RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dunia kerja terus mengalami perubahan. Tak hanya dari sisi teknologi dan sistem, namun juga cara pandang generasi baru terhadap pekerjaan itu sendiri. Gen Z, generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 itu mulai mendominasi di lingkungan pekerjaan saat ini.
Gen Z memiliki perspektif yang berbeda dengan generasi pendahulunya. Fleksibilitas, keseimbangan, kesehatan mental, hingga perkembangan pribadi jadi nilai utama yang mereka kejar. Tidak sekadar gaji atau jabatan tinggi.
Pekerja Gen Z asal Kecamatan Gondang, Hesta Afita mengatakan, di dunia kerja saat ini Gen Z lebih realistis. Melihat karir secara fleksibel, terpenting bisa berkembang, memiliki impact, dan tetap hidup layak.
Hal tersebut menjadi alasan, tidak sedikit Gen Z bekerja tidak sesuai dengan jurusan pendidikan yang diambil.
’’Gen Z bakal bertahan selama tempat kerja memiliki work-life balance. Kenapa tidak dilanjutkan? Karena kami masih punya waktu buat diri sendiri. Dan, itu penting buat menjaga kewarasan,” ujarnya.
Menurut alumni Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut, bagian terpenting dari sebuah pekerjaan adalah harus selalu growth mindset. Dunia kerja terkadang tidak selalu ramah, membuat pekerja merasa tidak cukup, tidak mampu, bahkan ketinggalan.'
Baca Juga: Tren Kerja Freelance Meningkat di Bojonegoro: BPS Catat 8,94 Persen Pekerja Lepas
Tapi, dengan growth mindset membuat sadar bahwa semua orang berproses, memulai dari nol. ’’Yang penting bukan langsung jago, tapi terus belajar dan berkembang,” lanjutnya.
Dikonfirmasi terpisah, Silviana Setiaji, pekerja Gen Z di bidang pendidikan menyampaikan, fleksibilitas dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sangat penting. Fokus pada hasil dan produktivitas, bukan hanya sekadar jam kerja menjadi caranya bertahan di tempat kerja.
Baginya, bagian terpenting dari sebuah pekerjaan adalah mental dan keseimbangan antara kehidupan pribadi serta pekerjaan.
’’Saya cenderung memprioritaskan kesehatan mental dan keseimbangan antara kehidupan pribadi serta pekerjaan daripada tekanan kerja yang berlebihan,” beber alumni Universitas Airlangga Surabaya tersebut. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana