RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki risiko bencana geologi tertinggi di dunia.
Hal ini disebabkan posisi geografisnya yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), zona pertemuan lempeng tektonik paling aktif di dunia.
Data dari Badan Geologi (BGN) mencatat, Indonesia memiliki lebih dari 120 gunung berapi aktif yang tersebar dari Sumatera hingga Papua.
Kondisi ini, meskipun memberikan potensi tanah subur dan energi panas bumi yang melimpah, juga menempatkan masyarakat dalam ancaman letusan gunung berapi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Sepanjang tahun 2025 saja, beberapa gunung berapi di Indonesia dilaporkan telah meletus, dengan Gunung Semeru di Jawa Timur menjadi salah satu yang paling aktif, berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Selain itu, Gunung Ibu dan Dukono (Maluku Utara), Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok (NTT), serta Raung (Jawa Timur) juga terus menunjukkan aktivitas vulkanik.
Peningkatan aktivitas ini mendorong pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan PVMBG untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mendesak masyarakat di area rawan bencana agar meningkatkan kewaspadaan.
Mengenali Tanda-Tanda Gunung Akan Meletus
Para ahli kebencanaan menekankan bahwa kunci utama untuk mengurangi risiko korban jiwa adalah kemampuan masyarakat dalam mengenali tanda-tanda gunung meletus sedini mungkin.
Tanda-tanda ini merupakan indikator bahwa aktivitas magma di bawah permukaan sedang meningkat dan berpotensi mencapai puncak.
Berikut adalah 5 tanda mudah dikenali bahwa gunung berapi akan meletus, yang bersumber dari edukasi mitigasi bencana daerah:
1. Peningkatan Gempa Vulkanik (Lokal)
Tanda paling penting adalah terjadinya peningkatan frekuensi gempa vulkanik atau gempa lokal. Gempa ini terjadi akibat pergerakan fluida (magma, gas, dan air) di dalam tubuh gunung berapi.
Jika gempa sering terjadi di sekitar kawasan gunung berapi, penduduk harus segera waspada dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang.
2. Hewan Liar Turun Gunung
Masyarakat sering mengamati hewan-hewan liar seperti monyet, burung, atau jenis hewan lain di lereng gunung mulai turun menuju pemukiman atau tempat yang lebih rendah.
Hewan-hewan tertentu diyakini memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap getaran atau perubahan subtle di alam.
Pergerakan turunnya hewan ini sering dianggap sebagai "firasat" yang mendahului letusan besar, seperti yang pernah diamati menjelang erupsi Gunung Merapi.
3. Peningkatan Suhu di Area Puncak
Terjadi peningkatan suhu di sekitar area kawah atau gunung berapi. Magma yang sangat panas di perut bumi bergerak mendekati permukaan, menyebabkan tekanan di daerah kawah meningkat dan membuat suhu di sekitarnya terasa lebih panas.
4. Mata Air Mengering
Magma yang naik dapat memanaskan batuan dan mengganggu sistem akuifer (lapisan pembawa air) di dalam gunung.
Akibatnya, sumber air atau mata air yang biasanya mengalir di sekitar lereng gunung dapat tiba-tiba mengering. Fenomena ini menjadi salah satu indikator visual yang signifikan bagi warga setempat.
5. Tanaman dan Vegetasi Layu atau Kering
Perubahan kondisi lingkungan yang drastis, terutama kenaikan suhu dan keluarnya gas vulkanik beracun seperti sulfur, dapat menyebabkan tanaman atau vegetasi di area vulkanik menjadi layu dan kering secara tidak wajar.
Panduan Tindakan Keselamatan Saat dan Setelah Tanda Terdeteksi
Lalu, apa yang harus dilakukan masyarakat setelah mengetahui tanda-tanda gunung berapi akan meletus dan setelah letusan terjadi? Mitigasi yang tepat adalah kuncinya.
A. Tindakan Saat Tanda-Tanda Terdeteksi (Fase Pra-Erupsi)
• Tetap Tenang dan Ikuti Informasi Resmi: Jangan panik. Selalu dengarkan informasi resmi dari PVMBG dan BNPB melalui saluran komunikasi yang kredibel (radio, pengeras suara posko, atau media resmi).
• Siapkan Tas Siaga Bencana (Survival Kit): Siapkan tas yang berisi dokumen penting (fotokopi KTP, KK, sertifikat), obat-obatan pribadi, makanan instan, air minum, selimut, radio, senter, dan baterai cadangan.
• Kenali Jalur Evakuasi: Pastikan Anda dan keluarga telah mengetahui dan menguasai jalur evakuasi resmi yang telah ditetapkan menuju tempat pengungsian.
• Siapkan Masker dan Kacamata Pelindung: Debu vulkanik sangat berbahaya bagi pernapasan dan mata.
B. Tindakan Saat Erupsi Terjadi
• Segera Evakuasi: Jika diperintahkan evakuasi oleh petugas, segera tinggalkan lokasi menuju tempat aman yang telah ditentukan. Jangan menunda hanya untuk mengambil barang-barang.
• Waspada Bencana Ikutan: Jauhi lembah, sungai, dan daerah aliran lahar. Waspada terhadap awan panas (pyroclastic flow), guguran material, dan potensi banjir lahar jika terjadi hujan lebat setelah erupsi.
• Lindungi Diri dari Abu: Jika terjebak di tempat terbuka, cari tempat berlindung. Tutup mulut dan hidung dengan masker atau kain basah untuk mencegah menghirup abu vulkanik.
C. Tindakan Setelah Erupsi
• Jangan Langsung Kembali: Tunggu instruksi resmi dari pemerintah dan petugas PVMBG/BNPB sebelum kembali ke rumah.
• Bersihkan Abu Vulkanik: Bersihkan atap rumah dari timbunan abu vulkanik karena beratnya dapat menyebabkan atap roboh. Gunakan alat pelindung diri (masker dan kacamata) saat membersihkan.
• Periksa Kondisi Air: Hindari mengonsumsi air yang tercemar abu vulkanik.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang tanda-tanda dan langkah mitigasi yang tepat, masyarakat di sekitar gunung berapi dapat bertindak cepat, meminimalkan korban jiwa, dan meningkatkan ketahanan terhadap bencana. (*)