Parenting: Anak yang Terlalu Sering Diselamatkan Orang Tua Berisiko Sulit Mandiri Saat Dewasa, Ini Temuan Penelitian

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:57 WIB
Ilustrasi ibu dan anak (PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi ibu dan anak (PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Keinginan orang tua untuk selalu melindungi anak merupakan hal yang wajar.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sikap yang terlalu mengontrol atau terlalu sering mengambil alih persoalan anak, yang dikenal sebagai helicopter parenting, dapat berdampak hingga mereka memasuki usia dewasa.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2025 menemukan bahwa pola asuh helicopter parenting berkaitan dengan rendahnya kemampuan anak untuk mengambil keputusan secara mandiri (self-determination). Penelitian tersebut juga menemukan hubungan dengan meningkatnya rasa takut menjalin kedekatan emosional (fear of intimacy) ketika anak telah beranjak dewasa.

Baca Juga: 6 Panduan Parenting agar Anak Perempuan Semakin Tangguh, Menurut Psikologi

Riset yang melibatkan 800 dewasa muda di Turki itu menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi seseorang terhadap pola asuh orang tua yang terlalu mengontrol, semakin rendah pula kemampuan mereka dalam menentukan pilihan hidup secara mandiri. Sebaliknya, kecenderungan menghindari kedekatan emosional dengan orang lain justru meningkat.

Dalam laporannya, tim peneliti menyatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara helicopter parenting dengan kemampuan seseorang untuk menentukan pilihan hidup secara mandiri. Mereka juga menemukan hubungan positif yang signifikan antara pola asuh tersebut dengan meningkatnya rasa takut membangun hubungan yang dekat dengan orang lain saat dewasa.

Baca Juga: Psikolog Ungkap Kunci Anak Berani Bereksplorasi Berawal dari Rasa Aman Emosional

Terlalu Melindungi Bukan Berarti Selalu Baik

Istilah helicopter parenting digunakan untuk menggambarkan pola asuh ketika orang tua terlalu sering mengawasi, mengatur, atau mengambil alih persoalan yang sebenarnya sudah mampu dihadapi anak.

Misalnya, orang tua selalu menyelesaikan konflik anak dengan teman, menentukan hampir seluruh keputusan penting, atau terus turun tangan ketika anak menghadapi kesulitan.

Menurut peneliti, pola asuh seperti ini umumnya lahir dari niat baik, yakni keinginan melindungi anak dari kegagalan, rasa kecewa, atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun, ketika anak terlalu jarang diberi kesempatan menghadapi tantangan sendiri, mereka kehilangan ruang untuk belajar mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan membangun rasa percaya diri.

Baca Juga: Kenali Tanda Kematangan Emosi Anak di Setiap Usia, Orang Tua Perlu Memahaminya

Tim peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran mengenai helicopter parenting karena dampaknya dapat terbawa hingga kehidupan anak saat memasuki usia dewasa. Dengan kata lain, memberikan ruang bagi anak untuk belajar dari pengalaman menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kemandirian.

Temuan ini juga sejalan dengan kajian sistematis yang diterbitkan dalam Journal of Adult Development. Analisis terhadap berbagai penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa pola asuh yang terlalu protektif cenderung berkaitan dengan kemampuan penyesuaian diri yang lebih rendah ketika anak memasuki masa dewasa awal. Hal ini menunjukkan bahwa temuan tersebut tidak hanya muncul pada satu penelitian, melainkan terlihat konsisten dalam sejumlah studi.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak berarti setiap orang tua yang protektif pasti membuat anak sulit mandiri. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan statistik, bukan membuktikan bahwa helicopter parenting menjadi penyebab tunggal. Perkembangan seseorang tetap dipengaruhi banyak faktor lain, seperti lingkungan, karakter individu, pengalaman hidup, hingga dukungan sosial.

Karena itu, para ahli menilai pola asuh yang seimbang menjadi pendekatan yang lebih tepat. Orang tua tetap dapat memberikan perhatian dan pendampingan, tetapi juga perlu memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Pengalaman-pengalaman inilah yang menjadi bekal penting bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri ketika dewasa. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
terlalu sering diselamatkan anak dewasa helicopter parenting parenting