7 Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan Orang Tua kepada Anak, Bisa Berdampak pada Kepercayaan Diri

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 19:17 WIB
SUKA MEMBANTAH: Jangan dahulukan marah ketika anak suka membantah. Di balik itu ada potensi yang kuat untuk di masa depan si anak.
SUKA MEMBANTAH: Jangan dahulukan marah ketika anak suka membantah. Di balik itu ada potensi yang kuat untuk di masa depan si anak.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, dalam situasi lelah, emosi, atau terburu-buru, tidak sedikit yang tanpa sadar mengucapkan kalimat yang justru meninggalkan luka emosional.

Bagi orang dewasa, ucapan tersebut mungkin terasa biasa atau sekadar bentuk disiplin. Akan tetapi, bagi anak yang masih berada dalam masa perkembangan, kata-kata dari orang tua memiliki pengaruh besar terhadap cara mereka memandang diri sendiri, mengelola emosi, hingga membangun rasa percaya diri.

Psikolog perkembangan anak menilai bahwa komunikasi yang dilakukan secara konsisten sejak usia dini berperan penting dalam membentuk kesehatan mental anak. Hal ini juga sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa pola komunikasi positif membantu anak memiliki regulasi emosi yang lebih baik, sedangkan kritik yang merendahkan atau membandingkan berisiko memengaruhi harga diri mereka.

Baca Juga: Parenting Remaja: Strategi Orang Tua dalam Mendampingi Perkembangan Anak

Berikut tujuh kalimat yang sebaiknya dihindari orang tua beserta alternatif yang lebih sehat.

1. Menjugde dengan kata "Nakal"

Kalimat yang langsung menjudge anak sendiri dengan sebutan nakal, terdengar sederhana. Tetapi sebenarnya memberi label pada identitas anak, bukan perilakunya.

Alih-alih memahami bahwa tindakannya yang keliru, anak justru dapat menyimpulkan bahwa dirinya memang "anak nakal". Jika terus diulang, label negatif berpotensi memengaruhi konsep diri hingga mereka tumbuh lebih besar.

Sebaiknya fokus pada perilaku yang dilakukan.

Contohnya, "Perbuatanmu tadi kurang baik karena mendorong teman. Yuk, kita perbaiki bersama." Hal itu akan memberikan persepsi pada diri anak untuk terus berbenah diri.

Baca Juga: Rahasia Parenting Cerdas Berdasar Ilmu Psikologi Anak

2. Kalimat yang Membandingkan dengan Orang Lain

Membandingkan anak dengan saudara kandung atau teman sering kali dimaksudkan sebagai motivasi. Sayangnya, cara ini justru lebih sering memunculkan rasa iri, rendah diri, bahkan persaingan yang tidak sehat.

Setiap anak memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan karakter yang berbeda.

Lebih baik katakan, "Ayah dan Ibu tahu kamu sedang belajar. Ayo kita coba lagi."

Hal tersebut akan membuat anak lebih paham kesalahan diri sendiri dan tahu esensi dari bertumbuh itu merupakan belajar atau berproses dari hari ke hari. Bukan hanya keberhasilan semata.

3. Kalimat Bersifat Ancaman

Mengaitkan kasih sayang dengan perilaku anak dapat membuat mereka merasa cinta orang tua bersifat bersyarat. Misalnya, "Kalau masih begitu, Ayah dan Ibu tidak sayang."

Dalam jangka panjang, anak bisa tumbuh dengan rasa takut ditolak atau merasa harus selalu sempurna agar dicintai. Hal itu akan berdampak pada kehidupannya saat dewasa nanti. 

Alternatifnya, "Ayah dan Ibu tetap sayang, tetapi perilaku tadi memang perlu diperbaiki."

Baca Juga: Ingin Anak Tangguh dan Percaya Diri? Yuk Kenalan dengan Konsep Lazy Parenting

4. Menjugde dengan Kata Bodoh

Ucapan ini termasuk salah satu bentuk label negatif yang paling berbahaya. Yakni, menyebut anak sendiri dengan kata "Bodoh".

Penelitian psikolog Carol Dweck dari Stanford University mengenai growth mindset menunjukkan bahwa memberi label tetap terhadap kemampuan anak dapat membuat mereka lebih mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Sebaliknya, anak berkembang lebih baik ketika usaha dan proses belajarnya yang diapresiasi.

Daripada mengatakan "bodoh", lebih baik ucapkan, "Bagian ini memang sulit. Kita cari cara lain supaya lebih mudah dipahami."

5. Kalimat yang Melarang Anak Menangis

Menangis merupakan cara alami anak mengekspresikan emosi, terutama ketika kemampuan berkomunikasinya belum berkembang sempurna.

Melarang anak menangis tanpa membantu mereka memahami emosinya dapat membuat anak belajar memendam perasaan.

Kalimat yang lebih membantu misalnya, "Ayah lihat kamu sedang sedih. Mau cerita gak, apa yang membuatmu merasa begitu?"

6. Menyebut Anak sebagai Sumber Masalah

Kata "selalu" atau "tidak pernah" sering kali membuat anak merasa seluruh dirinya dinilai buruk. Padahal, yang perlu dikoreksi adalah perilaku tertentu, bukan kepribadiannya secara keseluruhan.

Ketika anak dicap sebagai sumber masalah, entah itu ketika bermain hingga terluka, makanan yang tumpah di dapur, atau proses eksplorasi anak yang membuat orang tuanya kerepotan bahkan hingga sedikit emosi. Biasanya orang tua acap kali tanpa sadar mengucapkan perkataan yang menyebut anak sendiri pembuat masalah.

Cobalah mengatakan, "Hari ini kamu membuat kesalahan. Kita cari cara supaya besok bisa lebih baik."

Baca Juga: Belajar Parenting dari Skandinavia: 11 Tips Mendidik Anak dengan Cinta, Kejujuran, dan Kebebasan

7. Didoktrin Nurut Orang Tua

Anak memang perlu belajar menghormati aturan. Namun, komunikasi satu arah tanpa penjelasan dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan keberanian anak untuk bertanya.

Sesekali, berikan alasan sederhana yang sesuai dengan usia mereka.

Contohnya, "Kita harus pulang sekarang karena besok kamu perlu bangun pagi untuk sekolah."

Mengapa Pilihan Kata Orang Tua Sangat Penting?

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), komunikasi yang hangat, penuh empati, dan responsif membantu perkembangan sosial serta emosional anak. Anak yang merasa didengar cenderung lebih mampu mengelola stres, membangun hubungan yang sehat, dan memiliki rasa percaya diri yang lebih baik.

Sementara itu, Center on the Developing Child, Harvard University menjelaskan bahwa interaksi positif yang terjadi secara konsisten antara anak dan pengasuh merupakan fondasi penting bagi perkembangan otak, terutama pada tahun-tahun awal kehidupan.

Artinya, bukan hanya tindakan orang tua yang diingat anak, tetapi juga pilihan kata yang mereka dengar setiap hari.

Tidak Harus Menjadi Orang Tua yang Sempurna

Tidak ada orang tua yang selalu mampu berkata dengan sempurna. Setiap orang bisa saja terpancing emosi atau mengucapkan sesuatu yang kemudian disesali.

Yang terpenting adalah menyadari ketika melakukan kesalahan, berani meminta maaf kepada anak jika diperlukan, serta berusaha memperbaiki cara berkomunikasi dari waktu ke waktu.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mampu menjadi tempat aman untuk belajar, bertumbuh, dan merasa dicintai, bahkan ketika melakukan kesalahan. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
Tidak Diucapkan anak kalimat orang tua kepercayaan diri