Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kenapa Perempuan Sering Terjebak Ingin Disukai Semua Orang? Ini Penjelasan Psikologisnya

Hakam Alghivari • Minggu, 20 Juli 2025 | 15:10 WIB
Ilustrasi perempuan.
Ilustrasi perempuan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banyak perempuan tumbuh dengan dorongan untuk selalu bersikap manis, menyenangkan, dan bisa diterima oleh semua orang. Di lingkungan sosial maupun profesional, tak jarang mereka merasa harus menyesuaikan diri, bahkan ketika itu mengorbankan kenyamanan pribadi.

Dorongan untuk disukai ini bukan sekadar bentuk kepribadian, tetapi sering kali dipengaruhi pola asuh, ekspektasi budaya, hingga tekanan tak terlihat yang ditanamkan sejak kecil. Perempuan yang terlalu sibuk menyenangkan orang lain bisa merasa kelelahan emosional, bahkan kehilangan jati dirinya.

Fenomena ini bukan hanya soal rendahnya kepercayaan diri. Ada penjelasan psikologis yang lebih dalam, dan penting untuk dipahami agar perempuan bisa hidup lebih autentik dan sehat secara emosional.

Mengapa perempuan bersikap demikian agar disukai banyak orang? 

1. Budaya Perempuan Harus Menyenangkan: Warisan yang Masih Mengakar

Sejak kecil, banyak perempuan diajarkan untuk menjadi anak baik, penurut, dan tidak menimbulkan konflik. Sikap sopan, manis, dan menyenangkan dianggap sebagai keharusan. Sebaliknya, sikap asertif atau terlalu vokal sering kali dianggap tidak sesuai dengan norma keperempuanan.

Banyak budaya, termasuk di Indonesia, nilai-nilai seperti menjaga perasaan orang lain dan mengutamakan keharmonisan lebih dikaitkan dengan perempuan. Ini membuat mereka lebih sering merasa bertanggung jawab atas suasana hati orang lain dan merasa bersalah ketika harus berkata "tidak".

Tekanan sosial ini membuat perempuan mudah merasa bahwa identitas mereka tergantung pada bagaimana orang lain menilai mereka. Hasilnya, banyak dari mereka mengembangkan perilaku people-pleasing tanpa sadar.

2. Ketakutan Ditolak dan Kecemasan Sosial

Keinginan untuk disukai bisa juga berasal dari rasa takut akan penolakan. Menurut American Psychological Association, rasa takut ini dapat menimbulkan social anxiety atau kecemasan sosial, yang membuat seseorang berusaha keras agar selalu terlihat menyenangkan dan tidak mengecewakan.

Perempuan yang sering merasa cemas akan penilaian orang lain cenderung lebih cepat mengalah, berusaha menjaga image, dan merasa bersalah jika tidak memenuhi harapan sekitar. Dalam jangka panjang, ini bisa membuat mereka sulit membedakan mana hubungan yang tulus dan mana yang hanya bergantung pada pencitraan.

Kebutuhan untuk merasa aman dan diterima memang sifat dasar manusia, tetapi saat hal ini menjadi dominan, seseorang bisa kehilangan arah dan kesulitan menunjukkan keaslian dirinya.

3. Sindrom Good Girl dan People-Pleaser

Psikolog Dr. Harriet Braiker menyebut istilah people-pleaser sebagai kecenderungan untuk mencari validasi dari orang lain dengan cara menyenangkan mereka. Perempuan sering kali menjadi kelompok yang rentan mengalami sindrom ini, terutama karena mereka dibesarkan dengan harapan menjadi anak baik atau good girl.

Sindrom ini ditandai dengan kesulitan menolak permintaan orang lain, sering merasa bersalah jika mengecewakan, dan cenderung mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi orang lain. Dalam jangka panjang, ini bisa menimbulkan rasa hampa, kelelahan emosional, bahkan depresi.

Yang menyedihkan, ketika seorang perempuan mulai belajar berkata tidak dan menolak untuk selalu menyenangkan, dia justru bisa mendapat label egois atau berubah. Padahal, sikap asertif adalah bagian penting dari kesehatan mental.

4. Dampaknya bagi Kesehatan Mental dan Relasi

Menjadi seseorang yang ingin selalu disukai memang terdengar positif di permukaan. Namun secara psikologis, ini bisa sangat melelahkan. Perempuan yang terus memaksakan diri untuk terlihat sempurna, baik, dan menyenangkan bisa mengalami burnout emosional.

Hubungan yang dibangun pun rentan tidak sehat. Karena terlalu fokus pada kenyamanan orang lain, mereka bisa menarik orang-orang yang memanfaatkan atau tidak menghargai batas pribadi. Rasa tidak enak hati yang berlebihan membuat perempuan seperti ini sulit mengatakan "tidak" bahkan dalam situasi yang merugikan dirinya.

Dalam beberapa kasus, perempuan bisa merasa kehilangan jati diri karena terlalu lama berperan sebagai sosok yang “diinginkan orang lain”, bukan diri sendiri. Ini dapat mengganggu perkembangan pribadi dan membuat mereka merasa tidak utuh.

5. Belajar Menetapkan Batas Tanpa Merasa Bersalah

Kabar baiknya, pola ini bisa diubah. Perempuan bisa belajar membangun kepercayaan diri tanpa perlu selalu disukai. Menetapkan batas (boundaries) adalah langkah awal yang sangat penting. Ini bukan berarti menjadi egois, melainkan menjaga diri tetap sehat secara emosional.

Menurut Positive Psychology, mengenali kebutuhan diri, menyadari hak untuk berkata "tidak", dan menerima bahwa tidak semua orang akan menyukai kita adalah bentuk kedewasaan emosional. Ini adalah proses yang membutuhkan latihan dan keberanian.

Perempuan berhak dihargai karena siapa dirinya, bukan karena seberapa banyak ia bisa menyenangkan orang lain. Semakin seorang perempuan mengenal dirinya, semakin ia berani menampilkan keaslian, dan tidak lagi merasa perlu memenuhi ekspektasi semua orang.

Ingin disukai semua orang adalah perangkap halus yang bisa membentuk cara pikir dan sikap banyak perempuan. Namun memahami akar budaya dan psikologisnya bisa membantu mereka melepaskan diri dari beban tersebut.

Menjadi diri sendiri, menetapkan batas, dan hidup sesuai nilai pribadi adalah bentuk kekuatan sejati yang perlu dirayakan. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #psikologi #disukai banyak orang #mengapa #kepribadian