RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Selama ini, Bojonegoro lebih dikenal dengan julukan Kota Ledre, penghasil kayu jati, dan lumbung padi. Tapi siapa sangka, di balik wilayahnya yang di dataran rendah, kota di tepi Bengawan Solo ini menyimpan destinasi pendakian yang tak kalah seru dibanding daerah pegunungan. Buktinya, enam titik bukit dan gunung di Bojonegoro kini mulai ramai dijejali pendaki anak muda hingga keluarga yang mencari pengalaman lain selain jalan-jalan ke mal atau kafe di kota.
- Gunung Pandan: Surga Tersembunyi di Selatan Bojonegoro
Tak banyak yang tahu kalau Bojonegoro punya puncak hampir menyentuh 900 mdpl. Gunung Pandan namanya. Lokasinya berada di perbatasan dengan Nganjuk dan Madiun. Meski disebut gunung, jalur menuju puncaknya relatif ringan, bisa ditempuh hanya 60–90 menit saja. Dari atas, pandangan mata dimanjakan hamparan Pegunungan Kendeng yang membelah Jawa Timur. Banyak pendaki pemula menjadikannya gunung pertama sebelum mencoba Semeru atau Lawu.
- Bukit Tono (Buton): Dari Spot Selfie Jadi Magnet Wisata Desa
Di Desa Sambongrejo, muncul fenomena baru. Sebuah bukit kecil yang dulu sepi kini mendadak viral berkat media sosial. Warga menamainya Bukit Tono atau Buton. Setiap sore, ratusan pengunjung berdatangan, berburu foto dengan latar langit jingga dan siluet gunung di kejauhan. Pemerintah desa pun sigap: memasang fasilitas gardu pandang, ayunan, dan jalur tangga sederhana agar aman untuk pengunjung. “Awalnya hanya anak muda lokal yang datang. Sekarang pengunjung bisa ratusan tiap akhir pekan,” kata Kepala Desa Sambongrejo.
- Bukit Cinta: Romantis dan Ramah Keluarga
Bagi pasangan muda, Bukit Cinta menjadi destinasi baru untuk menepi dari hiruk-pikuk kota. Lokasinya mudah dijangkau, jalurnya ringan, dan cocok untuk piknik keluarga. Fasilitas gazebo, tempat duduk, serta area swafoto membuat bukit ini tak pernah sepi, terutama saat libur. Nama “Bukit Cinta” sendiri menjadi daya tarik tersendiri, membuat banyak pasangan penasaran mengabadikan momen romantis di sana.
- Waduk Pacal: Sejarah Kolonial dan Trekking Ringan
Bergeser ke selatan, ada Waduk Pacal, bendungan bersejarah peninggalan Belanda tahun 1933. Selain jadi sumber irigasi ribuan hektare sawah, waduk ini kini ramai untuk wisata. Menariknya, kawasan sekitarnya berupa bukit-bukit kecil yang bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Dari puncak bukit, permukaan air waduk yang tenang berpadu dengan perbukitan hijau jadi panorama yang tak kalah dari danau-danau wisata populer.
- Kedung Maor dan Sendang Grogolan: Trekking Menuju Air Terjun
Bosan dengan spot selfie? Bojonegoro juga punya jalur trekking alam liar. Dua yang paling populer adalah Air Terjun Kedung Maor dan Sendang Grogolan. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalan setapak, bebatuan, hingga sungai kecil. Meski cukup menantang, setibanya di lokasi, semua lelah terbayar dengan suara gemericik air dan kesegaran alami. Cocok bagi yang ingin sensasi adventure di tengah hutan.
- Teksas Wonocolo: Geopark Mini yang Edukatif
Spot terakhir berbeda dari lainnya. Namanya unik: Teksas Wonocolo. Julukan itu bukan tanpa alasan. Di sini, pengunjung akan melihat deretan sumur minyak tradisional peninggalan Belanda yang masih aktif dikelola masyarakat. Jalur trekking singkat bisa dilakukan di bukit-bukit kecil sekitarnya. Bukan hanya wisata alam, tapi juga wisata edukasi tentang sejarah minyak bumi di Bojonegoro.
Data Wisata Alam Bojonegoro
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, kunjungan wisata alam naik signifikan sejak 2022. Tahun 2023 tercatat lebih dari 175 ribu wisatawan datang ke destinasi alam, sebagian besar didominasi anak muda berusia 17–30 tahun. Tren ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap wisata berbasis alam makin tinggi, apalagi di era pasca-pandemi.
Mengapa Layak Dicoba?
Meski bukan wilayah pegunungan seperti Malang atau Banyuwangi, Bojonegoro berhasil memoles potensi bukit dan alamnya menjadi daya tarik wisata. Jalurnya relatif singkat, akses jalan semakin membaik, dan fasilitas desa wisata berkembang. Pendakian di sini bukan soal menaklukkan ketinggian, tapi menikmati panorama dan kebersamaan.
Jadi, kalau selama ini Anda hanya mengenal Bojonegoro dari sate Ledre, Bengawan Solo, dan kayu jati, mungkin sudah saatnya menengok sisi lain Kota Ledre ini. Siapkan sepatu trekking ringan, kamera, dan hati yang lapang. Karena Bojonegoro bukan hanya kota dataran rendah—tetapi juga rumah bagi “gunung tipis” yang siap ditaklukkan siapa saja. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana