RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kasus perundungan yang menimpa Timothy baru-baru ini menjadi pengingat bahwa bullying tidak hanya tentang kekerasan fisik atau verbal, tetapi juga tentang kegagalan lingkungan sosial dalam memahami perbedaan dan empati.
Fenomena ini menegaskan bahwa siapa pun, baik di sekolah, kampus, maupun tempat kerja, bisa menjadi target jika tidak memiliki benteng psikologis yang cukup kuat.
Namun, pertanyaannya: apa yang membuat seseorang lebih rentan menjadi target bullying?
Dan yang lebih penting, bagaimana cara agar kita tidak mudah dijadikan sasaran oleh pelaku perundungan, tanpa harus mengubah jati diri kita sendiri?
Mari memahami jawabannya lewat kacamata psikologi sosial dan perilaku.
1. Membangun Harga Diri yang Realistis dan Tangguh
Menurut Dan Olweus (1993), salah satu pelopor penelitian bullying, individu dengan self-esteem (harga diri) rendah cenderung lebih mudah menjadi target karena memancarkan sinyal sosial yang pasif. Pelaku bullying sering memilih korban yang terlihat tidak percaya diri, mudah diatur, atau takut berkonfrontasi.
Membangun harga diri tidak sama dengan menjadi sombong. Ini soal mengenali kekuatan dan batas diri. Psikolog Kenneth Rigby (2002) menegaskan bahwa self-esteem yang sehat membuat seseorang mampu menolak ejekan tanpa reaksi emosional berlebihan. Misalnya, menanggapi candaan ofensif dengan tenang, atau memilih diam tanpa memperlihatkan rasa terintimidasi.
Coba biasakan memberi self-affirmation setiap hari, menghargai hal-hal kecil yang berhasil kamu lakukan. Semakin kuat persepsi diri, semakin kecil peluang seseorang melihatmu sebagai sasaran empuk.
2. Bangun Ketahanan Emosional (Emotional Resilience)
Penelitian Lazarus & Folkman (1984) tentang coping mechanism menjelaskan bahwa orang dengan daya tahan emosional tinggi mampu menghadapi tekanan tanpa kehilangan kendali diri. Dalam konteks bullying, ini berarti kemampuan mengelola perasaan takut, malu, atau marah agar tidak meledak di hadapan pelaku.
Pelaku perundungan sering kali menyukai reaksi emosional korbannya. Itu memberi mereka rasa kuasa. Maka, strategi terbaik bukan melawan dengan emosi, tetapi mengontrol respons internal.
Latih teknik seperti pernapasan dalam, journaling, atau mencari ruang aman seperti berbicara dengan teman terpercaya. Dengan begitu, kamu menunjukkan bahwa mereka tidak bisa mengatur reaksimu dan itu membuat mereka kehilangan kendali.
3. Kenali Pola Sosial dan Dinamika Kelompok
Bullying jarang berdiri sendiri. Espelage & Swearer (2010) menyebut bahwa perundungan adalah gejala dari budaya kelompok yang membenarkan ejekan sebagai bentuk keakraban. Artinya, banyak korban tidak sadar bahwa mereka sedang dirundung karena merasa itu bagian dari candaan teman.
Mengenali dinamika sosial berarti memahami perbedaan antara keakraban dan kekerasan simbolik. Jika sebuah candaan membuatmu tidak nyaman, dan perasaan itu terus diabaikan, maka hubungan tersebut sudah tidak sehat.
Jangan takut memberi batas (boundary): katakan dengan sopan bahwa kamu tidak nyaman, atau pilih untuk menjauh tanpa penjelasan panjang.
Penting juga membangun lingkar sosial sehat, teman yang menghargai tanpa menertawakan. Dukungan kelompok positif terbukti menurunkan risiko bullying hingga 30 persen (Hodges & Perry, 1999).
4. Belajar Komunikasi Asertif, Bukan Agresif
Psikologi sosial membedakan antara komunikasi pasif, agresif, dan asertif.
Menurut Alberti & Emmons (2008), komunikasi asertif adalah kemampuan mengekspresikan kebutuhan diri dengan jujur namun tetap menghargai orang lain.
Banyak korban bullying memilih diam (pasif) atau meledak (agresif). Keduanya justru memperkuat posisi pelaku.
Komunikasi asertif menempatkan kita di tengah, berani berkata “tidak” dengan tenang, tanpa merasa bersalah.
Misalnya: “Aku tahu kamu bercanda, tapi aku tidak nyaman dengan cara itu.”
Nada tegas tapi tidak menyerang membuat pelaku kehilangan alasan untuk melanjutkan aksinya.
Asertivitas juga menciptakan kesan bahwa kamu punya kendali terhadap diri sendiri dan secara sosial, ini mengurangi kemungkinan jadi target.
5. Gunakan Dukungan Sosial Sebagai Pelindung Psikologis
Dalam studi klasiknya, Hodges & Perry (1999) menegaskan bahwa dukungan sosial dari teman dan keluarga adalah faktor pelindung utama dari risiko menjadi korban bullying. Orang yang merasa diterima dan punya tempat bercerita akan lebih kuat menolak perlakuan tidak adil.
Namun di lapangan, banyak korban justru merasa sendirian karena takut dianggap lemah.
Padahal, melibatkan orang dewasa seperti guru, konselor, atau atasan bukan tanda menyerah, melainkan strategi protektif.
Bahkan penelitian APA (2022) menunjukkan bahwa intervensi berbasis komunitas seperti peer support bisa menurunkan intensitas bullying hingga 25 persen.
Maka, jangan ragu meminta bantuan. Dukungan sosial bukan sekadar pelindung, tapi juga bentuk keberanian.
6. Jaga Identitas Diri dan Integritas Pribadi
Bullying sering kali membuat seseorang ingin menyesuaikan diri agar diterima kelompok. Tapi, menurut Bandura (1991) dalam teori moral disengagement, saat seseorang mulai mengorbankan nilai pribadinya demi diterima, ia kehilangan kontrol moral yang membuatnya kuat secara psikologis.
Tetaplah autentik. Jika lingkungan memaksamu berubah dengan cara yang membuatmu tidak nyaman, itu bukan lingkungan sehat.
Integritas diri, menjadi siapa kamu sebenarnya, adalah benteng moral yang membuatmu tidak mudah digoyahkan ejekan.
Menjadi diri sendiri bukan tindakan egois, melainkan tanda bahwa kamu tidak bisa dikendalikan oleh tekanan sosial.
7. Ketahui Kapan Harus Melawan dan Kapan Harus Melapor
Psikolog Sameer Hinduja & Justin Patchin (2021) menekankan pentingnya kemampuan membedakan situasi aman dan tidak aman.
Tidak semua bentuk perundungan bisa dihadapi sendirian. Ketika ancaman sudah melibatkan kekerasan fisik, doxing, atau penghinaan publik, langkah paling bijak adalah melapor ke pihak berwenang.
Melawan tidak selalu berarti konfrontasi langsung.
Kadang, melawan berarti berani bicara, mencatat kronologi, dan menolak diam. Setiap tindakan kecil seperti itu adalah bentuk perlawanan moral terhadap budaya diam yang memungkinkan bullying tumbuh.
Bullying Bukan Masalah Individu
Belajar dari kasus Timothy, kita melihat bahwa bullying adalah cermin dari kondisi sosial yang gagal memahami empati. Mencegah agar tidak menjadi target bukan berarti menyalahkan korban, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap individu berhak atas rasa aman.
Kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain sepenuhnya, tetapi kita bisa memperkuat diri sendiri dengan pengetahuan, dukungan, dan keberanian untuk menolak hal yang salah.
Dan ketika semakin banyak orang berani bersuara, budaya bullying kehilangan ruang hidupnya.
(kam/bgs)
Daftar Referensi
-
Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know and What We Can Do. Blackwell Publishing.
-
Rigby, K. (2002). New Perspectives on Bullying. Jessica Kingsley Publishers.
-
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer.
-
Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2010). Bullying in North American Schools. Routledge.
-
Hodges, E. V. E., & Perry, D. G. (1999). "Personal and interpersonal antecedents and consequences of victimization by peers." Journal of Personality and Social Psychology, 76(4), 677–685.
-
Alberti, R. E., & Emmons, M. L. (2008). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships.
-
Bandura, A. (1991). “Social cognitive theory of moral thought and action.” Handbook of Moral Behavior and Development, Vol. 1.
-
Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2021). Bullying Beyond the Schoolyard: Preventing and Responding to Cyberbullying.
-
American Psychological Association (APA). (2022). Bullying and Mental Health.
Editor : Hakam Alghivari