Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Seni Menunda Kesenangan: 5 Cara Sederhana Melatih Delayed Gratification demi Keuangan Sehat

Bhagas Dani Purwoko • Rabu, 14 Januari 2026 | 16:50 WIB
DELAYED GRATIFICATION: Upaya menunda kesenangan untuk stabilitas finansial.
DELAYED GRATIFICATION: Upaya menunda kesenangan untuk stabilitas finansial.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - ​Pernahkah Anda merasa "gatal" ingin memencet tombol checkout saat melihat diskon kilat, padahal barang tersebut tidak benar-benar Anda butuhkan?

Atau mungkin, Anda sering merasa uang gaji "numpang lewat" karena habis untuk memenuhi keinginan sesaat?

​Jika ya, Anda tidak sendirian. Di dunia yang serba instan ini, kita dikepung oleh godaan untuk memuaskan keinginan detik ini juga.

Namun, kunci rahasia dari orang-orang dengan finansial yang merdeka sebenarnya sederhana: Delayed Gratification (kemampuan menunda kesenangan).

​Menunda kesenangan bukan berarti menyiksa diri, melainkan seni memilih antara "apa yang Anda inginkan sekarang" dengan "apa yang paling Anda inginkan nanti."

​Berikut adalah rencana sederhana untuk mulai melatih otot delayed gratification Anda dalam mengelola keuangan:

1. Terapkan Aturan 30 Hari (atau minimal 24 Jam)

​Ini adalah teknik paling ampuh untuk melawan impulse buying. Saat Anda melihat barang yang sangat diinginkan:

​Tunda pembelian selama 24 jam untuk barang kecil. ​Tunda selama 30 hari untuk barang besar atau mahal.

​Seringkali, setelah emosi mereda, keinginan tersebut hilang dengan sendirinya. Jika setelah 30 hari Anda masih merasa membutuhkannya, barulah pertimbangkan untuk membeli.

2. Hitung Harga Barang dalam "Jam Kerja"

​Sebelum membeli sesuatu, ubah harganya menjadi satuan waktu kerja Anda.
​Contoh: Jika gaji Anda Rp50.000 per jam dan Anda ingin membeli sepatu seharga Rp1.000.000, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah sepatu ini layak ditukar dengan 20 jam (hampir 3 hari) lelahnya saya bekerja?"

Cara pandang ini biasanya akan langsung mengerem keinginan belanja yang tidak perlu.

3. Visualisasikan "Masa Depan Anda"

​Kita sering gagal menunda kesenangan karena sosok "Diri Kita di Masa Depan" terasa seperti orang asing.

Cobalah beri nama pada tujuan masa depan Anda. Jangan hanya menabung untuk "Dana Pensiun", tapi menabunglah untuk "Rumah Nyaman di Hari Tua" atau "Pendidikan Terbaik Si Kecil".

Membayangkan hasil akhir yang manis membuat penundaan hari ini terasa lebih ringan.

4. Kurangi Pemicu (Unsubscribe & Unfollow)

​Delayed gratification akan jauh lebih mudah dilakukan jika godaannya tidak terlihat.

​Hapus aplikasi belanja jika Anda sering membukanya saat bosan. ​Unfollow akun yang hobi pamer kemewahan atau racun belanja. ​Matikan notifikasi promo e-commerce.

5. Rayakan Kemenangan Kecil

​Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Jika Anda berhasil melewati satu bulan tanpa belanja impulsif, berikan hadiah kecil yang sudah dianggarkan (misalnya kopi enak atau menonton film).

Ini akan melatih otak Anda untuk memahami bahwa disiplin juga memiliki hadiah.

Melatih delayed gratification adalah seperti melatih otot; awalnya akan terasa sakit dan berat, namun lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang alami.

Ingat, setiap kali Anda berkata "tidak" pada keinginan kecil hari ini, Anda sedang berkata "ya" pada kebebasan finansial yang besar di masa depan. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#unfollow #uninstall #unsubscribe #Menunda Kesenangan #merdeka #Delayed Gratification #belanja #finansial #impulsif