RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah kamu merasa tidak tenang melihat posisi buku yang sedikit miring di meja, atau merasa perlu merapikan kertas agar sejajar dengan tepi meja sebelum mulai bekerja?
Kebiasaan kecil seperti ini sering dianggap sepele, tapi dari sudut pandang psikologi, bisa mengungkap pola berpikir perfeksionistik yang berakar pada kebutuhan akan kendali dan keteraturan.
Antara Rapih dan Perfeksionis
Psikolog Dr. Paul Hewitt (University of British Columbia) menjelaskan bahwa perfeksionisme terbagi dalam dua bentuk utama:
-
Perfeksionisme adaptif (sehat), yaitu dorongan untuk menjaga keteraturan, disiplin, dan kualitas tinggi tanpa tekanan berlebihan.
-
Perfeksionisme maladaptif (tidak sehat), muncul ketika seseorang merasa gelisah atau terganggu jika sesuatu tidak tampak sempurna.
Jadi, kalau seseorang merasa harus meluruskan benda atau menata ulang posisi barang supaya terasa tenang, itu bisa menjadi tanda adanya perfeksionisme maladaptif ringan. Yakni, kebutuhan psikologis untuk mengembalikan rasa kontrol atau ketenangan batin.
Rasa Kendali dan Ketenangan Psikologis
Dalam studi oleh Frost et al. (1990, Cognitive Therapy and Research), individu dengan kecenderungan perfeksionistik menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap “ketidakteraturan visual”. Otak mereka memproses kekacauan kecil sebagai gangguan yang perlu diperbaiki — mirip seperti dorongan untuk menyelesaikan sesuatu yang belum lengkap.
Menurut psikolog kognitif, ini terkait dengan need for closure: dorongan untuk menutup ketidakpastian atau kekacauan dengan tindakan korektif, misalnya meluruskan benda atau merapikan ruang kerja.
Apakah Sama dengan OCD?
Ini sering jadi pertanyaan umum. Jawabannya, tidak selalu.
Perilaku perfeksionistik berbeda dari Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), meskipun tampak mirip di permukaan.
Bedanya:
-
Pada perfeksionisme, tindakan dilakukan untuk memenuhi standar pribadi atau mencari rasa nyaman.
-
Pada OCD, dorongan muncul dari obsesi dan kecemasan intens, diikuti kompulsi (tindakan berulang) untuk meredakan kecemasan tersebut.
Jika seseorang hanya merasa lebih lega setelah benda rapi atau posisi sejajar, tanpa disertai pikiran mengganggu berulang, maka itu bukan OCD, melainkan refleksi dari trait perfeksionistik yang ringan.
Apa yang Dirasakan Seorang Perfeksionis Visual?
Menurut psikolog lingkungan (environmental psychologist) Sally Augustin, otak manusia memang merespons harmoni visual secara emosional.
Perfeksionis cenderung memiliki ketidaknyamanan sensorik terhadap ketidakseimbangan bentuk atau posisi, seperti lukisan yang sedikit miring atau laptop tidak sejajar dengan tepi meja.
Rasa tak nyaman itu bukan sekadar gangguan kecil, tapi bentuk ketegangan mental karena otak mereka terbiasa menuntut simetri dan keteraturan.
Sisi Positif: Fokus dan Kepekaan Detail
Menariknya, kebiasaan ini juga bisa jadi kekuatan.
Orang dengan pola pikir perfeksionistik visual sering memiliki:
-
Fokus tinggi terhadap detail,
-
Kemampuan mengorganisasi ruang dengan baik,
-
Sensitivitas estetika yang tajam, dan
-
Disiplin dalam pekerjaan yang membutuhkan presisi (misalnya desain, arsitektur, atau administrasi).
Selama tidak sampai mengganggu rutinitas atau menyebabkan stres berlebih, kebiasaan ini bisa dikategorikan sebagai perfeksionisme adaptif, bagian dari kepribadian yang mencintai keteraturan.
Kebiasaan meluruskan benda atau menata posisi barang bukanlah tanda aneh, melainkan bentuk ringan dari perfeksionisme yang berakar pada kebutuhan akan keteraturan dan kendali.
Namun, jika dorongan itu berubah menjadi rasa cemas yang terus-menerus atau memengaruhi produktivitas, bisa jadi itu sinyal untuk belajar lebih toleran terhadap ketidaksempurnaan.
Dalam kadar yang tepat, perfeksionisme membuat seseorang lebih teliti dan teratur. Tapi dalam kadar berlebihan, ia bisa menjadi penjara bagi pikiran yang tak pernah merasa cukup. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari