Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Ada Orang yang Justru Mencari Kesunyian Saat Liburan? Begini Kata Psikologi

Hakam Alghivari • Minggu, 19 Oktober 2025 | 20:03 WIB

Ilustrasi perempuan yang sedang berlibur di alam.
Ilustrasi perempuan yang sedang berlibur di alam.

Di saat banyak orang memilih keramaian dan keseruan kota, sebagian lain malah mencari ketenangan. Mereka berkemah sendirian di hutan, bermalam di desa terpencil, atau berjalan tanpa sinyal dan suara mesin. Apa yang membuat seseorang begitu menikmati keheningan?

Ketenangan Sebagai Bentuk Pencarian Diri

Dalam dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, muncul fenomena baru dalam gaya berlibur: mencari tempat yang jauh dari kebisingan. Bagi sebagian orang, hening menjadi kebutuhan, bukan pelarian.

Suasana sepi di alam terbuka memberi ruang untuk berpikir, menata ulang perasaan, dan memulihkan energi mental yang terkuras oleh rutinitas.

Fenomena ini dikenal dengan istilah tranquil tourism atau wisata ketenangan. Alih-alih mengejar hiburan, mereka yang memilihnya datang untuk mengalami keutuhan diri. Dalam keheningan, mereka menemukan kembali fokus dan keseimbangan batin.

Kepribadian yang Menikmati Wisata Sepi

Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa pilihan terhadap wisata yang tenang erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. Bukan sekadar selera, melainkan refleksi cara jiwa berinteraksi dengan dunia.

1. Introversi dan Kenyamanan dalam Kesendirian

Individu dengan kecenderungan introvert umumnya merasa tenang ketika tidak banyak rangsangan sosial di sekitarnya. Tempat sunyi seperti hutan, gunung, atau pantai terpencil menjadi ruang ideal untuk memulihkan energi. Mereka memperoleh kekuatan justru dari waktu yang dihabiskan sendirian.

Ketenangan memungkinkan pikiran mereka berjalan perlahan dan mendalam. Aktivitas seperti berjalan di jalur pendakian, membaca di bawah pepohonan, atau sekadar menatap cakrawala menjadi cara alami untuk mengisi ulang diri.

2. Keterbukaan terhadap Pengalaman Baru

Meski tampak tertutup dari luar, orang yang menikmati wisata tenang biasanya memiliki tingkat keterbukaan tinggi terhadap pengalaman baru. Mereka tidak mencari hiburan yang keras, tetapi pengalaman yang memberi makna.

Menikmati aroma tanah setelah hujan, mengamati langit tanpa polusi, atau mendengar bunyi serangga di malam hari menjadi bentuk eksplorasi yang lebih pribadi dan mendalam.

Bagi mereka, keheningan bukan kebosanan, melainkan ruang untuk menyadari detail kecil yang sering terlewat dalam kehidupan sehari-hari.

3. Kemandirian dan Keteguhan Emosi

Perjalanan yang dilakukan sendirian memerlukan tingkat kemandirian dan stabilitas emosi yang tinggi. Orang yang nyaman melakukannya cenderung mampu mengatur suasana hati, mengambil keputusan secara mandiri, dan menghadapi ketidakpastian dengan tenang.

Kesendirian bukan ancaman bagi mereka, tetapi kesempatan untuk berlatih percaya pada diri sendiri. Dalam diam, mereka belajar tentang batas, keberanian, dan ketahanan.

Hubungan Spiritual dengan Alam

Kecenderungan untuk memilih tempat yang sepi sering muncul dari perasaan terhubung dengan alam. Dalam psikologi lingkungan, hal ini dikenal sebagai identitas ekologis—kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan sekadar pengunjung.

Saat seseorang menghabiskan waktu di hutan, mendaki gunung, atau bermeditasi di tepi danau, terbentuk pengalaman menyatu dengan lingkungan. Keheningan membantu mereka merasa lebih kecil di hadapan semesta, tetapi sekaligus lebih utuh di dalam diri.

Bagi banyak orang, momen ini menjadi bentuk spiritualitas yang sederhana: tidak diukur oleh doa panjang atau ritual rumit, melainkan oleh kemampuan hadir sepenuhnya pada detik yang senyap.

Keheningan sebagai Terapi Mental

Paparan informasi tanpa henti dan kebisingan digital membuat otak manusia mudah lelah. Teori Attention Restoration dari psikologi modern menjelaskan bahwa alam tenang dapat membantu memulihkan konsentrasi dan menurunkan stres.

Ketika seseorang memutus koneksi internet dan memberi ruang pada keheningan, sistem saraf mendapat kesempatan untuk beristirahat. Itulah mengapa tren “slow travel” dan “digital detox” semakin populer.
Ketenangan menjadi bentuk perawatan diri yang alami, sekaligus cara paling manusiawi untuk menyeimbangkan hidup yang serba cepat.

Ketika Sunyi Menjadi Bahasa Jiwa

Tidak semua orang mampu menikmati kesunyian. Sebagian merasa canggung ketika tidak ada yang bisa diajak bicara. Namun bagi mereka yang memilih jalan ini, diam adalah bentuk komunikasi yang paling jujur.

Dalam suara angin dan gemerisik daun, mereka menemukan percakapan antara jiwa dan alam yang tidak membutuhkan kata-kata.
Sunyi bukan berarti kosong; ia adalah ruang di mana manusia bisa benar-benar mendengar dirinya sendiri. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
#kesunyian #Wisata #psikologi #ketenangan #Sepi