RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda digedor oleh anggota keluarga karena terlalu lama berada di dalam kamar mandi? Atau mungkin Anda sendiri merasa bahwa guyuran air hangat di pagi atau malam hari adalah satu-satunya momen di mana Anda merasa benar-benar "hidup"?
Seringkali, orang yang suka menghabiskan waktu lama di kamar mandi dilabeli sebagai orang yang lelet, pemalas, atau boros air. Padahal, sama halnya dengan orang yang suka menumpuk barang yang berkaitan dengan kecemasan masa depan, durasi dan suhu air saat mandi ternyata memiliki korelasi langsung dengan kondisi emosional seseorang.
Psikologi menyebut fenomena ini bukan sebagai kemalasan, melainkan mekanisme pertahanan diri (coping mechanism). Berikut adalah penjelasan ilmiah mengapa seseorang betah berlama-lama di kamar mandi.
1. Mengkompensasi Rasa Kesepian (Loneliness)
Ini adalah fakta yang mungkin terdengar menyedihkan namun sangat manusiawi. Sebuah studi terkenal yang dilakukan oleh peneliti John Bargh dan Idit Shalev dari Yale University menemukan hubungan erat antara kehangatan fisik dan kehangatan sosial.
Dalam jurnal yang diterbitkan di Emotion, mereka menyimpulkan:
-
Substitusi Kehangatan: Semakin kesepian seseorang secara emosional, semakin sering mereka mandi dan semakin hangat air yang mereka gunakan.
-
Mekanisme Otak: Otak manusia memproses kehangatan fisik (air panas) dan kehangatan sosial (pelukan, kasih sayang) di area yang berdekatan, yaitu insula.
Jadi, berendam air hangat berlama-lama secara bawah sadar adalah cara tubuh "memeluk" diri sendiri untuk mengusir rasa isolasi sosial.
Baca Juga: Orang yang Suka Memakai Baju Hitam Ternyata Memiliki 3 Pesona Tersembunyi Ini Menurut Psikologi
2. Fase Inkubasi Kreativitas ("The Shower Effect")
Pernahkah Anda mendapatkan ide brilian justru saat sedang keramas, bukan saat duduk serius di meja kerja? Fenomena ini disebut The Shower Effect.
Menurut ilmuwan kognitif Scott Barry Kaufman, orang yang betah di kamar mandi sering kali sedang dalam mode "melamun produktif".
-
Dopamin Rush: Air hangat memicu pelepasan dopamin yang membuat otak rileks.
-
Distraksi Positif: Aktivitas mandi yang repetitif (menyabuni badan, membilas rambut) membuat bagian otak Prefrontal Cortex (pusat logika) beristirahat sejenak, membiarkan Default Mode Network (pusat imajinasi) mengambil alih.
Mereka yang mandi lama bukan sedang membuang waktu; mereka sering kali sedang memecahkan masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan saat bekerja.
3. Kebutuhan Akan Privasi dan "Reset" Mental
Bagi mereka yang berkepribadian introvert atau memiliki tingkat sensitivitas tinggi (Highly Sensitive Person), dunia luar bisa terasa sangat bising dan melelahkan (over-stimulasi).
Psikolog menjelaskan bahwa kamar mandi sering kali menjadi satu-satunya tempat di rumah yang memiliki kunci pintu dan privasi mutlak. Suara gemericik air berfungsi sebagai White Noise yang memblokir suara bising dari luar.
Baca Juga: Orang yang Suka Makan Pedas Ternyata Memiliki 3 Ciri Kepribadian Menarik Ini Menurut Psikologi
Berlama-lama di kamar mandi adalah cara mereka melakukan recharging energi mental sebelum kembali menghadapi interaksi sosial dengan keluarga atau rekan kerja.
Kesimpulan: Ini Adalah Bentuk Self-Care
Jika Anda adalah tipe orang yang suka mandi lama, jangan merasa bersalah (selama tidak memboroskan air secara ekstrem). Tubuh dan pikiran Anda mungkin sedang memberi sinyal bahwa Anda membutuhkan ketenangan, kehangatan, atau ruang untuk berpikir.
Namun, jika kebiasaan ini didorong oleh rasa sepi yang mendalam, mungkin ini saatnya untuk tidak hanya mencari kehangatan dari air shower, tetapi juga mulai menyapa teman lama untuk mencari kehangatan sosial yang nyata. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko