RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di antara gemeretak keyboard, lalu lintas obrolan yang tak kunjung usai, dan rutinitas yang kadang terasa tak manusiawi, sepasang tangan diam-diam bergerak ke wajah. Jari telunjuk dan ibu jari bertemu di ujung kuku, dan tanpa suara, gerakan kecil itu terjadi: menggigit kuku.
Sederhana. Sepele. Tapi jika diamati lebih jauh, kebiasaan ini menyimpan cerita yang lebih besar dari sekadar tampilan jari yang rusak. Menggigit kuku—dalam dunia medis dikenal dengan nama onychophagia—bukan cuma soal estetika, tapi perilaku psikologis yang mengundang perhatian ilmuwan dan psikolog sejak lama.
Saat Kuku Menjadi Tempat Pelarian
Bagi sebagian orang, menggigit kuku muncul saat mereka merasa cemas. Ketika tekanan datang—ujian penting, rapat genting, atau bahkan momen sunyi yang tak bisa dijelaskan—gerakan itu menjadi pelarian. Ada rasa lega yang aneh, seolah tubuh menemukan cara untuk membuang sedikit dari tekanan yang menumpuk di kepala.
Psikolog menyebut ini sebagai body-focused repetitive behavior (BFRB), perilaku berulang yang dilakukan secara otomatis, tanpa sadar, untuk mengatasi ketidaknyamanan emosional.
Dalam panduan diagnosis gangguan mental, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), kebiasaan menggigit kuku dikategorikan sebagai bagian dari gangguan obsesif-kompulsif dan sejenisnya.
Namun, tak semua yang menggigit kuku memiliki OCD. Banyak di antaranya tidak mengalami gejala gangguan mental sama sekali. Ini membuat onychophagia menjadi wilayah yang rumit: ia bisa jadi sekadar kebiasaan yang terbentuk sejak kecil, namun juga bisa menjadi sinyal dari sesuatu yang lebih dalam.
Antara Bosan, Stres, dan Perfeksionisme
Studi menunjukkan bahwa ada berbagai alasan kenapa seseorang menggigit kuku. Salah satu yang paling dominan adalah stres. Tapi bukan hanya stres negatif. Orang juga bisa menggigit kuku saat mereka bosan atau bahkan saat sedang terlalu fokus. Ketika otak terlalu aktif atau justru tak punya cukup stimulasi, tubuh mencari sesuatu untuk dilakukan. Kuku menjadi korban diam-diam dari kegelisahan atau kejenuhan itu.
Ada juga yang menyebut kebiasaan ini sebagai cerminan dari perfeksionisme. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry, ditemukan bahwa orang dengan kecenderungan perfeksionistik cenderung melakukan kebiasaan seperti menggigit kuku, terutama ketika mereka merasa frustrasi atau tidak puas terhadap keadaan sekitar.
Hal ini masuk akal. Perfeksionisme adalah standar tinggi yang terus-menerus menekan. Ketika kenyataan tak sejalan dengan harapan, tubuh pun menyalurkan rasa frustrasi itu lewat kebiasaan fisik.
Luka yang Tak Terlihat
Kebiasaan menggigit kuku membawa konsekuensi yang kadang tak disadari. Secara fisik, kuku bisa rusak permanen. Lapisan pelindung hilang, bentuk kuku berubah, bahkan infeksi bisa terjadi jika kulit robek. Dalam beberapa kasus, infeksi paronikia membuat ujung jari bengkak, nyeri, dan bernanah.
Namun luka paling dalam sering kali tidak tampak. Banyak penggigit kuku mengalami rasa malu. Mereka menyembunyikan tangan saat bersalaman, atau menghindari situasi sosial yang membuat tangan mereka diperhatikan. Ada rasa bersalah yang muncul setiap kali mereka sadar bahwa kebiasaan ini terjadi lagi—dan lagi.
Sebagian bahkan melaporkan bahwa mereka telah mencoba menghentikannya selama bertahun-tahun, tapi tak berhasil. Kebiasaan ini terasa seperti refleks yang tak bisa dicegah, bahkan saat tekad sudah sekuat baja.
Ilmu di Balik Perubahan
Berbagai pendekatan telah dicoba untuk membantu orang menghentikan kebiasaan menggigit kuku. Salah satu yang paling terbukti secara ilmiah adalah Habit Reversal Training (HRT). Terapi ini melatih individu untuk mengenali situasi atau perasaan yang memicu perilaku, lalu menggantinya dengan tindakan alternatif—misalnya menggenggam bola stres atau menekuk jari ke telapak tangan.
Studi yang dipublikasikan di Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menemukan bahwa HRT berhasil meningkatkan panjang kuku secara signifikan dibanding metode lain. Terapi ini tak hanya memblokir tindakan, tapi juga membangun kesadaran tubuh dan kendali diri.
Pendekatan lain termasuk terapi kognitif-perilaku (CBT), penggunaan kuteks pahit, menjaga kuku tetap pendek dan rapi, serta menghindari situasi pemicu stres. Tapi satu hal yang disepakati para ahli: tidak ada metode instan. Butuh latihan, kesabaran, dan sering kali, pendampingan profesional.
Refleksi dari Kebiasaan Kecil
Di luar segala teori dan pendekatan klinis, kebiasaan menggigit kuku mengajarkan kita sesuatu yang lebih besar: bahwa tubuh dan pikiran saling terhubung dalam cara yang halus, nyaris tak terlihat. Satu gerakan kecil di ujung jari bisa menjadi cermin dari kondisi emosional yang rumit.
Ia bisa menjadi bentuk pelarian, pertahanan diri, atau bahkan panggilan tanpa suara bahwa ada hal-hal yang belum selesai di dalam diri.
Jadi, jika kamu melihat seseorang menggigit kuku—atau jika kamu sendiri sering melakukannya—cobalah berhenti sejenak, bukan hanya untuk menghentikan gerakan itu, tapi untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang aku rasakan?
Karena terkadang, jawaban yang paling jujur datang dari kebiasaan yang paling diam. (kam)
Editor : Hakam Alghivari