Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

5 Hal Unik Tentang Waktu Imsak di Indonesia yang Tidak Ada di Timur Tengah: Sebuah Tradisi 'Kehati-hatian' Islam Nusantara

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 12 Februari 2026 | 15:59 WIB
SAHUR: Momen kebersamaan ketika sahur.
SAHUR: Momen kebersamaan ketika sahur.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bagi masyarakat Indonesia, suara seruan "Imsaaak...!" di masjid-masjid adalah penanda penting untuk segera berhenti makan sahur. Namun, jika Anda menjalankan puasa di negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi atau Mesir, Anda mungkin akan bingung karena tidak akan menemukan jadwal "Imsak" 10 menit sebelum Subuh seperti di tanah air.

Berikut adalah 5 fakta unik mengenai waktu Imsak di Indonesia dibandingkan dengan tradisi di Timur Tengah, dengan tujuan untuk memperluas wawasan keagamaan serta memahami latar belakang budaya yang membentuk praktik ibadah di Nusantara:

1. Makna Imsak: Peringatan vs Batas Mulai

Di Indonesia, Imsak dipahami sebagai waktu "lampu kuning" atau persiapan sebelum fajar. Sementara itu, secara bahasa di Timur Tengah, Imsak berarti "menahan" yang identik dengan dimulainya waktu puasa itu sendiri (saat terbit fajar).

Tujuan: Untuk memberikan jeda waktu bagi umat Muslim agar bisa membersihkan mulut, bersiwak, atau minum seteguk air terakhir tanpa terburu-buru sebelum adzan Subuh berkumandang.

2. Tradisi Sirine dan Pengumuman Keliling

Hanya di Indonesia kita menemukan tradisi membunyikan sirine panjang atau pengumuman melalui pengeras suara masjid khusus untuk waktu Imsak. Di Timur Tengah, penanda puasa hanya bertumpu pada suara Adzan.

Tujuan: Untuk menjangkau masyarakat yang mungkin tidak memiliki jam atau sedang tertidur agar segera menyelesaikan aktivitas sahurnya sebelum batas waktu suci dimulai.

3. Perbedaan Sistem Dua Adzan

Di banyak wilayah Timur Tengah (seperti di zaman Nabi Muhammad SAW), digunakan sistem dua kali Adzan. Adzan pertama (oleh Bilal bin Rabah) untuk membangunkan orang, dan Adzan kedua (oleh Ibnu Ummi Maktum) sebagai tanda masuk waktu Subuh dan mulai berpuasa. Indonesia mengganti sistem Adzan pertama tersebut dengan jadwal Imsak.

Tujuan: Untuk mengadopsi semangat "peringatan dini" yang ada di zaman Rasulullah namun disesuaikan dengan konteks budaya masyarakat Indonesia yang lebih akrab dengan jadwal waktu tunggal.

4. Implementasi Konsep Ihtiyat (Kehati-hatian)

Waktu Imsak 10 menit sebelum Subuh di Indonesia adalah hasil ijtihad para ulama Nusantara yang menggunakan prinsip Ihtiyat. Para ulama di Timur Tengah umumnya lebih ketat mengikuti nash bahwa makan diperbolehkan hingga fajar benar-benar terbit.

Tujuan: Menjaga agar ibadah puasa seseorang tetap sah dan aman, menghindari risiko masih ada makanan di mulut saat adzan Subuh yang sah sudah berkumandang.

5. Imsak Sebagai Produk Budaya Walisongo dan Ulama Lokal

Metode penentuan Imsak di Indonesia sangat dipengaruhi oleh cara dakwah ulama terdahulu (termasuk pengaruh mazhab Syafi'i yang dominan) yang sangat mempertimbangkan psikologi masyarakat lokal agar tidak kaget saat memasuki waktu ibadah.

Baca Juga: Sahur, Tidur Lagi, Bangun, Mengapa Mulut Terasa Pahit?

Tujuan: Mempermudah transisi dari waktu makan ke waktu ibadah secara perlahan dan teratur, sehingga suasana pagi sebelum Subuh menjadi lebih tenang dan khusyuk.

Fakta Penting: Bolehkah Makan Saat Imsak?

Secara hukum syariat yang berlaku global (termasuk di Indonesia dan Timur Tengah), batas akhir makan sahur adalah saat Fajar Shadiq terbit (waktu Adzan Subuh). Jadi, jika di Indonesia sirine Imsak sudah berbunyi namun adzan Subuh belum berkumandang, secara hukum Anda masih diperbolehkan untuk makan atau minum. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#sahur #timur tengah #islam nusantara #Puasa Ramadan 2026 #imsak #hukum islam #Ramadan 2026 #adzan subuh