Cara Memuji Anak Ternyata Lebih Menentukan Dampaknya, Ini Temuan Penelitian

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:51 WIB
MARAH: Kemarahan anak kepada orang tua.
MARAH: Kemarahan anak kepada orang tua.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banyak orang tua mengira semakin sering memuji anak, semakin tinggi pula rasa percaya dirinya.

Namun, penelitian psikologi menunjukkan, manfaat pujian ternyata tidak ditentukan oleh seberapa sering pujian dilontarkan, melainkan pada kalimat yang dipilih orang tua. Cara memuji yang tepat dapat membantu anak lebih berani menghadapi tantangan, sedangkan pujian yang kurang tepat justru berisiko membuat anak takut gagal dan enggan mencoba hal baru.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development menemukan bahwa anak yang lebih sering menerima pujian terhadap usaha dan proses belajarnya cenderung memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) ketika memasuki usia sekolah.

Baca Juga: Parenting: Anak yang Terlalu Sering Diselamatkan Orang Tua Berisiko Sulit Mandiri Saat Dewasa, Ini Temuan Penelitian

Sebaliknya, pujian yang hanya menonjolkan kemampuan bawaan, seperti menyebut anak "pintar" atau "berbakat", tidak selalu memberikan dampak yang sama terhadap motivasi belajar di kemudian hari.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati interaksi orang tua dan anak sejak usia 1 hingga 3 tahun. Lima tahun kemudian, mereka kembali mengevaluasi perkembangan anak.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang lebih sering mendapatkan pujian atas usaha, strategi, atau ketekunannya memiliki kecenderungan lebih besar untuk menikmati tantangan dan percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan.

Pujian yang Berfokus pada Proses

Psikolog dari Stanford University, Carol S. Dweck, yang dikenal melalui teori growth mindset, menjelaskan bahwa cara memberikan pujian dapat memengaruhi cara anak memandang kemampuan dirinya.

Baca Juga: 6 Panduan Parenting agar Anak Perempuan Semakin Tangguh, Menurut Psikologi

Menurut Dweck, ketika anak terus-menerus dipuji karena dianggap "pintar", mereka dapat mulai percaya bahwa kecerdasan adalah sifat bawaan yang harus selalu dipertahankan. Akibatnya, sebagian anak menjadi lebih takut melakukan kesalahan karena khawatir tidak lagi dianggap pintar.

Sebaliknya, pujian yang menyoroti proses, seperti "Kamu sudah berusaha keras menyelesaikan soal ini", "Strategimu tadi bagus", atau "Kamu tidak menyerah meski sempat kesulitan", membantu anak memahami bahwa keberhasilan merupakan hasil dari usaha, latihan, dan kemauan belajar.

Dalam penelitian Child Development, para peneliti menyimpulkan bahwa pujian terhadap proses sejak usia dini berkaitan dengan berkembangnya pola pikir yang lebih adaptif beberapa tahun kemudian. Dengan kata lain, cara orang tua memberikan apresiasi pada masa balita dapat memengaruhi cara anak menghadapi tantangan ketika memasuki usia sekolah.

Pujian Berlebihan Belum Tentu Membantu

Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian lain yang diterbitkan dalam Psychological Science. Penelitian ini menemukan bahwa orang tua cenderung memberikan pujian yang berlebihan kepada anak yang memiliki rasa percaya diri lebih rendah.

Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa pujian yang terlalu berlebihan belum tentu meningkatkan kepercayaan diri anak. Dalam beberapa kondisi, pujian semacam itu justru dapat membuat anak enggan mengambil tantangan baru karena takut tidak mampu memenuhi harapan yang telah dibangun.

Para peneliti menilai bahwa anak lebih membutuhkan apresiasi yang realistis dan spesifik dibandingkan pujian yang bersifat umum atau berlebihan.

Baca Juga: Tips Menjadi Ayah yang Bijak untuk Anak Laki-Laki, Bangun Karakter Tangguh Sejak Dini

Fokus pada Usaha, Bukan Hanya Hasil

Bukan berarti orang tua harus berhenti memuji anak. Sebaliknya, penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa pujian tetap memiliki peran penting dalam perkembangan anak apabila diberikan secara tepat.

Memberikan apresiasi terhadap usaha, ketekunan, strategi belajar, atau keberanian mencoba hal baru dapat membantu anak membangun motivasi dari dalam dirinya. Ketika mengalami kegagalan, mereka juga cenderung melihatnya sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu.

Pada akhirnya, cara memuji anak bukan sekadar memilih kata-kata yang terdengar positif. Penelitian menunjukkan bahwa pujian yang berfokus pada proses dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani menghadapi tantangan, lebih tekun belajar, dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
dampak anak psikolog cara pujian