Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Saat Istri Sakit, Risiko Perceraian Melonjak. Kok Bisa? Berikut Jurnal Penelitian Terbarunya!

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 20 Juni 2025 | 22:37 WIB

Angka Perceraian Lamongan, Didominasi Istri Ajukan Cerai
Angka Perceraian Lamongan, Didominasi Istri Ajukan Cerai

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sebuah penelitian terbaru menyoroti pola perceraian yang mengkhawatirkan di kalangan dewasa paruh baya, khususnya mereka yang berusia antara 50 hingga 64 tahun. Fenomena yang dikenal sebagai "perceraian perak" atau "silver splits" ini menunjukkan adanya pola gender yang mencolok: tingkat perceraian melonjak signifikan ketika sang istri mengalami sakit parah atau keterbatasan fisik, sementara status kesehatan suami tidak berdampak serupa pada stabilitas pernikahan.

Studi Journal of Marriage and Family yang diterbitkan pada tahun 2025 ini menganalisis data dari 25.542 pasangan heteroseksual di Eropa yang berusia 50 hingga 64 tahun, dikumpulkan selama 18 tahun (2004-2022). Hasil penelitian ini mengungkap ketidakseimbangan yang mencolok dalam bagaimana kesehatan memengaruhi kestabilan rumah tangga di usia lanjut, memunculkan kekhawatiran tentang peran gender, tanggung jawab perawatan, dan komitmen dalam hubungan di kemudian hari.

Kesehatan Istri dan Risiko Perceraian: Sebuah Ironi Janji Pernikahan Salah satu janji suci dalam pernikahan adalah: "...Untuk memiliki dan memegang dari hari ini dan seterusnya, dalam suka, dalam duka, dalam kaya, dalam miskin, dalam sakit dan dalam sehat..." Namun, temuan studi ini menunjukkan bahwa janji "dalam sakit dan dalam sehat" tampaknya memiliki kondisi yang sangat berbeda tergantung pada siapa yang jatuh sakit.

Para peneliti menemukan bahwa ketika kedua pasangan tetap dalam kondisi kesehatan yang baik, tingkat perceraian cenderung stabil. Demikian pula, jika suami yang jatuh sakit tetapi istri tetap sehat, kemungkinan perceraian tidak meningkat secara signifikan. Namun, polanya berubah drastis ketika istri yang jatuh sakit. Dalam pernikahan di mana istri mengalami penyakit serius atau keterbatasan aktivitas, tingkat perceraian secara statistik jauh lebih tinggi.

Hal ini mengindikasikan bahwa ketika penyakit istri mengganggu kemampuannya untuk mengelola rumah tangga atau memenuhi peran tradisionalnya, ketidakseimbangan sosial ini sangat mungkin merusak stabilitas pernikahan. Pola ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang harapan masyarakat terhadap peran gender dan beban perawatan yang seringkali jatuh lebih banyak pada bahu wanita.

Mendorong Penelitian Kualitatif Lebih Lanjut Para penulis studi tahun 2025 ini sendiri mengakui bahwa penelitian kualitatif lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya detail di balik pola ini. Ini berarti bahwa, meskipun data menunjukkan tren yang jelas, perlu ada eksplorasi mendalam melalui wawancara dan studi kasus untuk mengungkap alasan-alasan pribadi dan dinamika hubungan yang menyebabkan perceraian ini terjadi.

Fenomena "perceraian perak" memang tengah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai faktor lain juga berkontribusi pada tren ini, seperti harapan hidup yang lebih panjang, perubahan norma sosial terhadap perceraian, keinginan untuk pertumbuhan pribadi, hingga ketidakcocokan yang muncul setelah anak-anak dewasa dan mandiri. Namun, studi ini secara khusus menyoroti dimensi kesehatan istri sebagai pemicu utama perceraian di usia paruh baya, memberikan perspektif baru yang penting bagi pemahaman kita tentang kompleksitas hubungan pernikahan di fase kehidupan ini. (*)


Sumber Referensi:

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#cerai #suami #studi #penelitian #pernikahan #istri #fenomena #perceraian #perak