RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak semua orang yang terlihat ramah benar-benar memiliki niat baik. Dalam kehidupan sosial, ada individu yang tampak sopan, mudah tersenyum, dan terlihat menyenangkan di depan banyak orang, tetapi diam-diam sering merendahkan orang lain dengan cara yang halus.
Masalahnya, perilaku seperti ini tidak selalu mudah dikenali. Mereka jarang menunjukkan sikap kasar secara terang-terangan. Sebaliknya, bentuk merendahkan yang dilakukan sering dibungkus sebagai candaan, saran, kritik, atau bahkan perhatian.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa sebagian orang menggunakan perilaku semacam ini untuk mempertahankan rasa superior, mencari validasi, atau menutupi rasa tidak aman dalam dirinya sendiri. Karena dilakukan secara subtil, orang lain sering baru menyadari dampaknya setelah merasa lelah, tidak nyaman, atau perlahan kehilangan rasa percaya diri.
Baca Juga: 7 Tanda Pasangan Perempuan Sebenarnya Tidak Bahagia Meski Terlihat Baik-Baik Saja, Menurut Psikologi
Dilansir dari berbagai studi psikologi perilaku dan hubungan sosial, terdapat beberapa ciri yang sering muncul pada orang yang terlihat baik di luar, tetapi diam-diam suka merendahkan orang lain.
1. Mereka Sering Membuat Candaan yang Terasa Menyindir
Salah satu bentuk yang paling umum adalah menjadikan hinaan sebagai humor. Mereka mungkin berbicara dengan nada santai dan disertai tawa, tetapi isi ucapannya merendahkan penampilan, kemampuan, kehidupan pribadi, atau pencapaian orang lain.
Ketika lawan bicara terlihat tidak nyaman, mereka biasanya langsung berlindung di balik kalimat seperti “cuma bercanda” atau “jangan terlalu sensitif”. Dalam psikologi, perilaku ini sering dikaitkan dengan passive-aggressive behavior, yaitu cara menyampaikan agresi atau emosi negatif secara tidak langsung.
Karena dibungkus humor, perilaku tersebut sering membuat orang lain bingung apakah mereka benar-benar tersinggung atau hanya terlalu perasa.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Tiba-Tiba Menjauh Tanpa Penjelasan? Ini yang Sering Terjadi Secara Psikologis
2. Pujian Mereka Sering Terasa Tidak Tulus
Tidak semua pujian diberikan dengan niat positif. Ada orang yang memuji, tetapi di saat yang sama menyisipkan nada meremehkan secara halus.
Mereka mungkin terdengar mengapresiasi pencapaian seseorang, tetapi cara penyampaiannya justru memberi kesan bahwa keberhasilan itu tidak terlalu penting atau terasa mengejutkan untuk dicapai oleh orang tersebut.
Psikologi sosial mengenal fenomena ini sebagai backhanded compliment, yaitu pujian yang sebenarnya mengandung unsur sindiran atau upaya menjatuhkan secara halus. Karena disampaikan dengan cara yang samar, banyak orang baru menyadari efeknya setelah percakapan selesai.
3. Mereka Sering Membanding-Bandingkan Orang Lain
Orang yang diam-diam suka merendahkan biasanya memiliki kecenderungan membandingkan seseorang dengan orang lain dalam percakapan sehari-hari.
Perbandingan tersebut bisa menyangkut pekerjaan, pencapaian, penampilan, hingga gaya hidup. Menariknya, hal itu sering disampaikan dengan nada seolah hanya sedang mengobrol biasa.
Baca Juga: Tanda-Tanda Karyawan Beraura Pemimpin, Bikin Atasan Selalu Sungkan
Dalam psikologi, perilaku seperti ini berkaitan dengan social comparison behavior, yaitu kecenderungan menilai diri sendiri melalui posisi sosial dibandingkan orang lain. Masalahnya, sebagian orang menggunakan pola ini untuk menciptakan kesan bahwa dirinya lebih unggul tanpa harus mengatakannya secara langsung.
4. Mereka Sangat Ramah di Depan Umum, tetapi Berbeda Saat Berinteraksi Secara Personal
Salah satu tanda yang cukup membingungkan adalah adanya perbedaan sikap antara ruang publik dan interaksi pribadi.
Di depan banyak orang, mereka terlihat suportif, hangat, dan penuh perhatian. Namun saat berbicara secara personal, komentar-komentarnya terasa lebih meremehkan atau membuat orang lain tidak nyaman.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai social masking, yaitu usaha mempertahankan citra sosial tertentu di depan lingkungan sekitar. Karena itu, orang seperti ini sering memiliki reputasi baik meski sebenarnya meninggalkan tekanan emosional dalam hubungan yang lebih dekat.
Baca Juga: Jangan Terjebak, Ini Ciri-ciri Hubungan Sehat Secara Emosional Menurut Psikologi Relasi
5. Mereka Sulit Benar-Benar Senang Melihat Orang Lain Berhasil
Sikap seseorang terhadap keberhasilan orang lain sering menunjukkan kondisi emosional yang sebenarnya.
Orang yang suka merendahkan biasanya terlihat kurang nyaman ketika orang lain mendapatkan pencapaian atau perhatian positif. Mereka mungkin mengecilkan keberhasilan tersebut, mencari kekurangan di baliknya, atau segera mengalihkan pembicaraan kepada dirinya sendiri.
Dalam psikologi sosial, perilaku ini sering berkaitan dengan hidden insecurity atau rasa tidak aman tersembunyi terhadap nilai diri sendiri. Akibatnya, keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman yang memicu kebutuhan untuk kembali merasa lebih unggul.
6. Mereka Membuat Orang Lain Merasa Kecil tanpa Terlihat Kasar
Ini salah satu ciri yang paling sulit dijelaskan, tetapi cukup sering dirasakan.
Mereka jarang berbicara kasar secara langsung. Namun setelah berinteraksi, orang lain justru merasa minder, tidak cukup baik, atau kehilangan rasa percaya diri tanpa tahu penyebab pastinya.
Fenomena ini berkaitan dengan subtle dominance behavior, yaitu usaha menunjukkan superioritas sosial secara halus dalam percakapan maupun interaksi sehari-hari.
Karena tidak dilakukan secara agresif, dampaknya sering lebih membingungkan secara emosional.
7. Mereka Sulit Mengakui Kesalahan dalam Cara Memperlakukan Orang
Ketika perilakunya dipersoalkan, orang seperti ini biasanya tidak benar-benar mencoba memahami dampaknya terhadap orang lain.
Sebaliknya, mereka cenderung membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya hanya jujur, hanya bercanda, atau bahwa orang lain terlalu sensitif.
Psikologi menunjukkan bahwa individu dengan kebutuhan superioritas tinggi sering merasa citra dirinya terancam ketika dikritik. Akibatnya, mereka lebih sibuk mempertahankan ego dibanding mengevaluasi cara mereka memperlakukan orang lain.
Tidak semua perilaku merendahkan muncul secara terang-terangan. Dalam banyak kasus, sikap tersebut justru dibungkus lewat candaan, sindiran halus, atau komentar yang terlihat sepele di permukaan.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa sebagian orang menggunakan cara-cara subtil untuk mempertahankan rasa superior atau menutupi rasa tidak aman dalam dirinya sendiri. Karena itu, keramahan di permukaan tidak selalu berarti seseorang memiliki energi sosial yang benar-benar sehat bagi orang lain. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari