Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Work From Cafe, Solusi Produktif atau Bahan untuk Pamer di Medsos?

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 19 September 2025 | 01:43 WIB

Work From Cafe.
Work From Cafe.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Siapa yang tidak kenal pemandangan ini, seseorang duduk di sudut kafe dengan laptop terbuka, secangkir kopi di samping, dan earphone menutup telinga.

Fenomena kerja di kafe atau yang sering disebut "work from cafe" kini menjadi tren bagi kalangan pekerja muda dan freelancer.

Tapi pertanyaannya, apakah benar kerja di kafe membuat kita lebih produktif, atau hanya sekadar ingin gaya hidup terlihat keren di media sosial?

Mengapa Kafe Jadi Pilihan Kantor Dadakan?

Tren ini mulai muncul ketika budaya kerja fleksibel semakin berkembang. Banyak orang yang bosan kerja dari rumah merasa butuh suasana baru untuk memicu semangat kerja.

Baca Juga: Dinperinaker Bojonegoro Belum Mendata Jumlah Freelancer

Kafe pun jadi solusi yang menarik karena menawarkan atmosfer yang berbeda dari rumah atau kantor formal.

Suasana kafe yang ramai tapi tidak terlalu bising, aroma kopi yang menenangkan, dan desain interior yang instagramable membuat banyak orang merasa lebih bersemangat untuk menyelesaikan tugas.

Belum lagi, kafe biasanya menyediakan wifi gratis dan colokan listrik yang memadai untuk mendukung aktivitas kerja.

Sisi Positif Kerja di Kafe

Kerja di kafe memang punya beberapa keuntungan. 

  1. Perubahan suasana bisa membantu meningkatkan kreativitas dan fokus. Ketika kita jenuh dengan rutinitas di rumah, pindah ke lingkungan baru bisa memberikan energi segar untuk menyelesaikan pekerjaan.
  2. Suara latar belakang di kafe yang tidak terlalu keras justru bisa membantu konsentrasi. Fenomena ini dikenal sebagai "ambient noise" yang terbukti dapat meningkatkan produktivitas pada beberapa orang. Suara percakapan pelan, musik lembut, dan bunyi mesin kopi menciptakan white noise alami yang menenangkan.
  3. Keberadaan kita di ruang publik juga membuat lebih disiplin. Rasa malu jika terlihat bermalas-malasan di depan orang lain secara tidak langsung memaksa kita untuk tetap fokus pada pekerjaan.

Tantangan yang Sering Diabaikan

Namun, kerja di kafe juga punya sisi negatifnya. Biaya operasional jadi lebih tinggi karena harus membeli minuman atau makanan sebagai "tiket masuk".

Baca Juga: Belum Banyak Ruang Publik Wadahi Pekerja Lepas Bojonegoro

Bagi yang melakukan work from cafe setiap hari, pengeluaran ini bisa cukup menguras kantong.

Masalah lain adalah gangguan yang tidak bisa diprediksi. Kafe bisa tiba-tiba ramai, musik berubah jadi lebih keras, atau ada pelanggan yang bicara dengan suara tinggi.

Belum lagi masalah koneksi internet yang kadang tidak stabil atau meja yang harus berbagi dengan pengunjung lain.

Apakah Ini Cuma Soal Gengsi?

Jujur saja, tidak sedikit orang yang kerja di kafe karena alasan estetik daripada produktivitas.

Foto laptop di atas meja kayu dengan latte art di sampingnya memang sangat instagramable. Status "working from cafe" di media sosial juga bisa memberikan kesan bahwa kita punya lifestyle yang fleksibel dan modern.

Baca Juga: Tren Kerja Freelance Meningkat di Bojonegoro: BPS Catat 8,94 Persen Pekerja Lepas

Tren ini bahkan menciptakan fenomena baru yakni orang yang datang ke kafe hanya untuk foto, lalu pindah tempat atau pulang setelah mendapat konten yang diinginkan.

Kafe aesthetic dengan interior minimalis dan pencahayaan yang bagus jadi sasaran utama para content creator.

Menemukan Keseimbangan

Sebenarnya, efektivitas kerja di kafe sangat tergantung pada jenis pekerjaan dan kepribadian masing-masing orang.

Untuk pekerjaan kreatif seperti menulis, desain, atau brainstorming, suasana kafe memang bisa memberikan inspirasi.

Baca Juga: Fenomena Digicam sebagai Gaya Hidup Baru Gen Z yang Menyatukan Nostalgia dan Tren Foto Kekinian

Tapi untuk pekerjaan yang butuh konsentrasi tinggi seperti coding atau analisis data, lingkungan yang tenang mungkin lebih cocok.

Pentingnya kita untuk jujur pada diri sendiri. Jika memang merasa lebih produktif di kafe, tidak ada salahnya sesekali mengubah tempat kerja.

Tapi jika hanya ikut-ikutan tren tanpa merasakan manfaatnya, lebih baik pertimbangkan kembali keputusan tersebut.

Kesimpulan

Work from cafe bisa jadi solusi produktif untuk beberapa orang, tapi bukan formula ajaib yang cocok untuk semua.

Pastikan anda menemukan lingkungan kerja yang benar-benar mendukung produktivitas, bukan hanya yang terlihat bagus di foto.

Baca Juga: Lemari Penuh Baju, tapi Selalu Bingung Mau Pakai Apa? Kenali 'Capsule Wardrobe', Solusi Cerdas Gen Z!

Jadi, sebelum membawa laptop ke kafe, tanyakan pada diri sendiri, apakah ini untuk meningkatkan kualitas kerja, atau sekadar ingin terlihat keren?

Jawaban jujur akan membantu menentukan apakah tren ini cocok untuk gaya hidup dan kebutuhan kerja kita. (jes)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#fleksibel #kreatif #pekerja lepas #produktif #freelancer #fenomena #keren #lifestyle #Work from Cafe #kantor #pamer