RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menjadi orang baik sering dianggap sebagai hal positif dalam kehidupan sosial. Orang yang ramah, suka membantu, mudah mengalah, dan jarang membuat masalah biasanya lebih disukai dalam lingkungan pertemanan maupun pekerjaan. Namun ironisnya, tidak sedikit orang yang justru merasa semakin baik kepada orang lain, semakin sering pula dirinya diremehkan, dimanfaatkan, atau dianggap tidak punya batas.
Fenomena ini ternyata cukup sering dibahas dalam psikologi sosial. Dalam banyak kasus, orang yang terlalu baik bukan diremehkan karena kelemahannya, tetapi karena cara mereka memperlakukan orang lain membuat batas dirinya menjadi kurang terlihat.
Baca Juga: Kepribadian Seseorang Ternyata Bisa Terlihat dari Jenis Mobil yang Disukainya
Akibatnya, sebagian orang mulai terbiasa meminta lebih, kurang menghargai usaha yang diberikan, bahkan merasa sikap baik tersebut akan selalu tersedia kapan saja tanpa konsekuensi.
Psikologi menjelaskan bahwa kebaikan yang tidak disertai batas sehat terkadang membuat seseorang kehilangan posisi tawar dalam hubungan sosial. Berikut penjelasannya.
1. Terlalu Sering Mengalah Membuat Orang Lain Menganggapnya “Akan Selalu Memaklumi”
Orang yang terlalu baik biasanya sulit menolak permintaan orang lain.
Awalnya hal ini terlihat positif karena mereka dianggap pengertian dan tidak egois. Namun ketika dilakukan terus-menerus, lingkungan mulai terbiasa menerima toleransi tanpa batas tersebut.
Akibatnya, sebagian orang menjadi kurang menghargai waktu, tenaga, atau perasaan mereka karena merasa semuanya akan tetap dimaklumi.
Dalam psikologi sosial, perilaku yang terlalu permisif memang dapat membentuk pola hubungan yang tidak seimbang.
Baca Juga: Ciri-Ciri Orang yang Bisa Menjaga Rahasia dan Tidak Mudah Membocorkan Curhatan Menurut Psikologi
2. Sulit Menunjukkan Ketidaksukaan Secara Tegas
Sebagian orang baik merasa tidak nyaman ketika harus terlihat tegas atau mengecewakan orang lain.
Karena itu, mereka lebih sering diam meski sebenarnya tidak nyaman diperlakukan tertentu. Mereka memilih menahan emosi demi menjaga hubungan tetap tenang.
Namun tanpa disadari, sikap ini membuat orang lain sulit mengetahui batas yang sebenarnya tidak boleh dilewati.
Akibatnya, perlakuan meremehkan bisa terus berulang karena tidak pernah benar-benar dikoreksi.
3. Terlalu Fokus Menjaga Perasaan Orang Lain
Psikologi menjelaskan bahwa orang dengan empati tinggi sering lebih sibuk menjaga kenyamanan orang lain dibanding melindungi dirinya sendiri.
Mereka takut dianggap jahat, egois, atau berubah jika mulai membatasi hubungan sosial.
Baca Juga: Elemen Tanaman Hias yang Cocok di Ruang Tamu, Bikin Rumah Terasa Lebih Hidup dan Adem
Karena itu, mereka tetap bersikap baik bahkan ketika dirinya sendiri mulai lelah secara emosional.
Dalam jangka panjang, pola seperti ini sering membuat orang lain terbiasa menerima kebaikan tanpa benar-benar menghargai pengorbanannya.
4. Kebaikan yang Terlalu Mudah Diberikan Kadang Dianggap “Biasa”
Ini salah satu hal yang cukup sering terjadi dalam hubungan sosial.
Sesuatu yang terus tersedia tanpa batas lama-lama dianggap normal dan tidak lagi dipandang sebagai bentuk usaha atau perhatian khusus.
Akibatnya, orang yang selalu membantu, selalu hadir, dan selalu mengerti justru kadang kurang dihargai dibanding mereka yang lebih sulit didekati.
Psikologi perilaku menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih menghargai sesuatu yang memiliki batas dan tidak selalu mudah didapatkan.
5. Tidak Ingin Terlibat Konflik
Orang yang terlalu baik biasanya juga sangat menghindari konflik.
Mereka lebih memilih diam daripada memperpanjang masalah. Bahkan ketika diremehkan, mereka sering mencoba memahami alasan di balik perilaku orang lain dibanding membela dirinya sendiri.
Namun dalam beberapa situasi, terlalu sering menghindari konflik justru membuat orang lain merasa bisa bertindak seenaknya tanpa konsekuensi sosial yang jelas.
Baca Juga: Orang yang Sering Bilang Gapapa Padahal Jelas Kecewa Biasanya Memiliki Pola Emosi Ini
6. Terlihat “Terlalu Aman” untuk Diperlakukan Seenaknya
Dalam dinamika sosial, sebagian orang cenderung lebih berhati-hati kepada individu yang tegas dan memiliki batas jelas.
Sebaliknya, orang yang terlalu baik sering dianggap tidak akan marah, tidak akan pergi, dan tidak akan memberikan respons keras.
Akibatnya, mereka lebih sering dijadikan tempat melampiaskan sikap seenaknya karena dianggap akan tetap memahami keadaan.
Fenomena ini cukup sering muncul dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan hubungan asmara.
Baca Juga: Orang yang Sering Telat Ternyata Tidak Selalu Pemalas, Ini Penjelasannya Menurut Psikologi
7. Lupa bahwa Menjadi Baik Tidak Berarti Harus Mengorbankan Diri Sendiri
Psikologi menekankan bahwa kebaikan yang sehat tetap membutuhkan batas.
Menjadi baik bukan berarti harus selalu mengalah, selalu tersedia, atau terus memendam rasa kecewa demi menjaga kenyamanan orang lain.
Orang yang matang secara emosional biasanya mampu tetap bersikap baik tanpa kehilangan keberanian untuk berkata tidak, menjaga harga diri, dan melindungi kesehatan emosinya sendiri.
Karena itu, belajar memiliki batas bukan membuat seseorang menjadi jahat, melainkan membantu hubungan sosial berjalan lebih sehat dan seimbang.
Pada akhirnya, orang yang terlalu baik sering diremehkan bukan karena kebaikannya salah, tetapi karena mereka terlalu lama mengabaikan batas untuk dirinya sendiri. Dalam psikologi, hubungan yang sehat bukan hanya tentang memberi dan memahami, tetapi juga tentang dihargai dan diperlakukan secara seimbang oleh orang lain. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari