RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam percakapan sehari-hari, ada kalimat yang terdengar ringan, bahkan terkesan menenangkan, tetapi justru meninggalkan rasa tidak nyaman. Ungkapan seperti “kamu terlalu sensitif”, “itu kan sepele”, atau “jangan dibawa perasaan” sering kali diucapkan tanpa niat buruk.
Namun bagi yang mendengarnya, kalimat-kalimat tersebut bisa terasa mengecilkan. Bukan karena masalahnya besar, melainkan karena perasaannya tidak diakui.
Psikologi memandang kebiasaan meremehkan perasaan orang lain bukan sekadar soal sikap tidak peduli. Dalam banyak kasus, ia mencerminkan cara seseorang berhubungan dengan emosi—baik emosi orang lain maupun emosinya sendiri.
Lalu, pola emosi seperti apa yang biasanya muncul pada orang yang kerap meremehkan perasaan orang lain?
1. Kesulitan Mengenali Emosi di Luar Diri
Tidak semua orang terlatih membaca isyarat emosional. Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai emotional awareness, yakni kesadaran terhadap perasaan yang tidak selalu diungkapkan secara langsung.
Orang yang mudah meremehkan emosi sering kali hanya menangkap aspek logis dari suatu situasi, sementara lapisan perasaan di baliknya luput terbaca. Akibatnya, respons yang diberikan terasa datar atau kurang empatik.
Ini bukan selalu karena tidak peduli, tetapi karena keterampilan emosionalnya belum terasah.
2. Terbiasa Menekan atau Mengabaikan Emosi Sendiri
Menariknya, banyak individu yang meremehkan perasaan orang lain justru tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberi ruang aman bagi emosi.
Dalam psikologi, emosi yang lama ditekan cenderung dianggap sebagai kelemahan. Ketika seseorang terbiasa mengabaikan perasaannya sendiri, ia akan lebih mudah melakukan hal yang sama pada orang lain.
Apa yang tidak diizinkan pada diri sendiri, sering kali tidak diizinkan pula pada orang lain.
3. Mengutamakan Logika di Atas Validasi Emosional
Sebagian orang sangat terlatih dalam berpikir rasional. Mereka cepat mencari solusi, memberi saran, atau menilai situasi secara objektif.
Namun psikologi relasi menekankan bahwa tidak semua situasi membutuhkan solusi. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah pengakuan bahwa perasaan tersebut valid.
Ketika logika selalu didahulukan, emosi orang lain mudah dianggap berlebihan atau tidak relevan.
4. Tidak Terbiasa Melakukan Validasi Emosional
Validasi emosional adalah kemampuan untuk mengakui perasaan orang lain tanpa harus setuju atau membenarkannya. Keterampilan ini tidak selalu dimiliki secara alami.
Orang yang mudah meremehkan perasaan sering kali tidak terbiasa berkata, “Aku mengerti ini berat buatmu,” meski ia tidak sepenuhnya memahami situasinya.
Dalam psikologi, kurangnya validasi emosional dapat membuat relasi terasa kering, meski secara permukaan tampak baik-baik saja.
5. Dampaknya Baru Terasa dalam Hubungan yang Lebih Dekat
Menariknya, kebiasaan meremehkan perasaan sering tidak menimbulkan masalah di relasi sosial yang longgar. Ia baru terasa ketika hubungan menjadi lebih dekat dan intens.
Di titik inilah, kebutuhan akan empati dan pengakuan emosional meningkat. Ketika tidak terpenuhi, muncul jarak emosional yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan.
Psikologi menunjukkan bahwa relasi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara rasionalitas dan kepekaan emosi.
6. Sering Tidak Disadari sebagai Pola
Banyak orang tidak menyadari bahwa ucapannya terasa meremehkan. Niatnya mungkin menenangkan, menyederhanakan, atau menguatkan.
Namun tanpa kesadaran emosional, kalimat yang dimaksudkan membantu justru bisa membuat orang lain merasa sendirian dengan perasaannya.
Kesadaran inilah yang menjadi kunci perubahan.
Orang yang mudah meremehkan perasaan orang lain tidak selalu bermaksud menyakiti. Psikologi menunjukkan bahwa perilaku ini sering berakar pada hubungan yang belum tuntas dengan emosi, baik emosi sendiri maupun orang lain.
Bukan untuk menilai, melainkan untuk memahami bahwa perasaan yang diabaikan cenderung tidak hilang, melainkan menumpuk dan memengaruhi kualitas relasi secara perlahan. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari