RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Peristiwa kekerasan dapat meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi korbannya, tetapi juga bagi saksi mata, terutama anak-anak.
Kasus yang menimpa karyawan Zaskia Adya Mecca, di mana ia dipukuli oleh orang tak dikenal di depan anaknya, adalah pengingat betapa rentannya dunia anak terhadap insiden traumatis.
Melihat orang dewasa yang mereka kenal dan percaya menjadi korban kekerasan bisa menimbulkan kebingungan, ketakutan, dan bahkan trauma psikologis yang berkelanjutan.
Lalu, bagaimana kita bisa membantu anak-anak menghadapi dan memulihkan diri dari pengalaman traumatis semacam itu?
Trauma pada Anak: Bukan Sekadar Ketakutan Sesaat
Trauma pada anak adalah respons emosional dan psikologis terhadap peristiwa yang sangat menakutkan, mengancam, atau menyakitkan.
Bagi anak-anak, insiden kekerasan yang disaksikan langsung, seperti yang dialami anak Zaskia Adya Mecca, dapat mengganggu rasa aman mereka terhadap dunia dan orang dewasa di sekitar mereka.
Mereka mungkin merasa bahwa dunia ini adalah tempat yang tidak aman, atau bahwa orang dewasa tidak selalu bisa melindungi mereka.
Dampak trauma pada anak bisa bermanifestasi dalam berbagai cara:
- Perubahan Perilaku: Anak bisa menjadi lebih rewel, mudah marah, menarik diri, atau kembali ke perilaku yang lebih muda (misalnya, mengompol kembali, menghisap jempol).
- Masalah Tidur: Mimpi buruk, sulit tidur, atau terbangun di malam hari.
- Kecemasan Berlebihan: Ketakutan berlebihan terhadap situasi serupa, kecemasan perpisahan, atau ketakutan akan hal-hal yang sebelumnya tidak ditakuti.
- Kesulitan Konsentrasi: Gangguan fokus di sekolah atau saat bermain.
- Gejala Fisik: Sesak nafas, sakit perut atau sakit kepala tanpa penyebab medis yang jelas.
Haykal Kamil, sebagai salah satu anggota keluarga, mengungkapkan bahwa anak Zaskia terlihat syok dan sering mengalami kecemasan setelah insiden tersebut. Ini adalah respons yang wajar dan perlu ditangani dengan hati-hati.
Langkah-langkah Membantu Anak Mengatasi Trauma
Memulihkan trauma pada anak membutuhkan kesabaran, dukungan, dan pendekatan yang tepat. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan:
1. Ciptakan Rasa Aman dan Dukungan Emosional
Prioritas utama adalah mengembalikan rasa aman anak. Peluk mereka, tunjukkan bahwa Anda ada untuk mereka, dan pastikan mereka tahu bahwa Anda akan melindungi mereka. Ciptakan rutinitas yang stabil dan prediktif agar mereka merasa ada kontrol dalam hidup mereka.
2. Berikan Ruang untuk Berbicara (dan Mendengarkan Aktif)
Dorong anak untuk menceritakan apa yang mereka lihat atau rasakan, tetapi jangan memaksa. Dengarkan dengan saksama tanpa menyela, menghakimi, atau meremehkan perasaan mereka.
Validasi emosi mereka: "Tidak apa-apa kalau kamu merasa takut atau marah." Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti sesuai usia mereka.
3. Jelaskan Situasi dengan Jujur namun Menenangkan
Jawab pertanyaan anak dengan jujur, tetapi hindari detail yang tidak perlu atau menakutkan. Fokus pada pesan bahwa mereka aman sekarang dan orang dewasa sedang berupaya mengatasi situasi tersebut.
Contoh: "Orang dewasa itu melakukan hal yang tidak benar, tapi dia sudah ditangani dan kamu aman bersama kami."
4. Normalisasi Perasaan dan Perilaku
Jelaskan bahwa respons mereka (ketakutan, mimpi buruk, kemarahan) adalah hal yang normal setelah kejadian yang menakutkan. Ini membantu anak tidak merasa "aneh" atau sendirian.
5. Libatkan dalam Aktivitas Positif
Dorong anak untuk kembali melakukan aktivitas yang mereka nikmati, seperti bermain, menggambar, atau berolahraga. Aktivitas ini dapat membantu mereka memproses emosi dan mengalihkan perhatian dari pikiran traumatis.
6. Hindari Paparan Berulang
Batasi paparan anak terhadap berita atau percakapan dewasa mengenai insiden tersebut. Terlalu banyak informasi atau gambar kekerasan dapat memperburuk trauma mereka.
7. Perhatikan Perubahan Jangka Panjang
Awasi perilaku dan emosi anak dalam beberapa minggu atau bulan setelah insiden. Jika mereka terus menunjukkan tanda-tanda stres berat, sulit berfungsi normal, atau gejalanya memburuk, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Meskipun dukungan dari orang tua atau pengasuh sangat penting, ada kalanya bantuan dari psikolog anak atau terapis trauma diperlukan. Carilah bantuan jika anak:
- Terus-menerus mengalami mimpi buruk atau kilas balik (flashback).
- Menghindari situasi atau tempat yang mengingatkan mereka pada peristiwa tersebut secara ekstrem.
- Menarik diri dari teman dan keluarga.
- Menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan dan berlangsung lama.
- Mengungkapkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Kasus seperti yang menimpa karyawan Zaskia Adya Mecca adalah pengingat bahwa trauma pada anak adalah isu serius.
Dengan cinta, kesabaran, dan pemahaman yang tepat, kita bisa membantu anak-anak memproses pengalaman sulit mereka dan tumbuh menjadi individu yang tangguh dan sehat secara emosional. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko