Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

7 Alasan Mengapa Tradisi Nyekar Begitu "Sakral" dan Menyentuh Hati

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 9 Februari 2026 | 18:13 WIB

 

NYEKAR: Pedagang bunga untuk nyekar.
NYEKAR: Pedagang bunga untuk nyekar.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menjelang fajar Ramadan, pemakaman di berbagai pelosok Indonesia mendadak berubah menjadi hamparan warna dan aroma wangi. Tradisi ini kita kenal dengan sebutan Nyekar, diambil dari kata sekar yang berarti bunga.

Bagi masyarakat kita, Nyekar bukan sekadar kunjungan ziarah biasa. Ini adalah sebuah "pertemuan" emosional yang sakral, di mana yang hidup kembali menjalin komunikasi batin dengan mereka yang telah berpulang melalui untaian doa dan wanginya bunga setaman.

Mengapa tradisi ini begitu kuat melekat? Berikut adalah 7 filosofi mendalam di balik ritual Nyekar:

1. Membersihkan Makam: Metafora "Menyapu" Kotoran Hati

Sebelum doa dipanjatkan, tangan-tangan keluarga biasanya sibuk mencabuti rumput liar dan menyeka debu di nisan.

Baca Juga: Menunggu Tengah Malam: Tradisi Aneh yang Tetap Kita Pertahankan di Malam Tahun Baru

2. Sentuhan Wanita dalam Menjaga Silsilah

Dalam ritual ini, kaum wanita sering kali menjadi sosok sentral. Mulai dari meracik komposisi mawar, melati, dan kenanga, hingga mengatur logistik seluruh keluarga.

3. Wangi Bunga dan Siraman Air: Harapan yang Harum

Aroma semerbak bunga dan dinginnya siraman air adalah identitas visual dari Nyekar.

Baca Juga: Sejarah Halloween: Dari Ritual Kuno Bangsa Celtic hingga Tradisi Modern yang Meriah

4. Gema Zikir dan Yasin di Balik Sunyinya Nisan

Nyekar di Indonesia hampir selalu diiringi dengan pembacaan surat Yasin dan zikir bersama di sisi makam.

5. Pengingat Jeda Kehidupan

Berdiri di depan gundukan tanah adalah cara tercepat untuk menyadari hakikat kemanusiaan.

Baca Juga: Sekolah Swasta Bojonegoro Sudah Punya Tradisi Makan Siang Sendiri, Jaga Gizi Melalui Katering Sekolah atau Dapur Yayasan

6. Reuni Keluarga di "Rumah" Masa Depan

Seringkali, Nyekar menjadi momen "mudik mini" yang mengumpulkan anggota keluarga yang terpencar.

7. Berkah Ekonomi bagi Pedagang Bunga

Fenomena ini secara alami menggerakkan ekonomi mikro di sekitar pemakaman.

Nyekar adalah warisan luhur yang menjembatani rasa rindu dengan doa. Tradisi ini mengajarkan kita bahwa kematian bukanlah pemutus hubungan, melainkan pengingat bagi yang hidup untuk terus menanam kebaikan.

Apakah Bapak/Ibu sudah menjadwalkan waktu untuk Nyekar ke makam leluhur di Bojonegoro akhir pekan ini? Jangan lupa siapkan doa terbaik dan niat yang tulus untuk menyambut bulan suci. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#indonesia #Budaya #Filosofis #makam #Ramadan 2026 #nyekar #bunga #Tradisi