RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tanaman bukan sekadar pelengkap dekorasi rumah atau penyejuk ruangan. Bagi sebagian orang, merawat tanaman justru menjadi aktivitas harian yang menghadirkan ketenangan, kebanggaan, dan bahkan makna emosional.
Menariknya, kebiasaan ini juga bisa menjadi jendela untuk memahami karakter dan kepribadian seseorang.
Psikologi populer menyebut bahwa apa yang kita rawat, pilih, dan beri perhatian dalam hidup sering kali mencerminkan siapa kita. Termasuk dalam hal ini, tanaman.
Dari jenis tanaman yang dipilih hingga cara merawatnya, semua bisa merefleksikan cara berpikir, tingkat sensitivitas emosional, hingga kebutuhan psikologis seseorang.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa merawat tanaman berkaitan erat dengan aspek kepribadian positif seperti rasa peduli, mindfulness, dan kemampuan mengelola stres. Bahkan, kecenderungan terhadap jenis tanaman tertentu pun bisa mencerminkan tipe kepribadian dalam teori psikologi modern seperti Big Five.
Berikut lima sisi psikologis yang mungkin dimiliki seseorang yang gemar merawat tanaman, berdasarkan hasil riset ilmiah dan studi terpercaya:
1. Menumbuhkan Rasa Peduli dan Tanggung Jawab
Menurut studi yang dimuat dalam jurnal Urban Forestry & Urban Greening, merawat tanaman dapat menumbuhkan nurturing instinct, yakni naluri untuk memberi dan melindungi—serupa saat merawat anak atau hewan peliharaan. Proses ini melatih empati serta konsistensi terhadap makhluk hidup lain
Proses menyiram, memindahkan ke pot baru, hingga memperhatikan detail daun yang menguning, melatih rasa empati dan keterlibatan emosional terhadap makhluk hidup lain.
Penelitian ini juga mencatat bahwa orang yang memiliki rutinitas merawat tanaman cenderung memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan mampu membangun hubungan interpersonal yang lebih stabil.
Karena setiap tanaman yang tumbuh sehat, secara tidak langsung menjadi hasil nyata dari konsistensi dan perhatian seseorang.
2. Memperkuat Mindfulness dan Mengurangi Stres
Dilansir dari laporan riset University of Reading dan Royal Horticultural Society di Inggris, kehadiran tanaman dalam ruangan terbukti membantu mengurangi tingkat stres dan meningkatkan konsentrasi.
Interaksi dengan tanaman mengurangi stres dan menurunkan kadar kortisol. Studi terhadap 520 responden menunjukkan kehadiran tanaman indoor memperbaiki suasana hati dan fokus kerja.
Studi serupa dari Ohio State University juga menemukan bahwa kegiatan merawat tanaman bisa menurunkan kadar kortisol dalam tubuh, hormon yang berperan besar dalam menimbulkan stres. Aktivitas ini memberikan efek terapeutik yang mirip dengan meditasi, terutama saat dilakukan secara rutin.
3. Membangun Rasa Pencapaian dan Kepercayaan Diri
Menurut artikel dari WebMD, melihat tanaman tumbuh sehat menjadi salah satu bentuk validasi visual terhadap usaha dan konsistensi diri.
Ketika seseorang berhasil menjaga tanaman tetap hidup, apalagi sampai berbunga atau tumbuh tunas baru, muncul rasa puas dan bangga—yang pada gilirannya memperkuat self-esteem.
Ini terutama dirasakan oleh mereka yang memiliki rutinitas harian yang penuh tekanan. Merawat tanaman menjadi momen jeda yang produktif dan memberi umpan balik positif terhadap kapasitas dirinya sebagai seseorang yang mampu.
4. Pilihan Tanaman Bisa Cerminkan Tipe Kepribadian
Menurut analisis yang dimuat dalam Psychology Today dan beberapa survei berbasis teori Big Five Personality Traits, pilihan tanaman seseorang bisa mencerminkan preferensi psikologis tertentu. Misalnya:
- Individu dengan sifat neurotik cenderung menyukai tanaman yang sulit dirawat, seperti fiddle-leaf fig, karena memberi tantangan dan dinamika emosional.
- Sementara mereka yang conscientious atau penuh pertimbangan, lebih memilih tanaman seperti snake plant atau peace lily—yang mudah dirawat dan cocok untuk orang dengan pola hidup terstruktur.
- Tipe ekstrovert lebih menyukai tanaman besar dan mencolok seperti monstera atau palm karena mencerminkan kebutuhan untuk berekspresi.
5. Terhubung secara Emosional dengan Alam
Menurut penelitian dari University of Exeter, banyak orang yang menganggap tanaman sebagai bagian dari ruang emosional mereka. Ketika tanaman layu atau rusak, ada rasa kehilangan; saat tumbuh subur, muncul perasaan bahagia.
Hal ini mencerminkan biophilic personality, yaitu kecenderungan seseorang untuk merasa terhubung secara emosional dengan alam.
Dalam konteks ini, merawat tanaman bisa menunjukkan sensitivitas emosional yang tinggi, kebutuhan akan kehadiran makhluk hidup lain di sekitarnya, serta pola keterikatan non-verbal yang sehat. Hal ini banyak ditemukan pada individu dengan karakter reflektif, peka, dan penuh empati.
Kesimpulan
Kebiasaan merawat tanaman lebih dari sekadar aktivitas fisik. Di baliknya, ada proses pembentukan karakter, penguatan emosional, dan cerminan dari kepribadian yang mendalam. Baik sebagai hobi, terapi, atau bentuk ekspresi diri, merawat tanaman membantu seseorang lebih sadar, peduli, dan selaras dengan dirinya sendiri.
Dalam dunia yang serba cepat dan digital, kembali ke aktivitas sederhana seperti merawat tanaman bisa menjadi cara ampuh untuk kembali menemukan keheningan dan kedekatan dengan alam—yang sekaligus membuka ruang untuk mengenal lebih jauh siapa diri kita sebenarnya. (kam)
Editor : Hakam Alghivari