RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda melihat orang dewasa lanjut usia yang gaya berpakaian, cara bicara, atau aktivitasnya justru mirip dengan anak muda usia 20-an?
Dilansir dari laman Psychology Today, fenomena perbedaan usia ini sangat lumrah dalam kajian psikologi, di mana manusia tidak hanya memiliki usia biologis objektif (dihitung sejak lahir), tetapi juga memiliki usia subjektif (seberapa muda atau tua yang dirasakan di dalam hati).
Selama ini, berbagai penelitian medis telah sepakat bahwa menjaga semangat tetap berjiwa muda pada usia 65 tahun ke atas sangat baik untuk kesehatan fisik dan kesejahteraan mental.
Namun, sebuah riset psikologi terbaru resmi membongkar bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, ternyata memiliki pandangan yang mendua (ambivalen); mereka memuji lansia yang berjiwa muda sebagai simbol sukses melawan penuaan, tetapi akan langsung merasa ilfil (ilusi feel) jika bertingkah terlalu berlebihan hingga melanggar norma sosial penuaan.
Baca Juga: Psikologi Menjelaskan Kebiasaan Banyak Orang Suka Menyimpan Screenshot Meski Jarang Dibuka Lagi
Dengan kata lain, ada batas psikologis yang sangat tipis antara dianggap "keren dan berenergi" dengan dianggap "memalukan karena tidak tahu umur".
Eksperimen Menguji Batas Toleransi Antargenerasi
Untuk memetakan apakah masyarakat sebenarnya mendukung atau justru mencemooh fenomena ini, ilmuwan Amy N. Gourley dan Alison L. Chasteen dari Universitas Toronto, Kanada, melakukan studi mendalam yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Psychology and Aging (2026).
Studi bertajuk “Celebrate or derogate? Reactions to older adults who feel young at heart” ini melibatkan dua eksperimen terpisah:
-
Eksperimen Pertama: Melibatkan 213 sukarelawan daring berusia 18 hingga 34 tahun. Mereka diminta membaca cerita tentang lansia (usia biologis 65 atau 75 tahun) yang memiliki variasi usia subjektif: ada yang merasa sesuai umurnya, ada yang merasa 20 tahun lebih muda, dan ada yang merasa 40 tahun lebih muda (merasa seperti usia 25 atau 35 tahun).
-
Eksperimen Kedua: Melibatkan skala responden yang lebih besar, yakni 672 sukarelawan yang dibagi adil antara kelompok dewasa muda (335 orang) dan dewasa paruh baya (337 orang) untuk menilai skenario serupa, ditambah pertanyaan spesifik mengenai persepsi kesehatan fisik serta kognitif tokoh di dalam cerita.
Para partisipan kemudian diminta menilai para tokoh lansia tersebut dari indikator keramahan, kecerdasan/kompetensi, tingkat kesukaan keseluruhan, hingga seberapa besar keinginan mereka untuk berinteraksi langsung.
Hasil Riset: Dipuji Kompeten dan Sehat, Tapi Ada Syaratnya!
Melalui analisis statistik tingkat lanjut, tim psikolog menemukan pola data yang sangat menarik sekaligus menjadi peringatan bagi kita semua:
Baca Juga: Riset Psikologi Bongkar Efek Bonnie & Clyde Jika Dua Orang Narsis Saling Jatuh Cinta!
-
Sisi Positif (Apresiasi): Secara umum, lansia yang merasa berjiwa muda (baik 20 tahun maupun 40 tahun lebih muda) panen persepsi positif. Mereka dinilai jauh lebih kompeten, cerdas, pintar, mandiri, dan memiliki kondisi fisik serta kognitif yang signifikan jauh lebih sehat ketimbang lansia yang pasrah menerima usia biologisnya. Pada eksperimen kedua, mereka juga dinilai lebih ramah dan menyenangkan.
-
Sisi Negatif (Penolakan akibat Over-Acting): Plot berbalik ketika para ilmuwan memasukkan variabel "pelanggaran stereotip usia" ke dalam pemodelan data. Ketika seorang lansia bertingkah terlalu ekstrem dan menabrak batasan wajar dari apa yang diharapkan masyarakat terhadap orang tua, penilaian langsung merosot tajam.
Pelanggaran stereotip usia yang terlalu mencolok terbukti berkaitan kuat dengan penurunan tingkat kehangatan, penurunan rasa suka secara keseluruhan dari anak muda, serta jatuhnya minat generasi muda untuk berinteraksi dengan lansia tersebut.
Anak muda cenderung menilai perilaku yang terlalu dipaksakan menyerupai ABG sebagai sesuatu yang "memalukan" atau tidak menempatkan diri dengan baik.
Seni Menua dengan Anggun dan Proporsional
Dua eksperimen dalam penelitian komprehensif ini mengirimkan pesan sosial yang sangat jelas.
Menjaga api semangat dan kesehatan internal agar tetap awet muda di usia senja adalah hal yang sangat positif dan dikagumi oleh generasi di bawah kita. Namun, kunci penerimaan sosial tersebut berada pada kontrol porsi dan proporsionalitas.
Masyarakat akan menghormati orang tua yang tetap bugar, berpikiran maju, dan mandiri. Namun, masyarakat juga menuntut agar para lansia tidak kehilangan kebijaksanaan dan kewajaran usianya.
Jangan sampai upaya untuk menolak tua justru membuat Anda kehilangan rasa hormat dan dikucilkan dari pergaulan lintas generasi karena dinilai melanggar kodrat sosial secara berlebihan. Menualah dengan sehat, aktif, dan tetap anggun! (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko