RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di era kerja modern, istilah burnout semakin sering terdengar. Fenomena ini bukan sekadar keluhan lelah setelah bekerja, melainkan kondisi psikologis yang serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2019 mengakui burnout sebagai sindrom dalam International Classification of Diseases (ICD-11), dengan penjelasan bahwa ia timbul akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola secara efektif.
Christina Maslach, peneliti yang banyak meneliti topik ini sejak 1980-an, mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang mencakup tiga aspek: kelelahan emosional, depersonalisasi atau sikap sinis terhadap pekerjaan, dan penurunan rasa pencapaian pribadi.
Dalam konteks pekerja usia produktif—dewasa awal hingga dewasa tengah—burnout kerap muncul seiring tekanan untuk membangun karier, memenuhi tuntutan ekonomi, sekaligus menyeimbangkan peran dalam keluarga maupun masyarakat.
Faktor Risiko: Antara Budaya Kerja dan Tuntutan Hidup
Burnout tidak hadir begitu saja. Riset menunjukkan sejumlah faktor risiko yang membuat pekerja produktif rentan.
Pertama, beban kerja yang tinggi. Target berlapis, jam kerja panjang, dan ekspektasi kinerja yang terus meningkat sering kali membuat individu kehilangan waktu istirahat. Kedua, tekanan organisasi. Dalam banyak kasus, pekerja merasa kurang mendapat kendali atas tugasnya, sementara pengawasan yang ketat atau gaya kepemimpinan otoriter memperbesar stres.
Ketiga, minimnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Fenomena ini semakin nyata pada masa pandemi, ketika batas antara rumah dan kantor kabur akibat sistem kerja daring. Bagi sebagian pekerja, rumah tidak lagi menjadi ruang pemulihan, melainkan perpanjangan kantor.
Dalam konteks Indonesia, risiko ini semakin kompleks. Budaya lembur kerap dipandang sebagai bukti loyalitas, sementara fenomena sandwich generation—dewasa muda yang menanggung kebutuhan anak sekaligus orang tua—menambah tekanan ekonomi dan emosional.
Dampak yang Melampaui Individu
Konsekuensi burnout tidak hanya berhenti pada kelelahan. Sejumlah penelitian mengaitkannya dengan gangguan tidur, kecemasan, depresi, bahkan penyakit fisik seperti hipertensi. Relasi sosial juga terganggu: individu yang terbakar habis cenderung mudah tersulut emosi, menarik diri, atau kesulitan mempertahankan komunikasi sehat dengan pasangan maupun rekan kerja.
Bagi organisasi, burnout berarti penurunan produktivitas, meningkatnya absensi, hingga gelombang pengunduran diri. Fenomena quiet quitting, yang belakangan marak dibicarakan di berbagai media, dianggap sebagai salah satu ekspresi kelelahan pekerja yang merasa tidak lagi menemukan makna dalam pekerjaannya.
Dengan demikian, burnout menjadi isu ganda: masalah kesehatan mental individu sekaligus tantangan serius bagi keberlangsungan organisasi.
Baca Juga: Suka Hal Menantang, Ini Kepribadian Seseorang di Balik Hobi Ekstrem
Upaya Pencegahan dan Strategi Inovatif
Mengatasi burnout memerlukan pendekatan sistematis. Selama ini, banyak solusi diarahkan pada individu, misalnya melalui mindfulness, meditasi, atau olahraga rutin. Meski bermanfaat, strategi ini tidak cukup jika akar masalah berada di level organisasi.
Organisasi kini dituntut menghadirkan fleksibilitas kerja. Model hybrid working yang memberi pilihan bekerja dari rumah terbukti membantu sebagian pekerja mengurangi tekanan. Di beberapa negara, eksperimen empat hari kerja dalam sepekan menunjukkan hasil positif, baik bagi kesehatan karyawan maupun produktivitas perusahaan.
Selain itu, konsep job crafting—yakni upaya karyawan menyesuaikan cara kerja agar lebih sesuai dengan minat dan nilai personal—menjadi pendekatan yang semakin populer. Dengan dukungan manajemen, pekerja dapat merancang ulang sebagian tugasnya sehingga pekerjaan terasa lebih bermakna.
Tidak kalah penting adalah dukungan sosial. Penelitian berulang kali menegaskan bahwa pekerja dengan jaringan dukungan yang kuat—baik dari atasan, rekan kerja, maupun keluarga—lebih mampu bertahan menghadapi tekanan. Maka, organisasi perlu mendorong budaya komunikasi terbuka, mentoring, serta sistem penghargaan yang adil.
Melihat ke Depan
Burnout bukan sekadar istilah tren, melainkan realitas psikologis yang kian mengemuka di tengah perubahan dunia kerja. Pekerja usia produktif, yang berada di persimpangan antara ambisi karier dan tuntutan kehidupan pribadi, menjadi kelompok yang paling rentan.
Namun, fenomena ini bukan tanpa solusi. Kesadaran kolektif—bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan pencapaian kerja—adalah langkah awal. Selanjutnya, sinergi antara pekerja, organisasi, dan kebijakan publik dapat membuka jalan bagi ekosistem kerja yang lebih sehat.
Masyarakat modern membutuhkan cara kerja baru yang tidak hanya menuntut produktivitas, tetapi juga memberi ruang bagi manusia untuk tetap utuh secara emosional dan mental. Dengan demikian, burnout dapat dikelola bukan sebagai akhir dari perjalanan, melainkan peringatan agar dunia kerja lebih berkelanjutan bagi generasi kini dan mendatang. (kam)
Editor : Hakam Alghivari