Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Banyak Gen Z Memilih Tidak Menikah: Cinta Bisa Habis Karena Bosan, Tapi Trauma Akan Selalu Hidup Dalam Bayangan

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 22:25 WIB
ilustrasi Perceraian  (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
ilustrasi Perceraian (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernikahan nampaknya tidak lagi menjadi impian bagi kebanyakan Gen Z. Di tengah gempuran drama rumah tangga generasi sebelumnya, sebagian Gen Z justru tumbuh dengan satu ketakutan: Jangan sampai mereka mengulang sejarah yang sama dengan orang tua mereka.

Salah satu di antaranya adalah inisial N (21), warga Bojonegoro, yang mengaku memilih untuk tidak menikah. “Dari orang tua saya belajar, cinta aja nggak cukup. Cinta bisa habis di tengah jalan hanya karena bosan. Lantas siapa korbannya? Anak mereka,” ungkap N.

Menurut N, pernikahan yang rusak tidak hanya menyisakan luka bagi pasangan, tapi juga meninggalkan retakan panjang di jiwa anak-anak mereka. Ia tumbuh dalam rumah yang penuh pertengkaran, kesunyian, dan ekspetasi yang saling meyakiti.

“Kita yang dimatikan impian punya keluarga cemara, tapi kita ga bisa egois karena mereka. Yang terluka ga cuma mereka, tapi saya, anak mereka. Karena hal itu, saya ga mau menikah. Takut. Takut seberantakan mereka. Yang dulunya saling melempar kata cinta, berakhir dengan lemparan makian dan teriakan,” lanjutnya.

Bagi sebagian besar Gen Z, kisah cinta orang tua mereka justru menjadi peringatan, bukan inspirasi. Mereka tumbuh dengan narasi bahwa lebih baik tidak pernah dilahirkan, daripada orang tua mereka harus bertemu satu sama lain.

Baca Juga: Biar Nggak Menyesal, Ini 11 Hal yang Harus Kamu Diskusikan dengan Pasanganmu Sebelum Menikah

“Gapapa saya ga pernah ada, asal bapak dan mamah saya ga pernah bertemu satu sama lain. Saya rela ga pernah lahir dan ada di dunia ini, asal mereka ga pernah ketemu dan saling menyakiti satu sama lain,” ungkap N.

N bukan satu-satunya yang merasa demikian. Di lingkaran sosialnya, banyak teman seumuran juga merasa takut untuk menikah dan komitmen jangka panjang. Trauma dari keluarga, baik yang disadari maupun yang ditelan diam-diam, membuat pernikahan terasa lebih seperti penjara daripada rumah.

Ketakutan itu bukan hanya sekadar “drama anak muda” dan “Gen-Z bermental lemah”. Banyak Gen-Z tumbuh di era ketika perceraian meningkat, perselingkuhan jadi rahasia umum, dan komunikasi dalam rumah tangga lebih banyak dipenuhi diam atau bentakan. Dalam kondisi seperti itu, bayangan akan keluarga ideal menjadi hal yang seperti mimpi yang tidak bisa digapai. (jea-mgg/edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#nikah #pernikahan #anak #komitmen #menikah #orang tua #rumah tangga #Pasangan #Gen Z #anak-anak #cinta