RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Logo Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 telah dapat diunduh dan digunakan oleh masyarakat Kota Ledre per 1 Oktober kemarin. Selain file logo yang dibutuhkan, tersedia pula panduan dan penjelasan logo yang dibuat oleh Bowo Sulistyo tersebut.
Selain contoh menggunaan dan tata letak logo, Bowo juga menyempatkan menjelaskan filosofi desain dan pewarnaan logo tersebut. Ada tiga konsep yang diusung oleh Bowo dalam logo HJB edisi tahun ini, yakni berhubung, tumbuh dan nilai lokal.
“Logo dirancang untuk menautkan tiga gagasan inti, yakni kolaborasi, identitas lokal, dan tumbuh berkembang, menjadi satu kesatuan grafis yang ringkas, mudah dikenali, dan fleksibel penggunaannya,” jelas Bowo dalam awal mulai pengenalan filosofi logo.
Jika diperhatikan, angka 3, 4, dan 8 dalam logo disusun dengan ketinggian berbeda, semakin ke kanan semakin tinggi. Perbedaan tinggi tersebut dibuat untuk merepresentasikan anak tangga, sebagai simbol perkembangan dan pertumbuhan dari waktu ke waktu.
Kemudian, angka 3 dan 4 dibentuk menyesuaikan dengan pola angka 8. “Konsep kolaborasi melalui bentuk yang berulang dan saling terhubung, hingga membentuk simbol infinity (tak terhingga). Simbol dipilih karena menggambarkan hubungan yang tak terputus, kerja sama abadi, dan kesinambungan energi,” jelas desainer asal Desa Sumberagung, Kecamatan Ngraho tersebut.
Kemudian, kearifan lokal dan elemen alam Bojonegoro direpresentasikan dalam palet warna logo. Sekilas logo tampak memiliki tiga warna, namum jika diperhatikan baik-baik, sebenarnya ada empat warna yang dipakai dalam logo tersebut.
Motif paling mencolok ada di angka 3, yang memiliki lidah api di kaki logo. Kemudian sekilas, ada motif air di angka 4, dan tanaman di angka 8. Menurut Bowo, ada empat elemen yang direpresentasikan dalam tiga angka tersebut, dengan angka 3 dan 8 menampilkan dua makna sekaligus.
“Nilai lokal menjadi unsur penting dalam logo untuk menunjukkan keragaman budaya, sumber daya alam dan produk masyarakat Bojonegoro. Simbol tersebtu yakni api, padi, gelombang air dan Sata Gondo Wangi,” jelas Bowo.
Lidah api di angka 3 melambangkan kekayaan alam utama yang dimiliki Bojonegoro, yakni energi berupa minyak bumi. Selain itu, api yang diwarnai oranye tersebut juga melambangkan semangat dan optimisme masyarakat Bojonegoro.
Setelah lidah api tersebut, ada gradasi menuju warna merah di ujung angka 3, yang diikuti dengan motif tanaman padi. Sebagaimana banyak diketahui, Bojonegoro merupakan salah satu produsen padi terbanyak di Jawa Timur, sehingga motif ini juga melambangkan kemandirian pangan.
Bojonegoro tidak dapat dipisahkan dari Sungai Bengawan Solo, sehingga secara alami, motif ombak air dan warna biru direpresentasikan dalam angka 4. Selain itu warna biru tua dan biru muda untuk membentuk pola tersebut dipilih untuk menggambarkan watak masyarakat Bojonegoro yang hidup damai dan tenang.
Akhirnya, motif angka 8 berpatok dari salah satu batik khas Bojonegoro, yakni Batik Sata Gondo Wangi. Batik ini memiliki motif tembakau, yang merupakan salah satu komoditas unggul Bojonegoro di samping padi dan migas.
Tentu, pemilihan dan warna yang dipakai juga tidak sembarangan. Menurut Bowo, urutan warna juga melambangkan perjalanan tumbuhnya wilayah Bojonegoro.
“Dimulai dari optimisme (oranye dan merah), diperkuat oleh keharmonisan antara masyarakat dengan pemerintah (biru tua dan muda), dan bermuara pada pertumbuhan dan kemandirian (hijau). Setiap warna menjadi narasi visual tentang tekad bersama mewujudkan Bojonegoro yang mandiri dan berkelanjutan,” jelas Bowo.
Bowo Sulistyo menjadi pemenang sayembara logo HJB yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro tahun ini. Tahun lalu dirinya mengikuti sayembara serupa untuk logo HJB ke-347, namun finish di urutan kedua. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana