RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Zaman terus berputar dan setiap generasi punya keunikannya masing-masing.
Kalangan anak muda atau remaja masa kini masuk golongan Gen Z. Mereka punya pemahaman berbeda terhadap hubungan asmara atau berpacaran dengan generasi sebelumnya, generasi milenial.
Gen Z dikenal lebih suka kebebasan. Tak heran nilai-nilai yang dipegang generasi milenial, dianggap usang oleh Gen Z.
Sebab, Gen Z punya cara dan penilaian tersendiri terhadap menjalani sebuah hubungan asmara. Meski pada dasarnya ialah jatuh cinta, tapi beberapa Gen Z lebih suka kesederhanaan saat menjalin hubungan dengan pasangannya.
Bahkan, Gen Z ogah pacaran rumit. Berikut lima alasan Gen Z menganggap hubungan sederhana lebih menarik.
1. Pacaran Ribet Sudah Nggak Zaman
Bagi Gen Z, pacaran yang penuh drama, kode-kodean, dan tarik ulur bukan lagi tren. Mereka lebih suka hubungan yang sederhana, transparan, dan jelas arahnya. “Main pikiran” dianggap buang-buang energi.
2. Self-Love & Kesehatan Mental Jadi Prioritas
Generasi ini menempatkan self-care dan kesehatan mental di atas segalanya. Hubungan yang toxic atau bikin stres langsung ditinggalkan. Pacaran ideal bagi Gen Z adalah yang bisa saling mendukung dan memberi ruang untuk berkembang.
3. Autentisitas Lebih Penting daripada Gimmick
Gen Z cenderung menghargai pasangan yang jujur, apa adanya, dan autentik. Bukan soal pencitraan atau status sosial, melainkan soal bagaimana pasangan bisa saling terbuka dan menghargai keaslian diri.
4. Aplikasi Kencan Jadi Jalan Pintas
Survei Tinder pada 4.000 responden usia 18–25 tahun menunjukkan bahwa banyak Gen Z memakai aplikasi kencan untuk mencari koneksi nyata, bukan sekadar hubungan singkat. Mereka ingin bertemu dengan orang yang punya visi serupa.
5. Menghindari Hubungan “Situationship”
Gen Z lebih realistis. Mereka nggak mau terjebak di hubungan abu-abu tanpa kejelasan. Kalau serius, mereka lebih cepat menentukan arah hubungan—kalau nggak, lebih baik sendiri dulu.
Buat Gen Z, pacaran itu bukan lagi soal gengsi atau status, tapi soal kenyamanan, keterbukaan, dan kesehatan mental.
Hubungan sederhana justru terasa lebih berharga karena memberi ruang untuk tumbuh bersama tanpa drama yang berlebihan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko