Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sains Bongkar Alasan Mengapa Jam Kerja Kantoran Modern Sengaja 'Merusak' Jam Tidur Alami Manusia

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 26 Mei 2026 | 20:03 WIB
Tidur nyenyak tanpa obat tidur.
Tidur nyenyak tanpa obat tidur.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda terbangun subuh, katakanlah pukul empat pagi, lalu mendapati diri Anda tidak bisa memejamkan mata lagi? Anda mulai gelisah, bolak-balik di atas kasur, dan merasa sengsara karena menyadari dua jam lagi alarm akan berdering keras memaksa Anda bersiap pergi bekerja.

Ironisnya, dilansir dari laman Psychology Today, siksaan batin menahan kantuk ini bukan kesalahan disiplin pribadi Anda, melainkan akibat dari sistem ekonomi modern yang sengaja mendikte dan merancang waktu tidur manusia demi memaksimalkan keuntungan operasional bisnis. 

Fakta antropologi mengungkapkan bahwa siklus ekonomi kapitalisme maupun sistem sosial bersama sangat bergantung langsung pada penyeragaman kebiasaan tidur para pekerjanya.

Bagi dunia usaha, kinerja karyawan adalah motivasi terbesar untuk mempromosikan pola tidur yang teratur. Bahkan, sejumlah peneliti kini resmi melabeli tidur sebagai "sumber daya strategis" bagi para pemberi kerja.

Istirahat yang cukup terbukti secara klinis membuat karyawan bertindak lebih etis di kantor serta membantu mereka mengambil keputusan bisnis dengan lebih baik.

Baca Juga: Gelisah Saat Bayi Tidur? Mengupas Sisi Psikologis Mengapa Orang Tua Baby Blues Kehilangan 'Rasa Aman' Sendirian

Namun, keselarasan waktu tidur massal ini sejatinya dirancang agar pemilik bisnis dapat dengan mudah memprediksi pendapatan, menyeimbangkan biaya operasional, dan mengatur kehadiran semua orang pada waktu yang sama. Hubungan ini berjalan dua arah yang saling mengikat.

Antropolog budaya Matthew Wolf-Meyer dalam bukunya yang terkenal, The Slumbering Masses, menegaskan realitas ini:

"Kehadiran dan ritme tidur membentuk kehidupan sehari-hari kita. Secara bersamaan, struktur kehidupan sehari-hari kita memengaruhi tidur kita."

Ekonomi Berdiri di Atas Jam Tidur yang Seragam

Secara logistik, proses ekonomi modern akan lumpuh tanpa adanya sinkronisasi waktu terjaga yang kaku. Bayangkan sebuah sekolah di mana guru dan muridnya bebas datang kapan pun mereka mau, atau sebuah toko buku yang hanya buka pada jam-jam tidak menentu tanpa pelanggan tahu kapan pintu akan terbuka.

Di bawah kondisi budaya kita saat ini, struktur yang asinkron seperti itu sangat menantang, jika bukan sama sekali tidak mungkin untuk dijalankan.

Oleh karena itu, masyarakat yang berbasis pada sistem ekonomi bersama secara agresif membentuk cetakan pola tidur kita.

Struktur pasar memaksa manusia mengorbankan preferensi biologisnya agar semua kewajiban sosial, mulai dari rapat kantor, jam buka pabrik, hingga waktu berkumpul bersama keluarga, bisa terjadi secara langsung dan tatap muka. Konsekuensinya, semua orang dituntut untuk terjaga pada jendela jam yang sama.

Sains Evolusi: Manusia Tidak Ditakdirkan Tidur Bersamaan

Jika sistem ekonomi menuntut keseragaman, mengapa bangun pagi tetap terasa sangat menyiksa bagi sebagian orang? Jawabannya ada pada kode genetik purba kita. Secara evolusioner, manusia justru tidak pernah dirancang untuk tidur bersamaan pada waktu yang sama.

Sejak tahun 1966, ilmuwan Frederick Snyder telah mengajukan hipotesis pelindung (sentinel hypothesis) yang menyatakan bahwa variasi jam tidur individu memberikan keuntungan kelangsungan hidup yang masif bagi sebuah kelompok.

Di alam liar, singa dan predator besar berburu di malam hari. Oleh karena itu, harus selalu ada anggota kelompok yang terjaga untuk berjaga-jaga.

Baca Juga: Bangun Tidur Tiba-Tiba Biru? Misteri 'Memar Jin' dan Penjelasan Medisnya

Pola ini tercermin dari perbedaan usia: orang dewasa yang lebih tua di usia 50-an dan 60-an secara alami tidur lebih awal, sementara kelompok dewasa muda di usia 20-an dan 30-an secara biologis terprogram untuk tidur jauh lebih larut.

Sebuah studi modern yang meneliti masyarakat pemburu-pengumpul di Tanzania memperkuat teori evolusi ini dengan data yang mencengangkan:

Anggota kelompok suku tersebut tercatat hanya tidur bersamaan dalam waktu yang sepenuhnya sinkron selama total 18 menit saja dalam kurun waktu 20 hari penuh.

Hampir di setiap jam sepanjang malam, selalu ada individu yang terjaga secara sukarela untuk melindungi kelompok dari ancaman luar.

Dalam konteks domestik modern, variasi genetis ini sebenarnya sangat berguna bagi pembagian tugas orang tua, di mana tipe night owl (burung hantu) bisa berjaga mengurus kebutuhan bayi di malam buta tanpa merasa tersiksa.

Peluang Kerja Fleksibel dan Ancaman Alarm Pukul 6

Dinamika kaku ini sempat bergeser ketika pandemi COVID-19 melanda global, yang secara masif mengubah lanskap dan kebiasaan kerja kita melalui sistem work from home (WFH).

Didukung oleh penetrasi internet, manusia kini memiliki kemampuan untuk bekerja secara asinkron melintasi zona waktu yang berbeda di seluruh dunia.

Anda bisa saja tinggal di sebuah pedesaan terpencil namun tetap bisa mengajar seminar daring untuk korporasi di belahan bumi lain pada jam yang sangat cocok dengan kronotipe begadang Anda.

Baca Juga: 7 Karakter Seseorang Bisa Dilihat dari Gaya Tidur: Kamu Termasuk yang Mana?

Meski demikian, bagi miliaran buruh dan profesional di luar sana, jam kerja wajib yang diatur secara konvensional masih menjadi satu-satunya struktur yang menciptakan peluang ekonomi.

Istirahat individu dan mesin ekonomi global tetap terikat erat dalam simpul yang sama. Realitas pahitnya adalah, selama sistem ekonomi menuntut produktivitas yang seragam, alarm pukul enam pagi yang mengancam dan dibenci itu dipastikan tidak akan hilang dari kehidupan kita dalam waktu dekat. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#kerja kantoran #tidur #Bisnis #Ekonomi #waktu