RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda mendengar pepatah "sekali selingkuh, selalu selingkuh"? Sebuah penelitian psikologi terbaru yang dibahas dalam Psychology Today mencoba menguak kebenaran di balik anggapan populer ini, dengan fokus pada konsistensi perilaku tidak jujur dari waktu ke waktu. Studi ini menemukan bukti kuat bahwa perilaku curang atau tidak jujur memang merupakan sifat kepribadian yang konsisten, bahkan bertahan hingga bertahun-tahun.
Studi “Cheat, cheat, repeat: On the consistency of dishonest behavior in structurally comparable situations” ini menganalisis data dari sekelompok besar sukarelawan. Para peneliti mengamati perilaku mereka dalam tiga tugas berbeda selama beberapa tahun, yang dirancang untuk menguji kejujuran dalam situasi yang sebanding secara struktural.
Hasil studi ini sangat mencolok: individu yang melakukan kecurangan atau ketidakjujuran dalam satu tugas menunjukkan kemungkinan tinggi untuk mengulang perilaku serupa dalam tugas-tugas berikutnya. Yang lebih mengejutkan, konsistensi dalam perilaku selingkuh ini tetap terlihat jelas bahkan pada tugas ketiga, yang dilakukan hampir tiga tahun setelah tugas-tugas sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa ketidakjujuran bukan sekadar respons situasional, melainkan memang bagian dari ciri kepribadian yang melekat dan stabil.
Hubungan dengan "Dark Factor" Personality (D-Factor), studi ini juga mengungkap adanya kaitan signifikan antara perilaku selingkuh yang konsisten dengan "faktor gelap" kepribadian, atau yang dikenal sebagai Dark Factor of Personality (D-Factor). D-Factor adalah konsep yang mencakup sembilan ciri kepribadian maladaptif yang seringkali tumpang tindih dan mencerminkan inti dari kecenderungan untuk memprioritaskan kepentingan diri sendiri di atas segalanya, bahkan dengan cara-cara yang tidak etis. Sembilan aspek dalam D-Factor meliputi:
- Egoisme: Kekhawatiran berlebihan terhadap kepentingan diri sendiri.
- Machiavellianisme: Manipulatif, eksploitatif, dan tidak peduli moral.
- Narsisme: Perasaan keunggulan, hak istimewa, dan kebutuhan akan kekaguman.
- Psikopati: Kurangnya empati, impulsivitas, dan perilaku antisosial.
- Amoralitas: Kurangnya pertimbangan moral atau prinsip etika.
- Kesombongan (Greed): Keinginan berlebihan untuk memiliki lebih banyak.
- Sadisme: Kesukaan menikmati penderitaan orang lain.
- Kejahatan (Spitefulness): Keinginan untuk merugikan orang lain bahkan jika merugikan diri sendiri.
- Pendidikan (Entitlement): Keyakinan bahwa seseorang berhak atas perlakuan istimewa.
Penemuan ini memperkuat pemahaman bahwa kecenderungan untuk berperilaku tidak jujur tidak muncul secara acak, melainkan berkaitan dengan struktur kepribadian seseorang, terutama pada individu yang menunjukkan ciri-ciri D-Factor yang tinggi.
Implikasi dan Pemahaman Lebih Lanjut Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi kita untuk memahami perilaku tidak jujur, baik dalam konteks pribadi maupun profesional. Konsistensi dalam perilaku curang, ditambah dengan kaitannya pada D-Factor, menunjukkan bahwa mengidentifikasi dan mengatasi akar penyebab perilaku tidak jujur mungkin memerlukan pendekatan yang lebih mendalam pada aspek kepribadian seseorang, bukan hanya mengandalkan perubahan situasi. Meskipun studi ini memberikan bukti kuat, kompleksitas sifat manusia tetap memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami interaksi antara kepribadian, lingkungan, dan keputusan moral secara lebih komprehensif.
Sumber Referensi:
Editor : Bhagas Dani Purwoko