seseorang untuk terpapar produk dan melakukan pembelian spontan.

Bukan berarti semua pekerja yang belanja saat kerja impulsif

Temuan penelitian ini tidak dapat diartikan bahwa setiap pekerja yang membuka marketplace saat jam kerja pasti akan melakukan pembelian impulsif.

Penelitian tersebut menunjukkan hubungan prediktif, bukan kepastian bahwa cyberloafing menyebabkan setiap orang melakukan pembelian impulsif.

Yang lebih penting adalah melihat polanya.

Jika seseorang sering membuka marketplace ketika sedang menghindari pekerjaan atau mengisi kebosanan, kemudian berkali-kali membeli barang yang sebelumnya tidak direncanakan, kebiasaan tersebut layak diperhatikan.

Sebab, dalam lingkungan digital, jarak antara "cuma lihat-lihat" dan "sudah checkout" memang semakin pendek. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
checkout jam kerja Pekerja impulsif