Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Faktor Psikologis di Balik Rasa ‘Tidak Pernah Puas’ Meski Hidup Telah Sukses

Hakam Alghivari • Minggu, 11 Januari 2026 | 21:00 WIB

 

Ilustrasi ketenangan dalam mengendalikan emosi.
Ilustrasi ketenangan dalam mengendalikan emosi.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kita sering melihat orang yang secara objektif telah mencapai kehidupan ideal karier mapan, pasangan bahagia, finansial stabil, tetapi tetap merasa kosong atau tidak pernah puas.

Fenomena ini terasa paradoks; secara sosial dianggap telah mencapai puncak, namun secara internal tidak ada kepuasan. Perasaan seperti itu bukan sekadar “kurang bersyukur”, melainkan memiliki akar psikologis yang kuat.

Psikologi modern memandang kepuasan hidup bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai proses dinamis yang dipengaruhi oleh mekanisme kognitif, emosional, dan sosial dalam diri manusia.

1. Hedonic Adaptation: Kebahagiaan yang Kembali ke Titik Awal

Salah satu konsep utama adalah hedonic adaptation atau treadmill hedonik, kecenderungan manusia untuk kembali ke level kebahagiaan yang stabil setelah mengalami perubahan, baik positif maupun negatif. Dalam penelitian psikologi, ini berarti pengalaman atau pencapaian besar hanya menghadirkan lonjakan kepuasan sementara, lalu lama-kelamaan efeknya memudar. Artinya, setelah “menikmati” pencapaian, kita akan kembali ke baseline emosi seperti sebelumnya. 

Contoh: seseorang yang baru dipromosikan atau membeli rumah baru mungkin merasa bahagia pada awalnya, tetapi seiring waktu, kebahagiaan itu memudar karena kita terbiasa terhadap kondisi baru tersebut.

Mengatasi adaptasi ini bukan hanya soal pencapaian; penelitian menunjukkan bahwa apresiasi aktif terhadap pencapaian memiliki peran penting dalam memperlambat adaptasi. Individu yang sadar dan menghargai pengalaman positif akan mengalami kebahagiaan lebih panjang daripada yang hanya “menikmati tanpa sadar”.

2. Fokus Berlebihan pada Hasil, Bukan Proses

Psikologi juga menunjukkan bahwa manusia sering menjadi “korban” focusing illusion. Bias kognitif di mana kita terlalu menekankan satu aspek kehidupan (misalnya karier, status, atau uang) sebagai penentu utama kebahagiaan, sementara mengabaikan faktor lain yang sama pentingnya seperti hubungan sosial, kesehatan mental, atau kegiatan bermakna sehari-hari.

Bias ini membuat pencapaian hasil tertentu tampak sebagai “jalan pintas ke kebahagiaan”, padahal kenyataannya emosional dan kesejahteraan kita tergantung pada beragam aspek kehidupan, bukan sekadar satu dimensi.

3. Harapan yang Tidak Realistis dan Dampaknya pada Kepuasan

Studi empiris menunjukkan bahwa ketika seseorang terlalu menilai kebahagiaan sebagai tujuan utama, mereka justru lebih mungkin merasa tidak puas. Eksperimen yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa individu yang menempatkan nilai tinggi pada kebahagiaan sering menunjukkan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah karena harapan yang tinggi dan sulit tercapai.

Dengan kata lain, target kebahagiaan yang terlalu tinggi justru menciptakan rasa gagal dan frustrasi saat kenyataan tidak sesuai ekspektasi.

4. Aversion to Happiness: Ketakutan Terhadap Bahagia Itu Sendiri

Ada pula konsep psikologis lain yaitu aversion to happiness, merupakan sikap di mana seseorang merasa tidak nyaman atau takut saat mengalami kebahagiaan karena percaya bahwa kebahagiaan membawa konsekuensi negatif (misalnya kehilangan, perubahan, atau ekspektasi berlebihan). Ini bukan gangguan mental dalam DSM-5, tetapi dapat menghambat kemampuan seseorang untuk merasa puas, bahkan ketika hidupnya tampak ideal.

5. Anhedonia dan Fungsi Reward yang Menurun

Bagi sebagian individu, tantangan kepuasan bisa berkaitan dengan kondisi lebih mendalam seperti anhedonia, ketidakmampuan untuk merasakan kenikmatan dari hal yang biasanya menyenangkan. Anhedonia muncul dalam konteks berbagai kondisi psikologis (misalnya depresi) dan memengaruhi motivasi serta evaluasi kebahagiaan seseorang terhadap hidup mereka.

Ini menjelaskan mengapa beberapa orang merasa “kosong” secara emosional meskipun secara objektif mempunyai semua yang diidamkan.

6. Kepuasan Hidup vs. Kebahagiaan Sementara

Psikologi modern membedakan antara subjective well-being (kepuasan hidup subjektif) dan kebahagiaan sesaat. Kepuasan hidup lebih berkaitan dengan penilaian luas terhadap kualitas hidup secara keseluruhan, bukan hanya suasana hati yang baik sesaat. Faktor seperti hubungan interpersonal, kesehatan, dan tujuan hidup berkontribusi terhadap kepuasan jangka panjang lebih signifikan daripada kepuasan instan.

7. “Paradise Syndrome”: Ketika Pencapaian Tidak Lagi Menantang

Dalam budaya populer dikenal istilah paradise syndrome, rasa ketidakpuasan yang dialami seseorang setelah mencapai semua target penting dalam hidup. Meskipun bukan diagnosis resmi, fenomena ini menggambarkan pengalaman umum bahwa setelah semua tujuan tercapai, kita mungkin kekurangan tantangan atau motivasi baru, sehingga merasakan hidup kurang bermakna. 

Kepuasan Itu Dinamis, Bukan Titik Tiba

Kepuasan hidup bukanlah alamat akhir yang bisa dicapai sekali lalu dinikmati selamanya. Ia merupakan proses yang dibentuk oleh:

Daripada mengejar kebahagiaan sebagai target absolut, riset psikologi menyarankan pendekatan keseimbangan: nilai apa yang saat ini Anda miliki, cari makna melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan bermakna (eudaimonia), dan sadari bahwa kebahagiaan yang bertahan lama lebih berakar pada pengalaman yang utuh daripada pencapaian eksternal semata. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#merasa #psikologis #Sukses #tidak puas