Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Ada Rahasia di Balik Ritual Minum Teh: Mengapa Kebiasaan Ini Membentuk Kepribadian Kita?

Hakam Alghivari • Rabu, 25 Juni 2025 | 06:54 WIB
Ilustrasi foto perempuan minum teh.
Ilustrasi foto perempuan minum teh.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – kita duduk tenang dengan secangkir teh, yang terjadi bukan hanya soal menikmati aroma dan rasanya. Ada proses yang lebih dalam dari itu: sebuah ritual kecil yang dapat mencetak pola berpikir dan pola emosi seseorang. Dalam berbagai kebudayaan, dari Jepang hingga Inggris, ritual minum teh bukan hanya soal menikmati minuman, tetapi juga soal memberi jeda bagi pikiran, memberi ruang bagi refleksi batin, dan bahkan membentuk struktur kepribadian.

Penelitian dari Journal of Positive Psychology (Mehta et al., 2019) menjelaskan bahwa ritual kecil semacam ini dapat memberi efek signifikan bagi kesehatan mental, termasuk dalam mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kemampuan mengatur emosi. Minum teh dengan penuh kesadaran (mindful tea drinking) membuat seseorang dapat lebih menerima perubahan, lebih tenang dalam menghadapi tekanan, dan lebih reflektif dalam membuat keputusan.

Minum Teh dan Efeknya pada Kepribadian

Seperti dijelaskan oleh Prof. Mark Williams dari Oxford Mindfulness Centre (dalam Journal of Clinical Psychology, 2011), pola makan dan minum dengan kesadaran penuh dapat merangsang area prefrontal cortex otak — area yang terkait dengan pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan kemampuan memusatkan perhatian.

Ritual minum teh, yang kerap dilakukan dalam suasana tenang dan penuh kesadaran, dapat memberi efek positif bagi perkembangan kepribadian, khususnya bagi mereka yang sedang berada dalam masa transisi atau penuh tekanan.

Contohnya, seseorang yang terbiasa memulai hari dengan teh hangat sambil memikirkan prioritas kerja dan nilai-nilai pribadi, cenderung tumbuh sebagai pribadi yang lebih tenang dan reflektif.

Mereka juga lebih dapat menerima kegagalan atau perubahan dengan lapang dada, dibandingkan dengan pribadi yang tidak pernah memberi ruang bagi momen hening semacam ini.

Teh dan Kecenderungan Berempati

Selain soal refleksi pribadi, ritual ini juga terkait erat dengan tingkat empati. Dalam sebuah penelitian dari Personality and Social Psychology Bulletin (Bargh et al., 2008), dijelaskan bahwa pengalaman sensasi fisik yang “hangat” — seperti memegang atau meminum secangkir teh — dapat memengaruhi persepsi dan perilaku sosial.

Partisipan yang diberi minuman hangat cenderung menilai orang lain dengan lebih positif dan terbuka, dibandingkan dengan yang memegang benda atau minuman dingin.

Temuan ini seolah menjawab alasan mengapa teh begitu erat dengan percakapan penuh makna, dari ritual minum teh Jepang hingga “afternoon tea” di Inggris. Ada efek psikologis dari sensasi hangat yang dapat membuat orang lebih terbuka, ramah, dan menerima.

Ritual Minum Teh sebagai Pola Disiplin Diri

Di sisi lain, ritual ini juga dapat membentuk pola disiplin dan daya fokus tinggi. Dalam sebuah artikel dari Frontiers in Psychology (Hölzel et al., 2011), dijelaskan bahwa latihan kesadaran kecil, termasuk dalam bentuk ritual makan atau minum, dapat memberi efek positif bagi area otak terkait kontrol impuls dan perencanaan.

Mereka yang dapat menghargai momen kecil dari sebuah ritual minum teh umumnya tumbuh sebagai pribadi yang lebih disiplin, dapat mengatur prioritas dengan baik, dan memiliki kemampuan kontrol diri yang kuat.

Kualitas ini sangat diperlukan bagi siapa pun yang sedang berada dalam masa transisi — dari bangku sekolah ke perkuliahan, dari masa lajang ke masa kerja, atau dari usia remaja ke usia dewasa.

Ritual ini bukan soal teh semata, tetapi soal membentuk pola pikir yang matang dan penuh kesadaran.

Secangkir Teh, Sebentuk Karakter

Saat semua terasa terburu-buru dan penuh tekanan, terkadang jawaban untuk memperbaiki pola pikir dan pola emosi datang dari tempat paling sederhana — dari secangkir teh hangat. Ritual kecil ini bukan hanya soal selera, tetapi soal memberi ruang bagi pribadi yang tumbuh dari kesadaran penuh.

Berbagai studi ilmiah dari jurnal-jurnal terpercaya menekankan bahwa ritual semacam ini dapat memberi efek positif bagi kesehatan mental, pola komunikasi, dan bahkan perkembangan karakter. Pada akhirnya, teh bukan hanya soal apa yang berada di dalam cangkir, tetapi juga soal siapa kita yang tumbuh dari setiap tegukannya.

Ritual ini dapat menjadi titik awal bagi siapa pun yang ingin tumbuh lebih matang, lebih reflektif, dan lebih siap menghadapi berbagai perubahan dalam hidup. (kam)

Editor : Hakam Alghivari
#minum teh di pagi hari #psikologi #kebiasaan #minum teh #kepribadian #ritual