RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Instagram kini bukan sekadar tempat berbagi foto makanan atau pemandangan estetik.
Bagi generasi Z (Gen Z), platform ini sudah menjadi bagian penting dalam mengekspresikan identitas diri sekaligus menjaga hubungan sosial.
Menariknya, dari popularitas Instagram muncul fenomena unik: banyak anak muda memiliki dua akun sekaligus, yaitu first account (akun utama) dan second account (akun kedua).
Instagram: Rumah Digital Gen Z
Data Statista (2024) menunjukkan Indonesia menduduki posisi keempat pengguna Instagram terbanyak di dunia, dengan lebih dari 100 juta akun aktif.
Sebagian besar penggunanya berasal dari kalangan muda. Bahkan, survei DataIndonesia.id menemukan lebih dari 90 persen anak usia 11–26 tahun aktif di platform ini.
Tak heran, Instagram kerap disebut sebagai “rumah digital” Gen Z, tempat mereka menampilkan siapa diri mereka.
Apa Itu First dan Second Account?
Secara sederhana:
First account adalah akun utama yang bersifat publik. Di sinilah Gen Z biasanya mengunggah momen terbaik mereka. Seperti foto liburan, potret penuh gaya, atau feed dengan tone warna seragam demi personal branding. Akun ini ibarat “etalase online” yang ditampilkan untuk khalayak luas.
Second account justru sebaliknya. Akun ini lebih privat, sering kali hanya diikuti teman dekat. Di sinilah unggahan cenderung spontan, seadanya, kadang berupa curhatan atau lelucon receh yang tak mungkin muncul di akun utama.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara lain, istilah finsta (fake Instagram) juga dipakai untuk menyebut second account yang lebih personal.
Mengapa Gen Z Membuat Second Account?
Ada beberapa alasan yang membuat tren ini berkembang:
• Tekanan untuk Tampil Sempurna
Akun utama sering dianggap sebagai ruang pamer yang harus selalu rapi dan estetik. Tidak sedikit Gen Z yang merasa tertekan menjaga citra di akun ini.
• Dua Sisi Identitas: Ideal vs Nyata
Bagi gen z, citra dalam media sosial itu menjadi hal yang benar-benar dipertimbangkan. Ideal self dianggap sebagai branding diri untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia ingin dipandang seperti ini.
Namun, gen z juga perlu tempat berekspresi yang lebih bebas yang selaras dengan dirinya sendiri atau kerap disebut sebagi real self untuk kenyamanan diri.
• Privasi dan Kebebasan Berekspresi
Penelitian “Penggunaan Multi Akun Pseudonym di Instagram sebagai Manajemen Privasi Gen Z” menemukan bahwa banyak anak muda menggunakan lebih dari satu akun sebagai cara mengatur privasi. Dengan identitas berbeda, mereka bisa bebas berbagi tanpa takut dihakimi.
• Ruang untuk Curhat dan Koneksi Emosional
Second account sering jadi tempat menulis keluh-kesah, posting meme pribadi, atau berbagi hal kecil sehari-hari. Hal ini membantu Gen Z merasa lebih otentik dan terhubung dengan lingkaran pertemanan terdekat.
Sisi Positif dan Negatif
Positif:
- Memberi ruang autentik untuk mengekspresikan diri.
- Membantu menjaga batas antara publik dan privat.
- Mengurangi tekanan citra di akun utama.
Negatif:
- Potensi krisis identitas bila perbedaan “diri nyata” dan “diri ideal” terlalu jauh.
- Risiko kecemasan jika konten second account tersebar ke luar lingkaran dekat.
- Bisa memperkuat perfeksionisme yang tidak sehat.
Fenomena first dan second account menunjukkan betapa kompleksnya cara Gen Z berinteraksi di dunia digital. Untuk menjaga agar penggunaan tetap sehat, beberapa hal bisa dipertimbangkan:
• Tetapkan batas publik dan privat. Hanya izinkan orang terdekat masuk ke second account.
• Kurangi perfeksionisme di akun utama. Tidak perlu semua konten harus sempurna.
• Gunakan second account secara positif. Boleh curhat, tapi tetap jaga agar tidak menjadi tempat pelampiasan negatif berlebihan.
First account dan second account bukan sekadar tren media sosial. Fenomena ini adalah cermin kebutuhan Gen Z untuk menyeimbangkan dua hal: citra ideal yang ingin ditunjukkan pada dunia, dan sisi nyata yang hanya ingin dibagikan pada lingkaran kecil. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko