Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

3 Jenis Investasi Ala Tom Lembong, Mari Simak Penjelasannya!

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 2 September 2025 | 00:39 WIB
INVESTASI: Tom Lembong merupakan investor murni. Mayoritas asetnya merupakan surat berharga.
INVESTASI: Tom Lembong merupakan investor murni. Mayoritas asetnya merupakan surat berharga.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Investasi merupakan jaring pengaman setiap orang untuk tabungan di masa depan.

Lantaran banyak orang selalu mengidamkan memiliki keamanan secara finansial. Bahkan, tak sedikit orang berjuang agar bisa mencapai kemerdekaan finansial (financial freedom).

Salah satu tokoh masyarakat yang terbilang melek investasi ialah Thomas Trikasih Lembong atau lebih dikenal dengan nama Tom Lembong.

Mantan Menteri Perdagangan Periode Agustus 2015 hingga 27 Juli 2016 dan Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Juli 2016 hingga 23 Oktober 2019 itu jadi sorotan karena berdasar Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) pada 2020, diketahui, mayoritas asetnya merupakan surat berharga (obligasi dan saham).

Uniknya, Tom Lembong tidak memiliki harta seperti tanah, rumah, dan kendaraan. Pada akhir masa jabatannya sebagai Kepala BKPM pada 30 April 2020, Tom tercatat memiliki kekayaan sebesar Rp 101,48 miliar. Rincian harta kekayaannya adalah sebagai berikut:

Berdasar rincian kekayaan Tom Lembong, bisa disimpulkan pria kelahiran 1971 tersebut merupakan seorang investor murni. Dia justru tidak mengoleksi properti atau kendaraan mewah seperti pejabat-pejabat lainnya.

Tetapi, sebenarnya hal itu bukan fakta yang mengejutkan. Karena latar belakang Tom Lembong memang berkutat di bidang keuangan dan investasi.

Sebelum memasuki dunia politik, Tom Lembong memulai kariernya pada 1995 silam di perusahaan keuangan terkemuka seperti Deutsche Bank dan Morgan Stanley.

Ia kembali ke Indonesia untuk terlibat dalam restrukturisasi perbankan nasional melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada 2000-an.

Tom yang usai menerima abolisi dari Presiden RI Prabowo Subianto pada 30 Juli 2025 atas kasus korupsi impor gula itu juga terlibat dalam pendirian perusahaan investasi, Quvat Management Pte Ltd, yang berinvestasi di berbagai sektor.

Termasuk di PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) untuk pengembangan bioskop Blitz Megaplex (CGV Blitz).

Selain itu, Tom mendirikan Quvat Capital, sebuah perusahaan investasi yang mengelola dana lebih dari 500 juta dolar AS.

Perusahaan ini memiliki portofolio yang beragam, termasuk di sektor logistik kelautan, konsumen, dan keuangan.

Sementara itu, baru-baru ini, ada konten video YouTube Shorts yang diunggah akun @ThePeople-l4c pada 10 Agustus 2025, lalu diunggah ulang akun @zidanlnb di TikTok pada 13 Agustus 2025.

Konten video tersebut mewawancarai Tom Lembong seputar tips memilih produk investasi. Tom Lembong menyampaikan, bahwa sebaiknya ketika hendak berinvestasi mengklasifikasikan tiga jenis investasi.

’’Investasi harus dibagi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang,” tutur Tom Lembong. Sehingga, secara psikologis punya tujuan yang jelas dalam berinvestasi.

Dan, jadi pengingat buat kita semua agar tidak menaruh uang di satu keranjang atau produk investasi yang sama. Perlu adanya diversifikasi dalam berinvestasi.

1. Investasi Jangka Pendek

Menurut Tom Lembong, investasi jangka pendek bisa memilih deposito bank atau mata uang asing yang nilai tukarnya stabil.

Jenis investasi jangka pendek bersifat liquid, jadi dana investasinya bisa dicairkan kapan saja. ’’Apalagi akhir-akhir ini kondisi dunia sedang bergejolak. Jadi, investasi jangka pendek tetap penting,” imbuhnya.

Deposito adalah simpanan atau tabungan yang mana pencairan dananya dapat dilakukan sesuai dengan periode dan syarat-syarat tertentu.

Sebagai salah satu aset likuid, deposito bukan hanya bisa dijadikan investasi yang aman, tetapi juga dapat berguna sebagai agunan/jaminan kredit, sambil tetap mendapatkan bunga berjalan sesuai penawaran yang didapatkan.

Bunga deposito setiap bank berbeda-beda, tahu ini (2025) kisaran 2-4 persen per tahun dengan tenor 1-12 bulan.

Tom Lembong menyarankan investasi jangka pendek dengan cara membeli mata uang asing yang nilai tukarnya stabil seperti Euro (EUR) atau Singapore Dollar (SGD).

Berdasar data nilai tukar SGD terhadap Indonesian Rupiah (IDR) mengalami kenaikan 159,22 persen pada periode 2005-2025. Pada 2005 nilai tukar 1 SGD setara Rp 4.940, kini 2025 nilai tukarnya tembus Rp 12.806 per SGD.

Sedangkan, nilai tukar EUR terhadap IDR juga alami lonjakan 150,15 persen pada periode 2006-2025. Pada 2006, nilai tukarnya Rp 10.867 per EUR, kini 2025 tembus Rp 19.328 per EUR.

2. Investasi Jangka Menengah

Tom Lembong sarankan masyarakat untuk produk investasi jangka menengahnya ialah emas. ’’Karena kita semua menghadapi dunia dengan inflasi. Dan, emas biasanya tahan terhadap inflasi,” bebernya.

Diketahui, bahwa tingkat inflasi di Indonesia setiap tahunnya rata-rata sebesar 8,26 persen dari tahun 1997 hingga 2025. Sementara, harga emas tiap tahun alami kenaikan rata-rata 8-10 persen.

3. Investasi Jangka Panjang

Menurut Tom Lembong, produk investasi jangka panjang sulit diprediksi. ’’Tapi, secara klasik produk investasi jangka panjang ialah saham,” ungkapnya.

Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan.

Pada sisi yang lain, saham merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor. Karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Namun, tingkat risikonya lebih tinggi dibanding produk investasi seperti deposito, mata uang asing, dan emas.

Jadi, ketiga jenis investasi itu bisa dijadikan pegangan bagi kalian yang sedang tertarik ingin berinvestasi. Tips dari Tom Lembong tergolong tips investasi yang tingkat risikonya sedang.

Karena, salah satu produk investasi dengan risiko tinggi karena tingkat volatiliasnya ekstrem ialah cryptocurrency. Sebaiknya, pertimbangkan baik-baik produk investasi sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial. (bgs)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Jangka Pendek #Tom Lembong #cryptocurrency #lhkpn #mata uang asing #deposito #Jangka Menengah #Investasi #Jangka Panjang #Emas #saham