RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Istilah tomboi kerap digunakan untuk menggambarkan seorang perempuan yang memiliki penampilan, gaya berpakaian, atau perilaku yang dianggap lebih maskulin dibandingkan stereotip perempuan pada umumnya. Namun demikian, benarkah perempuan tomboi memiliki kepribadian tertentu ? Bagaimana psikologi memandang fenomena ini ?
Dalam ilmu psikologi, menjadi tomboi bukanlah sebuah gangguan mental maupun indikator pasti mengenai identitas gender atau orientasi seksual. Tomboi lebih tepat dipahami sebagai bentuk ekspresi diri dan variasi kepribadian yang dipengaruhi oleh faktor biologis, lingkungan, serta pengalaman hidup.
1. Tomboi Bukan Gangguan Psikologis
Psikologi modern menjelaskan bahwa perempuan tomboi hanyalah salah satu bentuk ekspresi gender. Seorang perempuan dapat menyukai pakaian longgar, olahraga ekstrem, atau aktivitas yang identik dengan laki-laki tanpa mengalami gangguan psikologis. Ekspresi tersebut merupakan bagian dari keberagaman perilaku manusia.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 5 Alasan Perempuan Melankolis Layak Dijadikan Kekasih
2. Tidak Menentukan Orientasi Seksual
Salah satu anggapan yang masih sering muncul di masyarakat adalah bahwa semua perempuan tomboi memiliki orientasi seksual tertentu. Namun faktanya, psikologi menegaskan bahwa ekspresi gender berbeda dengan orientasi seksual maupun identitas gender.
Artinya, perempuan tomboi bisa saja heteroseksual, lesbian, biseksual, atau memiliki orientasi seksual lainnya. Penampilan maskulin tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan ketertarikan romantis seseorang.
3. Kepribadian Setiap Individu Tetap Berbeda
Tidak semua perempuan tomboi memiliki sifat yang sama. Ada yang dikenal mandiri, percaya diri, menyukai tantangan, dan mudah bergaul. Namun, karakter tersebut bukanlah ciri wajib dari seorang tomboi.
Dalam psikologi, kepribadian dibentuk oleh berbagai faktor seperti pola asuh, pengalaman hidup, lingkungan sosial, hingga faktor biologis. Oleh karena itu, tidak tepat jika semua perempuan tomboi dianggap memiliki karakter yang identik.
4. Sering Menghadapi Stereotip Sosial
Meski penerimaan masyarakat mulai berkembang, perempuan tomboi masih kerap menghadapi stigma atau penilaian berdasarkan penampilan mereka. Psikolog menilai stereotip semacam ini dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis seseorang apabila terjadi secara terus-menerus.
Karena itu, penting untuk menghargai setiap individu berdasarkan karakter dan perilakunya, bukan semata-mata dari gaya berpakaian atau penampilannya.
Baca Juga: Jangan Langsung Curiga, Ini Arti Mimpi Suami atau Pasangan Selingkuh Menurut Psikolog
5. Ekspresi Diri Bisa Berubah Seiring Waktu
Psikologi juga menjelaskan bahwa ekspresi diri bersifat dinamis. Sebagian perempuan yang tomboi sejak kecil tetap mempertahankan gaya tersebut hingga dewasa, sementara yang lain mungkin berubah menjadi lebih feminin sesuai perkembangan usia, lingkungan, maupun preferensi pribadi.
Jadi menurut penjelasan diatas, perempuan tomboi merupakan bagian dari keragaman ekspresi kepribadian yang ada di masyarakat. Psikologi memandang bahwa menjadi tomboi bukanlah gangguan mental, bukan penentu orientasi seksual, dan bukan pula ukuran karakter seseorang.
Alih-alih berpegang pada stereotip, memahami setiap individu berdasarkan kepribadian, nilai, dan perilakunya akan membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan saling menghargai. Dengan demikian, perempuan tomboi dapat mengekspresikan dirinya secara autentik tanpa harus dibatasi oleh anggapan yang belum tentu sesuai dengan fakta psikologis. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko