Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Naik Gunung, Sunnah Rasulullah yang Kini Jadi Hobi Gen Z dan Milenial

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 19 September 2025 | 01:54 WIB

Hobi Naik Gunung.
Hobi Naik Gunung.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Siapa sangka aktivitas naik gunung yang kini jadi tren anak muda ternyata sudah dicontohkan Rasulullah sejak 1400 tahun lalu?

Ya, jauh sebelum istilah hiking atau mountaineering populer, Nabi Muhammad SAW sudah menunjukkan betapa bermanfaatnya kegiatan mendaki.

Jejak Rasulullah di Gunung Jabal an-Nur

Sebelum diangkat menjadi nabi, Muhammad SAW sering menyendiri di Gua Hira yang terletak di puncak Gunung Jabal an-Nur, Mekah.

Baca Juga: 7 Gunung di Jawa Timur yang Wajib Dicoba Pendaki Pemula: Dari Jalur Santai Hingga Puncak yang Magis

Beliau rutin mendaki gunung setinggi 642 meter ini untuk beribadah dan merenung. Di usia 40 tahun, Rasulullah masih kuat mendaki gunung curam dengan medan berbatu.

Gua Hira bukan tempat yang mudah dijangkau. Butuh stamina prima dan kaki yang kuat untuk mencapainya.

Tapi Rasulullah melakukannya secara rutin, bahkan bermalam-malam di sana. Ini menunjukkan betapa beliau memahami pentingnya aktivitas fisik yang menantang.

Manfaat Naik Gunung Menurut Islam

Dalam Islam, menjaga kesehatan tubuh adalah kewajiban. Rasulullah bersabda, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah."

Naik gunung menjadi salah satu cara terbaik mewujudkan hal ini. Aktivitas mendaki melatih hampir seluruh otot tubuh. Kaki menjadi kuat, jantung sehat, dan paru-paru terlatih.

Baca Juga: Melihat Kembali Keindahan Potensi Wisata Kembar di Kecamatan Gondang, Gunung Kendil dan Gunung Lawang

Belum lagi manfaat mentalnya. Di ketinggian, kita jadi lebih mudah merasakan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya yang menakjubkan.

Naik gunung bukanlah olahraga biasa, yang membedakan dengan olahraga lain adalah dimensi spiritualnya.

Di puncak gunung, kita merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Udara segar, pemandangan luas, dan kesunyian alam membuat hati tenang dan pikiran jernih.

Rasulullah memilih Gua Hira bukan tanpa alasan. Tempat tinggi memberikan ketenangan untuk merenung dan beribadah.

Baca Juga: Pencarian Terakhir: Film Horor Gunung Sarangan yang Sarat Kehangatan Keluarga

Inilah yang kemudian kita rasakan saat mendaki gunung, sebuah kedamaian yang sulit didapat di tengah hiruk pikuk kota.

Tips Naik Gunung ala Sunnah

Jika ingin mengikuti jejak Rasulullah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 

  1. Niatkan mendaki sebagai ibadah dan cara mendekatkan diri pada Allah. 
  2. Jaga adab di alam dengan tidak merusak lingkungan. 
  3. Ingat untuk selalu bersyukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan.

Saat mendaki, perbanyak dzikir dan doa. Gunakan waktu di puncak untuk merenung dan mengevaluasi diri.

Baca Juga: Konservasi Mata Air Kaki Gunung Pandan, Unigoro dan EMCL Tanam Ribuan Pohon

Rasulullah mengajarkan bahwa setiap aktivitas bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.

Kesimpulan

Naik gunung bukan sekadar tren atau hobi semata. Aktivitas ini memiliki nilai spiritual yang mendalam dan telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah.

Dengan mendaki, kita merawat tubuh yang diamanahkan Allah sambil mendekatkan diri pada-Nya.

Baca Juga: Gunung Sarangan Sebagai Karakter Misterius: Setting Sakral yang Menyimpan Horor dalam Pencarian Terakhir

Jadi, bagi yang hobi naik gunung, terus lanjutkan kegiatan positif ini dan bagi yang belum pernah, mungkin ini saatnya mencoba olahraga sunnah yang satu ini.

Siapa tahu di puncak gunung nanti, kita bisa merasakan kedamaian yang sama seperti yang dirasakan Rasulullah di Gua Hira. (jes)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#hiking #Hobi #nabi muhammad saw #rasulullah #Naik Gunung #mountaineering #sunnah rasulullah #Gen Z #milenial