RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Masyarakat Indonesia bakal kembali dapat menyaksikan fenomena alam unik pada malam Rabu (22/4). Kali ini, bakal ada hujan meteor atau bintang jatuh yang dapat disaksikan di mayoritas wilayah Nusantara.
Hanya saja, mereka yang ingin melihat langsung peristiwa ini bakal harus begadang sambil berharap langit tetap cerah sepanjang malam. Menurut Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Jamaluddin, hujan meteor bakal terjadi sekitar pukul 23:00 WIB hingga Kamis subuh (23/4).
“Hujan meteor Lyrid bisa diamati dari Indonesia pada dini hari malam Kamis 23 April sampai sebelum matahari terbit. Ada sekitar 10 hingga 20 meteor per jam dari arah rasi Lyra di langit utara,” jelas Thomas sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Mengutip dari NASA, hujan meteor Lyrid adalah salah satu fenomena alam yang paling pertama diketahui, dengan penampakan pertama tercatat dalam sejarah pada tahun 687 sebelum Masehi (SM) di Tiongkok. Fenomena ini merupakan fenomena tahunan, yang umumnya terjadi antara 17 hingga 26 April di setiap tahun, dengan puncak hujan antara tanggal 22 dan 23 April.
Hujan meteor Lyrid dinamai demikian karena berasal dari pecahan komet yang bergerak keluar atau menjauh dari rasi bintang Lyra. Lebih tepatnya, hujan meteor ini merupakan pecahan dari komet Thatcher.
Baca Juga: Fenomena Gilar-gilar Kedunglantung, Unigoro Teliti Adaptasi Ikan di Sungai Berminyak Bojonegoro
Hujan meteor Lyrid memiliki frekuensi sebanyak 5 hingga 20 meteor per jam dan rata-rata sebesar 10 meteor per jam, namun dalam beberapa kesempatan seperti pada tahun 1945 dan 1982, intensitas meteor bisa meningkat hingga 100 meteor per jam. Meteor biasanya melintas dengan terang dan cepat, namun tanpa meninggalkan jejak panjang, sehingga perlu ketelitian dalam melihat fenomena ini.
Serupa dengan berbagai fenomena alam lain yang terjadi pada malam hari, hujan meteor Lyrid dapat dilihat secara kasat mata, dan aman untuk kesehatan. Agar lebih mudah melihat fenomena ini, ada beberapa hal yang disarankan untuk diikuti:
- Pantau komet dari wilayah dengan minim polusi cahaya, misal ke pedesaan.
- Matikan handphone atau gawai elektronik lain agar lebih nyaman melihat ke langit.
- Mulai pantau fenomena 15-30 menit sebelum perkiraan agar mata dapat membiasakan diri melihat di kegelapan.
(edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana