Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Chromebook, Laptop yang Jadi Objek Dugaan Kasus Korupsi: Murah dan Cepat, Tapi Bergantung Koneksi Internet

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 20 Agustus 2025 | 23:27 WIB
Tampilan standar sebuah Chromebook (Dok. Google)
Tampilan standar sebuah Chromebook (Dok. Google)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dugaan korupsi Chromebook dalam program digitalisasi pendidikan yang dilaksanakan Kemendikbudristek di era pandemi memasuki perkembangan baru. Per Selasa (19/8), Kejaksaan Agung (Kejari) memerintahkan seluruh Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Kejaksaan Negeri (Kejari) untuk menelisik dan mengusut kasus tersebut hingga ke tingkat daerah.

Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna menjelaskan, perintah ini dilaksanakan karena kasus tersebut meluas hingga ke tingkat daerah. Sehingga untuk mempermudah kinerja Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Kejari dan Kejati diminta mengumpulkan bukti-bukti dugaan korupsi ke Kejagung untuk melengkapi berkas perkara kasus tersebut.

“Jadi dari proses penyidikan di daerah-daerah itu, semuanya disatukan di sini (Kejagung). Di daerah itu untuk memastikan barang-barangnya ada di sana, memeriksa, melakukan BAP, dan semuanya nanti dilaporkan di sini (Kejagung),” jelas Anang kepada awak media nasional pada Selasa, dan memastikan persidangan tetap dilakukan oleh Kejagung.

Sehingga sejak Selasa, berbagai pengusutan terhadap pengadaan Chromebook telah diadakan di berbagai kejari, termasuk di Bojonegoro. Selain itu pengusutan juga diadakan diantaranya di kota Batu, Malang, Probolinggo, Magetan dan lain sebagainya.

Chromebook sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan laptop-laptop lainnya yang dapat ditemui dan digunakan sehari-hari. Yang menjadikannya berbeda, serta dinamai Chromebook, adalah sistem operasi (OS) yang digunakan laptop-laptop tersebut, yakni ChromeOS buatan Google.

Sebagai catatan samping, masyarakat Indonesia yang awam teknologi mungkin lebih mengenal OS sebagai ‘Windows’, karena mayoritas komputer dan laptop di Indonesia dipasangi OS Microsoft Windows sebagai sistem operasi komputer dan laptop yang paling populer digunakan. Selain itu para pengguna produk Apple akrab dengan MacOS, sementara mereka yang berkutat di dunia komputer dan jaringan umumnya lebih sering menggunakan Linux.

ChromeOS merupakan hasil modifikasi Google terhadap OS Gentoo Linux, yang bersifat terbuka untuk umum seperti halnya kebanyakan distribusi atau varian OS Linux lain. ChromeOS sendiri juga punya varian yang terbuka untuk dimodifikasi pengguna, yakni ChromiumOS.

Setelah ujicoba selama setahun, akhirnya Chromebook diperkenalkan sebagai laptop dengan ChromeOS sebagai OS standar pada tahun 2011, dan pada 2014 Chromebox diperkenalkan sebagai varian komputer meja/komputer besar. Karena sifatnya yang terbuka, Chromebook dan Chomebox dapat diadopsi berbagai pabrikan untuk menciptakan varian laptop atau komputer yang menggendong ChromeOS dari pabrik.

Spesifikasi sebuah Chromebook sendiri beragam tergantung keperluan dan kemampuan pabrik, namun Kemendikbud melalui Permendikbud Nomor 5 Tahun 2021 mensyaratkan spesifikasi minimal sebagai berikut:

Lima produsen lokal, yakni Evercoss, Zyrex, Axioo, SPC dan Advan ditunjuk sebagai vendor Chromebook untuk kebutuhan pendidikan Indonesia. Selain itu, satu pabrikan luar negeri dengan pabrik dalam negeri, yakni Acer turut ditunjuk sebagai penyedia.

Hal utama yang membedakan Chromebook dengan laptop lain adalah sistem pengoperasian dan penyimpanan data. Chromebook lebih banyak mengandalkan aplikasi berbasis web dan penyimpanan data cloud atau awan seperti Google Drive dan Google Docs, sementara laptop pada umumnya masih bergantung pada penyimpanan dalam bentuk memori serta perangkat lunak khusus untuk setiap OS yang digunakan.

Dengan ini, sebuah chromebook tidak perlu menggendong banyak aplikasi terpisah sebelum digunakan, dibanding misal laptop dengan OS Microsoft yang perlu dipasangi browser internet, Microsoft Office, dan lain sebagainya. Karena itu pula Chromebook juga lebih kebal virus, dengan lebih sedikit komponen perangkat lunak yang rentan diserang.

Lebih lanjut, dengan kebutuhan aplikasi yang sudah terkaver oleh penggunaan web dan internet, sebuah Chromebook juga tidak perlu menggunakan komponen canggih atau terkini untuk menjalankan sistem operasi dan aplikasi tersebut. Kemudian laptop juga jadi lebih responsif, dan tidak perlu melakukan pembaruan secara manual seperti halnya OS lain.

Dengan semua fitur ini, Chromebook dapat ditebus dengan harga lebih miring di pasaran. Selain itu Chromebook untuk kebutuhan sekolah dilengkapi dengan manajer perangkat yang dapat mengatur agar laptop hanya mengakses web dan aplikasi kebutuhan pendidikan, dan tidak disalahgunakan untuk kebutuhan lain.

"Dari sisi harga, laptop Chromebook kalau dibandingkan dengan laptop lain dengan spesifikasi sama, harganya selalu sepuluh hingga tiga puluh persen lebih murah. Selain itu ChromeOS juga gratis, sedangkan untuk OS lain ada biaya tambahan," jelas mantan Mendibudristek, Nadiem Makarim yang memimpin proyek penyediaan Chromebook di era kepemimpinannya, pada Juni lalu.

Meskipun demikian, ketergantungan Chromebook kepada internet juga jadi bumerang tersendiri, terutama bagi sekolah yang ada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Tanpa koneksi internet yang cepat dan stabil, Chromebook tidak dapat berfungsi maksimal dan rawan menyebabkan operasional tersendat.

“Kalau tidak salah, di tahun 2019 sudah dilakukan uji coba terhadap penerapan Chromebook itu terhadap 1.000 unit, itu tidak efektif," jelas Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Harli Siregar pada awak media nasional di saat yang sama.

Menurut Kejaksaan Agung pada Selasa, total ada 1,1 juta Chromebook yang diadakan untuk proyek milik Nadiem tersebut dengan total anggaran Rp 9,8 triliun. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung memperkirakan dugaan korupsi pengadaan Chromebook menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 1,98 triliun. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Aplikasi #Kemendibudristek #mendikbudristek #Pendidikan #kejaksaan agung #Chrome #kejari #dugaan korupsi #pengadaan chromebook #Korupsi #sistem operasi #komputer #ChromeOS #Chromebook #Kejagung #bojonegoro #jampidsus #Kejati #nadiem makarim #google #pendidikan indonesia #Chromebox Mini #windows