RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengandung campuran etanol, meskipun didorong untuk alasan lingkungan dan peningkatan oktan, memunculkan kekhawatiran signifikan terhadap dampaknya pada mesin kendaraan, terutama pada konsentrasi yang lebih tinggi.
Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa etanol dapat menimbulkan dua risiko utama pada kendaraan bermotor: potensi korosi pada komponen mesin dan penurunan efisiensi bahan bakar (menjadi lebih boros).
1. Risiko Korosi Akibat Sifat Menyerap Air
Bahaya utama etanol adalah sifatnya yang higroskopis, atau sangat kuat dalam menyerap air.
Penyebab Korosi: Etanol memiliki kemampuan kuat untuk menarik dan menahan air. Ketika air terakumulasi di dalam tangki bahan bakar dan bercampur dengan etanol, air dapat tenggelam ke dasar tangki. Kondisi ini memicu korosi (karat) pada komponen logam di dalam sistem bahan bakar dan mesin kendaraan.
Dampak pada Sistem: Korosi ini dapat merusak tangki, saluran bahan bakar, dan berpotensi menyebabkan penyumbatan filter. Risiko ini menjadi masalah besar jika air terakumulasi dalam waktu lama.
2. Potensi Bensin Lebih Boros (Penurunan Jarak Tempuh)
Etanol mengandung nilai energi yang lebih rendah dibandingkan bensin murni (bahan bakar fosil). Fenomena ini berdampak langsung pada efisiensi konsumsi bahan bakar.
Nilai Energi Rendah: Molekul etanol lebih kecil dan memiliki ikatan karbon lebih sedikit dibandingkan molekul bensin. Akibatnya, BBM yang bercampur etanol memiliki nilai energi lebih rendah untuk volume yang sama.
Efek Boros: Penurunan nilai energi ini berarti kendaraan membutuhkan lebih banyak campuran bahan bakar untuk menempuh jarak yang sama. Misalnya, campuran E10 (10% etanol) dapat mengurangi efisiensi bahan bakar (fuel economy) sebesar 3 hingga 5 persen. Sementara itu, uji coba campuran E20 bahkan menunjukkan potensi bensin menjadi 7,7% lebih boros.
Kerugian Lain: Etanol dalam konsentrasi tinggi (di atas 15-20%) juga dapat menyebabkan kerusakan jika mesin kendaraan tidak disesuaikan atau dimodifikasi khusus untuk menerima bahan bakar jenis flex-fuel.
3. Isu Kompatibilitas Bisnis
Kekhawatiran terhadap spesifikasi produk ini juga menjadi perhatian utama bagi bisnis bahan bakar.
Beberapa SPBU swasta, seperti Vivo dan BP-AKR, sempat membatalkan pembelian base fuel dari Pertamina karena menemukan kandungan etanol (sekitar 3,5%) yang dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi produk mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun batas regulasi memperbolehkan campuran etanol dalam persentase tertentu, kompatibilitas dengan standar mesin dan produk BBM tetap menjadi sorotan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko