RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dunia fashion memasuki masa berduka. Salah satu desainer fashion dan pemilik brand fashion legendaris asal Italia, Giorgio Armani meninggal dunia pada Kamis malam (4/9).
Meskipun masyarakat Indonesia belum tentu mengenal Giorgio sebagai sosok desainer, mayoritas tentu kenal produk-produk Armani buatannya. Berbagai produk mulai dari pakaian, aksesoris hingga parfum menjadi item fashion yang digemari karena kesan mewah dan elit yang ditampilkannya.
“Dengan duka tak terhingga, Armani Group mengumumkan kepergian pencipta, pendiri dan penggerak kami yang tak kenal lelah, Giorgio Armani. Kami berkomitmen untuk melindungi dan meneruskan warisannya secara terhromat, bertanggungjawab, dan dengan cinta,” bunyi pernyataan resmi perusahaan pada Kamis, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Diketahui, pria yang sering disebut sebagai Re Giorgio (Raja Giorgio) tersebut sudah cukup lama sakit-sakitan, hingga harus melewatkan Milan Fashion Week Juni lalu. Menurut BBC, pria asal Piacenza tersebut masih sempat memimpin satu pertunjukan fashion milik perusahaan pada Juli di Paris, namun Giorgio, yang akhirnya berpulang di usia 91 tahun, mengarahkan pertunjukan dari kediamannya berhubung sakit.
“Tuan Armani beristirahat dengan damai, dikelilingi keluarga dan sanak saudara. Tanpa lelah ia bekerja hingga akhir hayat, mendedikasikan diri untuk perusahaan, ciptaannya, dan berbagai program yang masih berjalan,” lanjut pernyataan perusahaan.
Semasa hidup, Giorgio awalnya kuliah di bidang farmasi semasa muda pada 1956. Namun karena merasa tidak cocok dengan keinginannya, dirinya memutuskan berhenti setelah tiga tahun, dan menjalankan wajib militer.
Usai wajib militer, Giorgio bekerja di toko pakaian dan kain bernama La Rinascente di salah satu ibukota fashion dunia, Milan. Selama bekerja, Armani mulai memahami soal serba-serbi busana, serta keinginan para pengunjung untuk tampil modis.
Kemudian, Armani direkrut untuk bekerja di rumah desain milik Nino Cerruti, salah satu desainer fashion papan atas pada zamannya. Dengan pengetahuan yang diperolehnya semasa bekerja di Milan, Armani membantu Cerruti menghasilkan pakaian pria yang modis, namun terjangkau dan dapat diproduksi masal.
Sekitar tahun 1966, Armani bertemu dengan seorang arsitek muda bernama Sergio Galeotti. Galeotti mengajak Armani untuk mendirikan usaha sendiri, yang akhirnya terwujud tahun 1975 setelah bertahun-tahun mengumpulkan modal.
Armani mengubah banyak skena mode dan fashion laki-laki dan perempuan berkat pengetahuan dan visi yang dimilikinya. Secara garis besar, pakaian laki-laki dibuat lebih luwes dan nyaman dipakai, sementara pakaian perempuan dijauhkan dari kesan lemah lembut, dan dibuat lebih tegas.
“Saya menyadari bahwa perempuan membutuhkan cara berpakaian yang setara dengan laki-laki, sesuatu yang akan memberi mereka martabat,” jelasnya sebagaimana dikutip dari BBC.
Sambil bekerja, Armani juga memperluas jangkauan bisnisnya, terutama dengan menawarkan pakaiannya untuk dikenakan oleh berbagai bintang film barat sejak era 1980an. Paling baru, Armani mulai merambah usaha hotel sejak 2010 silam.
Perkiraan Forbes, usaha Armani mendaratkan kekayaan sebanyak USD 13 miliar untuk dirinya dan keluarganya. Sepanjang hidupnya, seluruh aset perusahaan Armani dibegang oleh Giorgio dan keluarga besarnya, sehingga diperkirakan perusahaan akan diteruskan olehs alah satu sanak keluarga. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana