RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bagi lidah orang Indonesia, ungkapan "Makan kalau nggak pedas, rasanya kurang nendang" mungkin sudah menjadi mantra sehari-hari.
Sementara sebagian orang menghindari cabai karena takut sakit perut, ada kelompok orang yang justru merasa hidupnya hambar tanpa sensasi mulut terbakar akibat sambal.
Sama halnya dengan orang yang suka menumpuk barang yang berkaitan dengan rasa aman, preferensi rasa, khususnya rasa pedas, ternyata bukan sekadar urusan lidah.
Dalam dunia psikologi, kecintaan terhadap makanan pedas (yang sebenarnya adalah sensasi nyeri, bukan rasa) memiliki korelasi kuat dengan tipe kepribadian tertentu. Mengapa ada orang yang rela "menyiksa" diri dengan kepedasan level dewa? Berikut jawabannya menurut sains.
Baca Juga: Orang yang Berhati Mulia Biasanya Memiliki Pola Kepribadian Tertentu, Menurut Psikologi
1. Si Pencari Sensasi (Sensation Seeker)
Jika Anda adalah orang yang selalu menuangkan saus sambal ekstra ke dalam bakso Anda, besar kemungkinan Anda adalah seorang Sensation Seeker.
Sebuah studi dari Pennsylvania State University yang dipimpin oleh peneliti Nadia Byrnes menemukan hubungan positif antara preferensi makanan pedas dengan kepribadian pencari sensasi.
-
Haus Tantangan: Mereka yang menyukai pedas cenderung menyukai aktivitas yang memacu adrenalin, seperti menonton film horor, naik rollercoaster, atau bepergian ke tempat baru yang asing.
-
Anti-Bosan: Rasa pedas memberikan "ledakan" stimulasi yang dibutuhkan otak mereka untuk mengusir kebosanan. Bagi mereka, rasa aman dan datar itu membosankan.
2. Penganut "Benign Masochism" (Masokisme Ringan)
Istilah ini terdengar menyeramkan, namun dalam psikologi, ini adalah konsep yang sangat wajar. Profesor Paul Rozin dari University of Pennsylvania, seorang pakar psikologi makanan, menjelaskan bahwa pecinta pedas menikmati Benign Masochism.
Apa maksudnya?
Baca Juga: Orang yang Disegani Tidak Selalu Dominan, Psikologi Menyebut Ada Pola Perilaku Tertentu
-
Menikmati Bahaya yang Aman: Otak manusia tahu bahwa cabai menyebabkan sensasi terbakar (nyeri), tetapi otak juga tahu bahwa itu tidak benar-benar membunuh.
-
Kepuasan Mental: Ada kepuasan psikologis tersendiri ketika tubuh bisa bertahan menghadapi rasa sakit tersebut. Ini mirip dengan sensasi lega dan bangga setelah berhasil keluar dari rumah hantu. Makan pedas adalah cara aman untuk "uji nyali" setiap hari.
3. Pribadi yang Terbuka dan Eksploratif
Orang yang menyukai makanan pedas jarang menjadi orang yang kaku atau picky eater. Rasa pedas sering dikaitkan dengan sifat kepribadian Openness to Experience (Keterbukaan terhadap Pengalaman).
Ciri-cirinya meliputi:
-
Toleransi Risiko: Mereka tidak takut mencoba menu aneh atau situasi yang tidak familiar.
-
Fokus pada Hadiah (Reward Driven): Otak mereka merespons rasa sakit dari capsaicin (zat pedas cabai) dengan melepaskan endorfin dan dopamin (hormon bahagia). Mereka secara tidak sadar adalah orang yang optimis mengejar kebahagiaan, meskipun harus melalui sedikit rasa sakit.
Fakta Unik: Bukan Karena Lidah Kebal
Banyak yang mengira pecinta pedas memiliki lidah yang "mati rasa". Faktanya, studi menunjukkan bahwa pecinta pedas merasakan sensasi terbakar yang sama kuatnya dengan orang yang tidak suka pedas. Bedanya, pecinta pedas memilih untuk menyukai sensasi terbakar tersebut, bukan karena mereka tidak merasakannya. Ini menunjukkan mentalitas yang tangguh.
Kesimpulan
Jadi, jika teman Anda mengajak makan di warung penyetan dengan sambal level mematikan, jangan buru-buru menganggap mereka aneh. Secara psikologis, mereka adalah orang-orang yang pemberani, suka tantangan, dan tahu cara menikmati hidup, meskipun dengan cara yang membuat berkeringat.
Apakah Anda termasuk tim makan pedas atau tim makan manis? (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko