RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda melewati beranda media sosial dan mendapati kutipan sinis seperti "Laki-laki hanya menginginkan satu hal" atau "Tidak ada lagi perempuan baik yang tersisa"?
Dilansir dari Psychology Today, narasi beracun ini belakangan menjadi makanan sehari-hari netizen, hingga memicu fenomena mengkhawatirkan yang disebut para sosiolog sebagai "resesi percintaan".
Fakta mengejutkan dari data terbaru menunjukkan bahwa saat ini sekitar setengah dari populasi kaum lajang (single) secara terbuka menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak tertarik lagi untuk menjalin suatu hubungan asmara.
Penurunan minat kencan dan jatuhnya angka pernikahan ini terbukti bukan terjadi secara alami, melainkan akibat ulah sistematis algoritma media sosial yang secara masif menyebarkan informasi salah (hoaks) tentang hubungan, yang sengaja mendesain pria dan wanita agar saling memandang sebagai musuh, bukan sekutu.
Bagaimana Mesin Algoritma Meracuni Pikiran Anda?
Pada dasarnya, algoritma media sosial dirancang untuk satu tujuan: mempertahankan perhatian Anda selama mungkin di depan layar. Caranya adalah dengan mempelajari preferensi Anda berdasarkan apa yang Anda lihat, bahkan jika itu hanya sebuah ketidaksengajaan.
Baca Juga: 5 Ciri-Ciri Cewek Gen Z yang Lebih Menyukai Romansa Tanpa Komitmen: Jebakan Pacaran Abadi
Jika Anda menatap sebuah video yang menjelek-jelekkan konsep kencan selama beberapa detik saja karena penasaran, algoritma akan langsung membaca itu sebagai "ketertarikan".
Dalam waktu singkat, beranda Anda akan dibanjiri oleh konten propaganda anti-hubungan. Melalui paparan berlebihan ini, pengalaman buruk yang sebenarnya tidak biasa terjadi di dunia nyata, perlahan-lahan dipaksa tampak sebagai hal yang lumrah dan biasa saja di mata Anda.
Untuk membuktikan hipotesis ini, sekelompok peneliti melakukan eksperimen dengan membuat akun media sosial baru yang mewakili identitas pria dan wanita. Hasilnya sangat mengejutkan; media sosial secara sengaja menyuguhkan racun psikologis yang berbeda ke masing-masing gender:
Sisi Pria: Wanita Digambarkan sebagai Beban Finansial dan Penghianat
Bagi pengguna pria, informasi salah yang disemburkan algoritma fokus pada contoh-contoh masalah yang dibawa wanita ke dalam hubungan.
-
Doktrin yang Muncul: Wanita digambarkan sebagai sosok yang tidak dapat diprediksi, kacau, tidak bisa dipercaya, dan "semua wanita pasti selingkuh".
-
Dampak Psikologis: Pria dicekoki pesan tersirat bahwa mereka harus selalu waspada dan buru-buru membentengi diri agar tidak dieksploitasi oleh pasangan, terutama dalam menjaga sumber daya emosional serta finansial mereka. Padahal secara realitas, perselingkuhan mungkin ada, tetapi tentu saja bukan sebuah hal yang normal dalam hubungan sehat.
Sisi Wanita: Pria Adalah Beban Hidup dan 'Red Flag' Berjalan
Sebaliknya, konten yang disodorkan kepada pengguna perempuan memiliki inti yang sama namun dengan sudut pandang berbeda: bahwa laki-laki adalah sumber utama segala kesulitan hidup.
-
Doktrin yang Muncul: Video saran kencan kerap menggambarkan pria sebagai beban dan memperingatkan perempuan untuk tidak berkompromi.
-
Penyalahgunaan Istilah Medis: Istilah psikologi seperti anxious-avoidant attachment hingga gangguan kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder) disederhanakan secara berlebihan untuk melabeli keburukan pria. Berdasarkan penelitian ilmiah, jumlah penderita narsisis sejati di dunia ini sebenarnya kurang dari 5 persen dari total populasi. Namun, karena setiap orang pasti memiliki sedikit ego, media sosial membesar-besarkannya agar wanita menganggap pasangan mereka adalah seorang narsistik berbahaya.
Lahirnya Polarisasi: Era Pria dari Mars dan Wanita dari Venus Sudah Lewat
Buku-buku pengembangan diri legendaris yang membahas perbedaan gender seperti Men Are from Mars, Women Are from Venus (1992) memang sudah ada sejak beberapa dekade lalu.
Namun, perbedaan cara penyampaian dahulu dengan sistem kurasi algoritma media sosial saat ini sangat kontras dan berbahaya.
Dahulu, perbedaan dibahas untuk saling memahami. Sekarang, media sosial menjajakan perbedaan untuk memecah belah.
Paparan konstan ini melahirkan fenomena yang disebut polarisasi berbasis pemilihan pasangan (mating polarization), yaitu jurang pemisah yang semakin lebar dalam sikap orang terhadap komitmen asmara.
Baca Juga: 5 Alasan Gen Z Ogah Pacaran Rumit: Kenapa Hubungan Sederhana Lebih Menarik?
Banyak orang akhirnya memilih untuk tetap melajang seumur hidup dan enggan mengambil risiko patah hati karena telanjur paranoid terhadap lawan jenisnya akibat doktrin fiktif di media sosial.
Media sosial telah berhasil mengubah ruang diskusi cinta menjadi medan perang siber antar-gender.
Pada bagian berikutnya dari seri ini, para peneliti akan membagikan panduan taktis tentang bagaimana cara menjinakkan dan mengubah algoritma akun media sosial Anda, agar konten yang lewat di beranda tidak lagi berisi propaganda kebencian, melainkan konten yang berlandaskan pada fakta ilmiah dan edukasi pranikah yang sehat. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko