RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Salah satu perlombaan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang paling ditunggu masyarakat adalah panjat pinang. Bagaimana tidak, perlombaan ini sering disajikan sebagai perlombaan puncak acara, dengan hadiah menarik menanti di pucuk batang pinang, seperti barang elektronik dan perabotan.
Mekanisme perlombaannya sendiri cukup sederhana. Para peserta menaiki sebuah pohon pinang bersama-sama untuk meraih hadiah-hadiah tersebut.
Namun tentu kenyataan tak seindah yang dipikirkan, karena di samping batang pinang yang halus, umumnya minyak atau oli juga dituangkan ke batang pinang. Sehingga kesulitan memanjat batang pinang langsung meningkat pesat.
Asal-usul gelaran panjat pinang sebagai gelaran hiburan masyarakat diyakini berasal dari dua muara budaya. Yakni Dinasti Ming dari Tiongkok, dan pemerintahan kolonial era penjajahan Belanda.
Menurut Fandy Hutari dalam karyanya, Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, Tiongkok punya permainan serupa yang bernama qiang gu, yang gelarannya pertama kali tercatat di era Dinasti Ming (1368-1644). Qiang qu, yang kurang lebih berarti “panjat hantu” diyakini pertama kali dipopulerkan di Provinsi Hengchun, Taiwan, dan juga populer di wilayah selatan Tiongkok seperti Fukian dan Guangdong.
Alkisah, qiang gu dilaksanakan untuk menghormati para pasukan kerajaan yang gugur dalam proses pembangunan Hengchun. Sesaji yang ditujukan untuk arwah para pejuang juga disumbangkan untuk masyarakat miskin setempat, namun agar tidak berebut, sumbangan-sumbangan tersebut digantung di atas banyak tiang, sehingga distribusi sumbangan dapat dilakukan dengan lebih tertata.
Tradisi ini sempat dilarang di kepemimpinan selanjutnya, yakni pada era Dinasti Qing (1368-1644) karena menimbulkan banyak korban jiwa. Namun tradisi dibangkitkan lagi sejak era kependudukan Jepang pada 1895. Hingga sekarang, perlombaan qiang gu dilaksanakan sebagai bagian dari Festival Hantu, untuk menghormati arwah-arwah tersebut.
Nah ternyata tidak hanya Taiwan, panjat pinang juga dilaksanakan di Belanda sebagai permainan tradisional, dengan nama mastklimmen atau panjat tiang. Uniknya, menurut Emanuel van Meteren dalam bukunya, Nederlandtsche Historie, mastklimmen diadopsi dari budaya Belgia, terutama di daerah yang berbatasan langsung dengan Belanda seperti Gent dan Antwerp.
Mastklimmen umumnya dirayakan oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Provinsi Friesland, dan masih sering digelar di kota-kota setempat seperti di Leeuwarden, tempat mastklimmen pertama kali digelar, dan Heerenveen, tempat kejuaraan mastklimmen digelar setiap tahunnya. Sama seperti di Indonesia, berbagai hadiah, terutama mahkota mainan digantung di atas tiang.
Di Indonesia, mastklimmen diadopsi menjadi panjat pinang sekitar awal tahun 1910-an, sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina yang kala itu berkuasa di Belanda, yang jatuh setiap 31 Agustus. Menurut The Nusantara Bulletin, berbagai sembako dan makanan digantung sebagai hadiah pada saat itu, sehingga membuat rakyat pribumi bersemangat untuk ikut serta.
Meskipun merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda, panjat pinang masih populer untuk diselenggarakan di Indonesia, terutama saat perayaan Hari Kemerdekaan. Tidak hanya merupakan hiburan yang menawarkan hadiah menarik untuk peserta, panjat pinang juga dipandang sebagai simbol perjuangan pendahulu untuk memerdekakan Indonesia. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana